logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 Desember 2002 Sala  
Line

Ada yang Selintutan soal Dana Hibah Wonogiri

WONOGIRI-Penyelenggaraan rapat sosialisasi dan pelatihan komite pendidikan program peningkatan mutu sekolah di Pemkab Wonogiri, Senin (16/12), membuat Bupati H Begug Poernomosidi SH kecewa.

Sebab, walau telah molor setengah jam dari jadwal yang ditentukan, peserta rapat belum banyak yang datang.

Melihat ketidakdisiplinan itu, Bupati memilih meninggalkan ruang rapat dan berpindah ke acara di pendapa kabupaten untuk membuka penarikan undian tabungan Bima Bank BPD Jateng.

Rapat yang membahas masalah program peningkatan mutu sekolah berkait dengan hibah dana dari Belanda, pembukaannya diserahkan kepada asisten Sekda.

Wonogiri menerima hibah bantuan Rp 4,68 miliar untuk proyek jaring pengaman sosial (JPS) bidang pendidikan bagi 52 SD dan SLTP. Setiap sekolah mendapatkan Rp 90 juta sebagai dana bantuan operasional (DBO).

Kejadian itu telah membuat Bupati kecewa. Apalagi ketika mendapati Kepala Dinas Pendidikan Wonogiri Drs Roeswardiyatmo MPd tidak datang dan disebutkan dia sedang bertugas ke Jakarta tanpa lebih dulu pamit atau memberitahukan kepergiannya itu kepada Bupati.

Tidak Profesional

Menurut Begug, sekarang era otonomi daerah sehingga boleh saja kepala dinas dan pemimpin instansi bertugas ke Jakarta. ''Tapi jangan lupa memberi tahu Bupati.''

Dari kejadian itu, Bupati menangkap gelagat negatif tentang adanya indikasi tindakan dhelikan dan selintutan. Cara-cara seperti itu dinilainya tidak profesional dan telah meninggalkan sikap dislipin.

''Saya paling tidak suka dengan cara-cara ini. Jangan ada yang selintutan dan dhelikan. Untuk kali ini, saya mencoba mengingatkannya,'' tegasnya.

Bupati tidak senang kalau kemudian ada yang bersikap atau berprilaku seperti itu. Apalagi kalau kelak sampai ada yang tega memotong dana anggarannya. Dana anggaran harus diserahkan utuh, jangan ada yang memotong seperser pun.

Diingatkan, dana hibah itu didapat berkat perjuangan Bupati. ''Tidak semua kabupaten mendapatkan. Di Jateng hanya ada lima kabupaten yang mendapat, salah satunya Wonogiri,'' katanya.

Dia mengingatkan, prilaku seperti itu jangan diulang, sebagaimana pada kasus bantuan proyek air bersih dari Departemen Kimpraswil di Desa Setren, Kecamatan Slogohimo.

''Itu yang mengusulkan saya. Tapi ketika direalisasi, saya ditinggalkan dengan cara dhelikan dan baru tahu ketika proyek itu menemui kesulitan saat terjadi masalah karena diprotes rakyat. Silakan saja itu yang menggarap orang lain, tapi tolong saya diberi tahu. Jangan diberi tahu setelah ada masalah,'' katanya.(P27-17c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA