logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 Desember 2002 Sala  
Line

Larung Ageng Getek Jaka Tingkir (1)

''Pak, Sing Ijo Mau Ratu, to?''

SEJAK pukul 07.00, Minggu (15/12), orang-orang sudah memadati pinggiran Sungai Bengawan Sala di depan Pesanggrahan Langenharjo, Sukoharjo. Dengan sabar mereka menanti keberangkatan prosesi Larung Ageng Getek Jaka Tingkir yang baru dimulai pukul 10.00.

Begitu Gusti Raden Mas (GRM) Paundrakarna Sukmaputra Jiwanagara yang memeragakan Jaka Tingkir menaiki getek yang dihiasi patung dua ekor buaya di depan dan belakang, tepuk tangan serempak terdengar dari pinggir sungai.

Sepanjang rute Langenharjo menuju Butuh, Plupuh, Sragen dengan persinggahan di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Sala, orang-orang yang berkelompok di kanan-kiri sungai hampir selalu memberikan sambutan meriah.

Di atas geteknya, GRM Paundra duduk gagah dengan dipayungi payung kebesaran. Berbaju kebesaran sang raja berwarna hijau, berblangkon, dipadu dengan celana hitam semi-panjang (tepat di bawah lutut).

Dengan kain batik yang dililitkan pada pinggang tempat terselipnya sebilah keris, cucu Bung Karno dari Sukmawati Soekarnoputri itu tampak sangat tampan.

Warna bajunya yang hijau juga menjadi semakin cemerlang begitu dipadu dengan pakaian yang dikenakan dua pengiring yang duduk di kanan-kirinya.

Yakni, peraga Ki Ageng Banyubiru (berbaju biru) dan Ki Ageng Majasto (berbaju coklat dengan coral bunga warna ungu dan keemasan). Apalagi, dua pengayuh getek berpakaian sangat sederhana.

Tangan kanannya memegang satang (dayung-Red), sedangkan tangan kirinya terlihat erat menggenggam Kiai Tawa, sebatang kayu tawa dari Gunung Lawu pemberian KRHT Kusuma Tanoyo seusai nyekar di makam Kiai Ageng Butuh, sehari sebelumnya.

Si pemberi memang telah wanti-wanti agar kayu yang jadi piandel itu tidak boleh sebentar saja lepas dari tangannya.

Getek Jaka Tingkir bergerak setelah semua perahu pengiringnya telah terisi penumpang. Di depannya, dua perahu dari Tim SAR yang bergerak cepat menyisir medan sungai yang akan dilalui getek itu.

Tepat di belakang getek tersebut, berurutan perahu dengan Canthik Rajamala yang diisi penabuh gamelan pencon dan empat gadis pereman para putri keraton.

Selanjutnya urutan prosesi adalah perahu prajurit Keraton Surakarta, Tamtama (berseragam hitam dengan sebilah kelewang panjang), perahu prajurit Prawiroanom (seragam hijau), perahu prajurit Jayengastro (seragam biru), perahu prajurit Sorogeni (seragam merah).

Raja Betulan

Sepanjang menyusuri sungai, bebunyian musik dari gamelan pencon dan tetabuhan perkusi hampir selalu terdengar tanpa jeda.

Selain untuk memacu semangat para pendayung di semua perahu, sering sekali kelompok orang yang berkumpul di pinggir sungai selalu meminta dibunyikannya musik tersebut.

Setiap kali para penabuh yang kelelahan rehat sejenak, sering sekali terdengar teriakan, ''Hei, gonge ditabuh, to...''

Tapi, bukan berarti semua orang mengenal sosok peraga Jaka Tingkir itu. Contohnya, ketika prosesi melintasi daerah Ngelom, Sroyo, Karanganyar, ada seorang ibu muda yang bertanya pada seorang awak perahu yang membawa prajurit tamtama. ''Pak, sing ijo mau ratu, to?''(Saroni Asikin, Won Poerwono/bersambung-51)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA