logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 Desember 2002 Sala  
Line

Lha..... Iki

Sisi Positif Peristiwa Kerusuhan di Solo

PERISTIWA apa saja, meski tampaknya merugikan, biasanya memiliki sisi positif. Begitu pula amuk massa di Kota Bengawan. Menjelang kejatuhan Soeharto, pertengahan Mei 1998, kota ini hangus dibakar orang-orang tak bertanggung jawab. Setahun kemudian, menjelang kenaikan Megawati ke kursi kepresidenan, lagi-lagi terjadi amuk massa yang membumihanguskan Solo.

Belasan bangunan dan gedung megah milik pemerintah dan swasta hangus dan jadi abu. Harta benda dan nyawa hilang sia-sia. Jadi, apa sisi positifnya?

''Pembakaran itu kita ambil hikmahnya saja. Masyarakat sekarang jadi lebih suka menabung uang di bank daripada menyimpan di rumah,'' ujar Kepala Bidang Pemasaran PT Bank Central Asia Tbk Cabang Slamet Riyadi Solo, Sindu Surya, di sela-sela penarikan undian ''Gebyar Hadiah Terbesar'' Tahapan BCA periode Agustus 2002-Maret 2003 di Hotel Novotel Solo, Sabtu lalu.

Dalam amuk massa beberapa tahun lalu, BCA merugi tak sedikit. Sebuah gedung megah bank itu di Jalan Slamet Riyadi luluh lantak dilalap api. Kantor Wilayah BCA untuk Jawa Tengah, yang sebelumnya dipusatkan di Solo, dipindah ke Semarang.

Dia mengemukakan setelah pembakaran itu, tabungan Tahapan BCA untuk wilayah Solo justru meningkat. Tanpa menyebut angka peningkatan riilnya, Sindu menyatakan Solo memang tidak hanya barometer untuk bidang politik tetapi juga ekonomi.

Dia mengakui peredaran uang di kota ini setiap hari cukup besar. ''Ya, kalau dengan Semarang, Solo tidak kalah,'' katanya.

Jika segi positifnya orang menjadi lebih suka menabung di bank, apa segi negatif dari peristiwa pembakaran terhadap dunia perbankan?

''Dampak negatifnya? Banyak juga uang diparkir di luar negeri,'' kata dia.(Subakti A Sidik-51g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA