logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 Desember 2002 Sala  
Line

Serambi

Penyandang Cacat Perlu Diperhatikan

PERLAKUAN terhadap penyandang cacat selalu berbeda dari mereka yang mempunyai tubuh normal. Kendati mereka bisa meraih prestasi yang sama di kancah olahraga, misalnya, penghargaan yang diberikan juga berbeda dan bahkan mencolok.

Ketua Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Indonesia Seny Marbun mengungkapkan hal tersebut saat atlet binaannya yang berhasil meraih medali emas dalam pesta Olahraga Penyandang Cacat Asia Pasific (FESPIC) di Busan Korsel, menerima bonus dari BRI unit Pasar Nongko Solo kemarin (16/12)

Apa kesan Anda mengenai bonus dari BRI?

Sejak dulu memang para penyandang cacat seperti dianaktirikan. Padahal perjuangan mereka di arena pertandingan sama gigihnya seperti orang tidak cacat.

Penghargaan bonus untuk atlet peraih emas dari BRI kiranya bisa diikuti oleh BUMN atau pengusaha lain. Terlebih pemberian ini diberikan pada bulan Desember yang merupakan hari Internasional Penyandang Cacat, maka apa yang dirintis oleh BRI merupakan wujud dari kepedulian masyarakat luas terhadap eksistensi penyandang cacat.

Bagaimana dengan KONI ?

Dalam sejarah perjalanan BPOC, baru pertama kali pemerintah melalui KONI pusat memberikan penghargaan bagi atlet cacat berupa bonus uang.

Tetapi penghargaan bonus yang diterima tidak sepadan dengan mereka yang tidak cacat pada event yang sama.

Bedanya?

Di Asia Games Busan, Korsel, atlet Indonesia yang berhasil meraih emas mendapat bonus ratusan juta rupiah, tetapi atlet penyandang cacat yang berkiprah di event yang lebih bergengsi (Asia Pasific) di tempat yang sama hanya mendapat Rp 25 juta.

Seharusnya bagaimana?

KONI pusat seharusnya menyadari, atlet Asia Games yang dikirim sebanyak 200 atlet lebih, sebelumnya menghabiskan dana di pusat pelatihan hingga miliaran rupiah, saat berada di Busan juga menghabiskan dana cukup besar.

Sementara atlet penyandang cacat hanya berkekuatan 34 atlet bisa meraih 3 emas, 2 perak dan 3 perunggu, seharusnya penghargaan juga sama.

Karena saat pengibaran bendara, lagu Indonesia Raya juga dikumandangkan.(Bambang Seto-51)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA