
| Selasa, 17 Desember 2002 | Olahraga |
Pelatih Asing Harus DitiruJAKARTA-Pelatih tinju Indonesia harus mampu meniru pelatih asing dalam membina anak didiknya. Melatih bukanlah sekadar memerintah dan memberikan aba-aba kepada atletnya. Salah satu unsur penting dalam kepelatihan adalah pendekatan terhadap atlet. Demikian dikemukakan Penasihat PB Pertina Drs Didit Soedijoto SH semalam kepada Suara Merdeka di Jakarta, menanggapi terpilihnya Wiem Gomies sebagai pelatih kepala pelatnas tinju SEA Games 2003. ''Salah satu pelatih kita yang sukses adalah Daniel Bahari. Dia mampu menciptakan banyak juara nasional. Misalnya munculnya Nemo Bahari dan Pino Bahari. Sayang, dia belum mampu menghasilkan juara Olimpiade,'' ungkapnya. Dia menyebutkan, Daniel Bahari memerlukan sepuluh tahun untuk memoles Nemo Bahari hingga bisa tampil di Olimpiade Atlanta 1996. Sayang, anak kandungnya tersebut langsung kalah di babak awal oleh De Brito dari Brasil. ''Kebetulan ketika itu saya jadi manajer tim ke Atlanta. Saya menyayangkan kekalahan Nemo. Sebulan sebelum itu, di Kuba dia mengalahkan De Brito,'' ungkapnya. Dia menyebutkan, di Olimpiade Atlanta, Hendrik Simangunsong yang turun di kelas 71 kg berhasil menang sekali. Demikian pula dengan Hermensen Ballo di kelas 51 kg. Lapaene Masara yang turun di kelas 48 kg berhasil menang dua kali. Ketiga petinju tersebut ditangani oleh Isidro Trutman dari Kuba. Lebih Baik ''Terlepas dari lawan yang dihadapi Nemo, prestasi tiga petinju yang ditangani Trutman lebih baik. Padahal, saat itu Trutman baru melatih dua tahun. Daniel sudah sepuluh tahun melatih Nemo. Ini artinya ada kesenjangan kualitas kepelatihan mereka berdua,'' papar Didit. Dia menambahkan, keberhasilan Pino Bahari menjadi juara Asian Games 1990 di Beijing juga berkat peran dari Kruger. Pelatih asal Jerman itu mampu mendidik anak Daniel Bahari tersebut tampil dengan teknik dan mental sempurna. ''Saya lihat pelatih Indonesia belum sepenuhnya menguasai psikologi atlet. Demikian pula dengan human relation kepada atletnya. Ini yang harus diperbaiki oleh pelatih kita,'' sambungnya. Banyak atlet, lanjutnya, sering mengeluh karena faktor human relation dari pelatihnya kurang bagus. Pelatih kadang juga tidak paham dan tidak menyelami jiwa atletnya. ''Dari pengalaman saya menggeluti tinju Indonesia, banyak pelatih asing yang dikontrak PB Pertina bagus dari segi itu. Dia menguasai psikologi melatih. Ini mengingatkan saya pada Zulkaryono Arifien. Dia banyak dipuji anak asuhnya karena dua hal tersebut,'' tambahnya. (D3-22e) |