
| Selasa, 17 Desember 2002 | Olahraga |
Atlet Penyandang Cacat Terima Bonus dari BRISOLO-Dua atlet cacat yang bertanding di cabang bulutangkis Fespic Games VIII Busan, baru-baru ini, Imam Kunantoro dan Drs Surasno Handoyo berhasil meraih medali emas. Hasil itu membuat mereka mendapat bonus dari BRI unit Pasar Nongko Solo. Sebelum itu, mereka menerima bonus dari KONI pusat. ''Pemberian bonus selain merupakan bentuk kepedulian pada para penyandang cacat yang mengharumkan nama Indonesia di forum internasional, juga bertepatan dengan HUT Ke-107 BRI,'' kata Kepala unit BRI Pasar Nongko Soekirno. Dia berharap, bonus tersebut tidak dinilai dari jumlahnya. ''Kami sangat berharap, perhatian kepada para penyandang cacat bisa diikuti oleh pengusaha atau BUMN lain,'' harapnya. Penyerahan bingkisan dan uang pembinaan berlangsung di ruang tamu BRI setempat, kemarin (16/12). ''Nilai nominal uang tidak perlu diketahui, karena tidak seberapa,'' pintanya. Dua atlet asal Yogyakarta tersebut, bersama-sama 34 atlet lain dikirim oleh BPOC Indonesia mengikuti Pesta Olahraga Penyandang Cacat Asia Pasific (Fespic Games) yang diikuti 44 negara di Busan pada 26 Oktober hingga 1 November. Tujuh Cabang Kontingen Indonesia mengikuti tujuh cabang, yaitu bulutangkis, angkat berat, renang, atletik, low ball, tenis meja, dan tenis lapangan dengan kursi roda. Mereka meraih tiga medali emas, lewat Mumat Muhamad (Jabar) di lari 5.000 meter, Imam Kumentoro di tunggal bulutangkis, dan pasangan Imam/Surasno di ganda putra bulutangkis. Dua medali perak diraih oleh Stefen Sualang (Sulut) di renang gaya bebas 100 meter dan Muamat di lari 1.500 meter. Perunggu dihasilkan Esep Supendi, I Gede Nyoman Oke, dan Arie Kurniawan . Ketua BPOC Seny Marbun menyebutkan, sebelumnya para atlet yang meraih medali mendapat bonus dari KONI pusat. Peraih emas perorangan menerima Rp 25 juta. Atlet peraih emas beregu memperoleh bonus Rp 30 juta. Peraih perak menerima Rp 10 juta dan peraih perunggu memperoleh Rp 5 juta. ''Dalam sejarah perjalanan BPOC, baru kali pertama pemerintah melalui KONI memberikan penghargaan kepada penyandang cacat,'' jelasnya. Dia mengakui, bonus dari KONI masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penghargaan pada para atlet normal. Padahal, kemegahan dan kebanggaan ketika bendera merah putih berkibar tidaklah berbeda. Mereka juga sama-sama mengharumkan nama Indonesia di forum internasional. ''Kami sangat berharap, selanjutnya pemerintah lebih memperhatikan para penyandang cacat,'' ujarnya. (P44-22e) |