
| Selasa, 17 Desember 2002 | Olahraga |
Emmerson Leao Sukses Bangkitkan SantosRIO DE JANEIRO-Bagi sebagian besar orang yang merasakan atmosfer sepakbola dunia pada 1960-an, nama Santos pastilah terngiang-ngiang di telinga mereka. Sebab, klub itu merupakan salah satu tim terbaik dunia berkat kecemerlangan Pele. Setelah legenda sepakbola Brasil itu meninggalkan klub pada 1973, mereka kembali menjadi sebuah tim yang hanya menonjol di tingkat provinsi. Setelah kejayaan pada 1960-an, mereka hanya bisa menjuarai dua turnamen regional dan kompetisi yang relatif kurang bergengsi, Piala Conmebol. Kini, mereka kembali merebut gelar juara Brasil berkat sebuah tim yang berintikan pemain dengan rata-rata usia di bawah 23 tahun dan ditangani salah satu pelatih temperamental, Emerson Leao. Pada pertarungan perebutan gelar juara yang mereka menangi, Minggu (Senin kemarin WIB) dengan skor 3-2 atas Corinthians merupakan tipikal pertandingan yang biasa dimainkannya. Dalam partai tersebut, Leao berterik-teriak dan mengomel di pinggir lapangan, bahkan akhirnya dia harus meninggalkan tempat karena diusir wasit. Namun, keadaan itu tak mengurangi semangat tempur tim. Robinho Bahkan penyerang mereka yang berusia 18 tahun, Robinho tetap bermain mengesankan seperti biasanya. Dia menerobos pertahanan lawan untuk mencetak satu gol dan merancang dua gol lain. Kecerdikan pemain itu sering disamakan dengan Garrincha, pemain sayap yang menjadi salah satu bintang negeri itu pada periode 50-an dan 60-an. Namun, dia juga biasa melakukan gerakan pura-pura untuk memprovokasi bek yang menjaganya. Mantan pemain nasional dan AS Roma, Roberto Falcao, yang kini menjadi komentator bagi stasiun televisi Globo, menghabiskan hampir sepanjang masa jeda untuk menghitung berapa kali Robinho membuat gerakan pura-pura untuk mengecoh pengawalnya, Rogerio. Lewat gerakan lambat, terlihat delapan kali dia mampu mengecoh Rogerio. Untuk menghambat gerakannya, Rogerio juga terpaksa melakukan pelanggaran di daerah terlarang. Tendangan penalti yang dilakukan Robinho berhasil menjebol gawang. Keterampilan Robinho merupakan tipikal gaya Santos yang berani, yang telah memberikan banyak ''udara segar'' yang dibutuhkan sepakbola dalam negeri Brasil untuk ''bernapas''. Pemain tengah berusia 17 tahun, Diego, digembar-gemborkan merupakan pemain Liga Brasil paling prospektif. Dalam pertandingan melawan Corinthians, Diego tetap dimainkan meskipun terpincang-pincang karena cedera paha, Intimidasi Sekalipun Brasil berhasil merebut gelar juara dunia untuk kali kelima, sepakbola dalam negeri mereka relatif memprihatinkan, akibat kepindahan pemain-pemain topnya ke klub-klub Eropa. Organisasi mereka juga kacau. Budaya kekerasan pun tumbuh di lapangan. Santos harus berjuang keras menghadapi intimidasi luar biasa pada saat semifinal melawan Gremio. Penjaga gawangnya Danrlei, sampai-sampai mengingatkan Robinho untuk berhati-hati. Sebab, kakinya bisa patah akibat kemungkinan kemarahan pemain-pemain belakang lawan jika dia tetap nekat bermain indah hingga bek penjaganya tampak ''bodoh''. Sukses Santos benar-benar sebuah kejuatan. Tim tersebut memulai tahun ini dengan kesulitan keuangan untuk mengontrak pemain-pemain populer. Terpaksa mereka menggunakan stok pemain-pemain mudanya. ''Sungguh mengagumkan melihat begitu banyak pemain muda muncul,'' kata Leao, yang telah memperbaiki lagi karier kepelatihannya karena prestasi tersebut. Delapan belas bulan lalu, mantan kiper timnas di Piala Dunia 1974 dan 1978 itu dipecat mendadak dari kursinya sebagai pelatih Brasil setelah penampilan buruk anak asuhnya dalam Piala Konfederasi. Tim yang dia bawa kalah 0-1 dari Australia. Pelatih itu kini berharap bisa mengasuh Santos paling tidak enam bulan lagi dan merebut Piala Libertadores. Piala tersebut merupakan supremasi tertinggi bagi kompetisi antarklub di Amerika Selatan. Gelar tersebut terakhir direbut Santos pada 1963. Berikut ini daftar juara Brasil sejak kompetisi tingkat nasional rutin digelar pada 1971: 1971 - Atletico Mineiro 1972 - Palmeiras 1973 - Palmeiras 1974 - Vasco da Gama 1975 - Internacional 1976 - Internacional 1977 - Sao Paulo 1978 - Guarani 1979 - Internacional 1980 - Flamengo 1981 - Gremio 1982 - Flamengo 1983 - Flamengo 1984 - Fluminense 1985 - Coritiba 1986 - Sao Paulo 1987 - Flamengo/Sport Recife * 1988 - Bahia 1989 - Vasco da Gama 1990 - Corinthians 1991 - Sao Paulo 1992 - Flamengo 1993 - Palmeiras 1994 - Palmeiras 1995 - Botafogo 1996 - Gremio 1997 - Vasco da Gama 1998 - Corinthians 1999 - Corinthians 2000 - Vasco da Gama 2001 - Atletico Paranaense 2002 - Santos (rtr,tok-22e) |