logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 Desember 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Rumah Roti Habiskan 60 Kg Telur

SUASANA perayaan untuk memperingati Natal atau kelahiran Yesus Kristus sudah terasa di sejumlah hotel dan pusat perbelanjaan di Semarang. Pengelola hotel dan swalayan berlomba berkreasi membuat pajangan atau hiasan dengan berbagai macam bentuk.

Hotel Grand Candi Jalan Sisingamangaraja memajang hiasan unik berupa ginger home (rumah jahe) berbahan baku utama roti jahe.

Hiasan berukuran 4 x 5 m dengan tinggi 4 m itu menghabiskan sedikitnya 75 kg tepung terigu, 25 kg gula halus, 60 kg telur, dan 2 kg kayu manis/jahe .

Bahan-bahan itu belum termasuk hiasan lain seperti lampu, pernik-pernik aksesori natal.

Dinding rumah itu dibuat dari roti berbentuk susunan batu bata empat persegi panjang berwarna cokelat muda yang menambah kesan teduh. Apalagi di sekitar rumah itu diberi tebaran salju dari kapas putih.

Untuk menambah ''hidup'' suasana Natal, di halaman rumah roti dipasang pohon Natal kecil dan beberapa pohon palem.

Bagaimana cara membuat rumah roti jahe ini? Ternyata cukup melelahkan. Pontjo Adi Wibowo, pastry chef hotel itu, pembuat roti untuk hiasan tersebut, menuturkan mulai pembuatan roti hingga pemasangan dekorasi butuh waktu sekitar satu bulan dan melibatkan 10 orang.

''Yang paling lama membuat rotinya karena menggunakan teknik tersendiri agar bisa tahan lama,'' ujar dia, kemarin.

Dua Versi

Apa hubungan rumah roti jahe dan Natal? Pontjo menuturkan sampai saat ini masih ada dua versi. Pertama, kota Betlehem, tempat kelahiran Yesus Kristus dalam bahasa Ibrani, berarti rumah roti.

''Karena itu masyarakat Kristen di Jerman sering menyemarakkan perayaan Natal dengan membuat rumah roti jahe, selain memajang pohon Natal.''

Kedua, ada kisah di sebuah desa di sebuah negara terpencil di Jerman seorang cewek kecil tersesat ke hutan. Untuk menandai jalan yang dilewatinya dia menaburkan roti jahe di sepanjang perjalanan. Roti yang ditebarkan dengan maksud agar tidak tersesat ternyata habis dimakan burung.

Akibatnya, dia terperangkap berminggu-minggu di sebuah rumah nenek jahat yang juga terbuat dari roti. Bocah malang itu akhirnya diselamatkan seorang pangeran yang membawanya pergi dari rumah roti itu berkat permohon doanya kepada Tuhan.

''Kisah ini biasanya diceritakan kepada murid sekolah minggu di gereja-gereja. Berdasar dua cerita inilah roti ini kami buat sebab di Indonesia jarang yang merayakan Natal dengan membuat rumah roti.''

Roti itu memang bukan untuk dimakan. ''Soalnya kami menggunakan bahan pengawet agar roti bisa bertahan sebulan dalam masa Natal tahun ini. Tentu saja tidak aman dimakan,'' tutur dia. (Arie Widiarto-13g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA