logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 Desember 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

96 Desa di Grobogan Endemis Tikus

GROBOGAN- Sekitar 96 desa di Kabupaten Grobogan dikategorikan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan Kehutanan sebagai daerah endemis tikus. Sebab, pada setiap tahun hama perusak tanaman pertanian itu selalu didapati merusak tanaman padi dan palawija di sejumlah desa tersebut.

''Karena itu, kelompok tani di desa-desa rawan tikus harus tanggap dan terus-menerus memprogramkan penggropyokan massal dengan menggunakan emposan dan peralatan lain. Tanpa itu tikus sulit diberantas,'' ungkap Kasubdin Pertanian Tanaman Pangan Ir Heru Tamtomo, Senin (16/12).

Seperti diberitakan sebelumnya, sekitar tujuh hektare tanaman padi siap panen di Desa Pengantin, Kecamatan Klambu dan lima hektare tanaman berumur muda di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan mati akibat serangan tikus. Selain itu, 138 hektare tanaman yang sama di daerah endemis tikus mengalami rusak berat dan ringan.

Sejumlah desa endemis tikus itu antara lain berada di Kecamatan Godong (14 desa), Karangrayung (12 desa), Gubug (15 desa), Tegowanu (7 desa), Tanggungharjo (5 desa), Kedungjati (5 desa), Brati (7 desa), Purwodadi (10 desa), Penawangan (14 desa), dan Klambu (7 desa).

Dari sejumlah desa itu yang dikategorikan paling rawan adalah Kecamatan Brati, Penawangan, Klambu, dan Godong. Sebab sebelum tanaman lain terserang, tanaman padi di daerah itu lebih dulu menjadi sasaran serangan. Bahkan di Penawangan, Menduran di Brati, dan Pulorejo di Purwodadi kerap kali merepotkan petani lantaran frekwensi serangan tinggi.

''Sekali menyerang, setengah hektare tanaman padi langsung habis.'' Dia mengemukakan, daerah endemis tikus selalu berada tidak jauh dari tanggul-tanggul saluran irigasi teknis, sungai, dan bendungan. Berdasarkan penelitian dinas teknis, tikus perusak tanaman itu lebih banyak membuat sarang untuk berkembang biak di tanggul-tanggul dengan membuat lubang-lubang kecil.

Satu lubang, ujar Kasubdin Pertanian Tanaman Pangan, rata-rata berisi 5-10 ekor tikus. Bahkan kadang lebih. Hama itu cepat berkembang biak karena pada setiap musim tanam tersedia makanan. Hal itu akibat ada pola tanam yang disepakati dinas teknis dan kelompok tani tidak diindahkan petani. Bahkan mereka yang berada di dekat lokasi pembuangan saluran irigasi teknis, selalu tanam lebih awal tanpa memedulikan keselamatan tanaman. Padahal tanaman seperti itu merangsang tikus untuk menyerang.

Selain di beberapa tempat, petani di Grobogan dalam setahun tidak hanya dua kali tanam padi. Namun tiga kali, sehingga menyebabkan sepanjang waktu makanan untuk hama itu tersedia. Akibatnya, tikus di daerah tersebut berkembang biak cepat.(A23-73j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA