
| Selasa, 17 Desember 2002 | Internasional |
''Die Another Day'' Musuh Bersama KoreaSEOUL - Korea Utara dan Selatan, musuh bebuyutan selama setengah abad pada batas akhir Perang Dingin, menemukan musuh bersama dalam James Bond dan petualangan terakhir 007, ''Die Another Day''. Film MGM yang dibintangi Pierce Brosnan dan Halle Berry itu menjadi sorotan setelah ruang obrolan Internet menyebarkan ke seluruh dunia, adegan-adegan yang dianggap ofensif di Korea Selatan. Film tersebut baru akan diputar di bioskop-bioskop Seoul pada akhir tahun ini. Namun kritik-kritik lebih ditujukan pada preview film tersebut untuk media dan mengundang tamu kemarin di Seoul. ''Adegan tersebut bagus untuk satu film 007,'' kata Choi Hyung-min, seorang pemuda yang ikut menyaksikan pemutaran perdana film itu. Yang membuat dia merasa sangat tidak enak adalah suatu adegan di mana seorang anak Korea Utara membunuh ayahnya, suatu tabu mengerikan dalam masyarakat Confucian. Film tersebut, saat Bond menyelamatkan dunia dari perwira militer Korea Utara yang menderita megalomania (penyakit gila yang mengkhayalkan dirinya seperti orang yang agung dan mulia) dan dimulai dengan pengejaran spektakuler dengan pesawat yang melayang-layang melewati daerah ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua Korea, diputar perdana di seluruh dunia bulan lalu. Fitnah Korut Korea Utara (Korut), yang dikasting sebagai penjahat dalam film tentang bagaimana negara komunis yang mengasingkan diri itu menciptakan senjata pamungkas, membuat tinjauan sendiri pada akhir pekan lalu. Sekretariat Komite Reunifikasi Damai Tanah Air menyerukan kepada AS agar menghentikan pemutaran film tersebut. Komite itu menyebut film tersebut ''ejekan dalam bentuk sandiwara yang kotor dan terkutuk yang dimaksudkan untuk memfitnah (Korut) dan menghasut bangsa Korea.'' Film itu menggambarkan AS sebagai ''markas yang menyebarkan ketidaknormalan, kemunduran, kekerasan dan budaya seks yang korup'', lanjut komite tadi. Amerika merupakan ''akar penyebab semua bencana dan kemalangan bangsa Korea'' dan menjadi ''kerajaan jahat'', kata komite yang menangani masalah-masalah Korea Selatan itu. Film itu menimbulkan kontroversi di Korea Selatan (Korsel) pada saat ketika emosi-emosi timbul akibat kehadiran militer AS setelah dua remaja putri tewas oleh kendaraan militer AS dalam kecelakaan jalan raya Juni lalu. Korsel merupakan wilayah box office terbesar ke-10 untuk film-film AS. ''Korea dalam film itu digambarkan sebagai koloni Amerika,'' tulis seorang peninjau dalam ruang obrolan Internet. Objek Adegan Rakyat Korsel secara khusus menjadi objek adegan di mana Bond bercinta dengan agen Amerika, Jinx, yang diperankan Berry, di sebuah kuil Buddha. ''Jika mereka melakukan tindakan itu di suatu katedral, mungkin orang-orang Barat akan terusik,'' kata Choi. Rakyat Korsel juga dicemooh pada suatu adegan yang memperlihatkan seorang petani di sawah bersama sapinya. Beberapa pihak berpendapat adegan tersebut menunjukkan Korsel masih terbelakang, meski tidak jelas dalam konteks film tersebut apakah kejadian itu terjadi di Korea Utara atau Selatan. Aktor terkenal Korea, Cha In-pyo, menjadi pahlawan di antara para pemuda setelah menolak tawaran memerankan kolonel Korut dalam film tersebut. Aktor Amerika kelahiran Korea, Rick Yune, yang memerankan penjahat lain dari Korut, menghabiskan sebagian besar waktunya pada konferensi pers untuk menjawab pertanyaan tentang perasaan anti-AS di Korsel dan kemungkinan gagalnya film tersebut dalam box office negara itu. Namun beberapa penonton preview kemarin mengatakan, bagian-bagian film yang membuatnya merasa sangat tidak enak adalah adegan-adegan di DMZ yang di-blow up. Hal itu merupakan kenyataan yang menggetarkan bagi warga Seoul, sekitar 50 km dari perbatasan.(rtr-niek-46) |