logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 Desember 2002 Internasional  
Line

Korut Tuduh AS Politisasi Bantuan

PYONGYANG - Korea Utara (Korut) menuduh AS memanfaatkan bantuan kemanusiaan sebagai senjata politik. Komentar itu dikeluarkan menyusul perselisihan tentang program senjata nuklir rahasia Korut.

Konsorsium internasional pimpinan AS menghentikan pengiriman bahan bakar minyak ke negara tersebut setelah menuduh Pyongyang mengembangkan senjata nuklir. Tindakan itu melanggar perjanjian tahun 1994 tentang pembekuan program nuklir Korut.

Sedangkan Korut mengumumkan akan mengaktifkan kembali program nuklir lamanya, yang bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir.

Akhir pekan lalu, Pyongyang juga meningkatkan tekanan terhadap PBB. Korut minta badan tenaga atom PBB memindahkan segel dan kamera pengintai dari fasilitas-fasilitas nuklirnya.

Pada surat keduanya dalam tiga hari kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Korut memperingatkan pihaknya siap memindahkan peralatan pemantau itu sendiri jika permintaannya tidak dipenuhi.

Awal bulan ini, AS menyatakan masa depan bantuan pangan harus dikaitkan dengan kesediaan Pyongyang membuka negara tersebut bagi para pengawas internasional untuk memantau pembagian bantuan.

Halangi Bantuan

Dalam pernyataannya kemarin, Pyongyang menyatakan akan menolak bantuan apa pun yang dikaitkan dengan apa yang disebutnya ''tujuan politik jahat'' Washington.

''AS menghalangi bantuan dengan segala cara dan metode yang mungkin, bahkan dengan memolitisasinya,'' lanjut pernyataan tadi.

Kementerian Luar Negeri menjelaskan, Korut ''selalu menyambut hangat bantuan tanpa pamrih'' dari negara-negara donor dan organisasi-organisasi internasional, namun tidak akan pernah menerima bantuan yang dikaitkan dengan ''syarat-syarat politik''.

Korea Utara sangat bergantung pada bantuan asing sejak 1995, setelah serentetan bencana alam dan ambruknya ekonomi negara itu.

Para pengamat berpendapat, penghentian bantuan bahan bakar berarti ratusan ribu orang harus mempertahankan hidup dengan aliran listrik yang kurang memadai selama musim dingin di Korut. Penghentian itu juga dilakukan saat bantuan pangan internasional tampaknya akan dihentikan.

Program pangan PBB menyatakan pihaknya terpaksa menghentikan bantuan bagi tiga juta orang karena menurunnya donasi.

Pengungkapan Clinton

Sementara itu, mantan Presiden AS Bill Clinton kemarin mengungkapkan, pemerintahnya mengancam Korut dengan serangan militer untuk menghancurkan fasilitas nuklirnya tahun 1994 kecuali jika negara itu bersedia membekukan rencananya untuk membuat senjata nuklir.

"Kami menyusun rencana untuk menyerang Korut dan menghancurkan reaktor-reaktor mereka - kami mengatakan kepada mereka kami akan menyerang kecuali jika mereka mengakhiri program nuklirnya."

Korut bersedia menghentikan aktivitas nuklirnya pada tahun itu juga, sebagai imbalan bagi dua reaktor air ringan dan pengiriman setiap tahun setengah juta ton bahan bakar minyak.

Clinton, yang berbicara pada jamuan makan malam bagi para pengusaha di kota pelabuhan Rotterdam, Belanda, memperingatkan Korut harus dibujuk atau dipaksa untuk membuang ambisi-ambisi nuklirnya.

Clinton mengatakan, sebelum perjanjian tahun 1994, Korut berencana membuat enam sampai delapan senjata nuklir setiap tahun, dengan plutonium yang diekstrak dari PLTN.

Menurutnya, program nuklir Korut masih mengkhawatirkan. ''Anda tidak ingin Korut membuat bom dan menjualnya ke penawar paling tinggi karena mereka tidak mampu memberi makan selama musim dingin.

"Saya setuju dengan pendekatan Presiden George W Bush, yang bekerja sama dengan Korea Selatan, Jepang, Cina dan Rusia untuk mengakhiri program ini,'' katanya. (bbcnews.com-niek-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA