
| Selasa, 17 Desember 2002 | Budaya |
Mengurai Tarian dari DemakTANPA alas kaki, 16 pria berdiri di atas tanah dalam dua barisan berjajar di depan panggung Kalamakara Taman Jurug, Solo. Begitu tetabuhan yang terdiri atas jidor, tambur, rebana, dan bende dipukul dengan keras oleh sekelompok pemusik yang duduk di atas panggung, secara serempak ke-16 pria berkostum gaya Timur Tengah itu mulai meliuk-liuk menari. Sementara itu, puji-pujian campuran bahasa Arab, Jawa, dan Indonesia, yang meningkahi musik, melantun keras lewat speaker yang disetel keras pula; membaur bersama udara panas Rabu (11/12) siang itu. Dengarlah salah satu baitnya: //Ya shahibuna asashawa dinul islam/Ya khatamanbi mu'adhom falam yurrah/Assalamu Rabbi malikil alam/Qubul minal yanam dinul islam...// Itu tarian Badui Salawat dari Desa Selo Tengah, Selo, Boyolali, yang sengaja diundang panitia Pekan Syawalan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) 2002 untuk menghibur pengunjung. Tahun ini, panitia memang menghadirkan berbagai macam pertunjukan seni tradisional pada acara yang terlaksana berkat kerja sama TSTJ, Solo Gema Budaya (SGB) Entertainment, dan Harian Suara Merdeka. Selain tari Badui, jenis pertunjukan yang tersaji antara lain jaran dor, jathilan, ketoprak, campursari, tari angguk, dan tari roddat. Siang itu, begitu pertunjukan dimulai, sebagian pengunjung menonton dalam kelompok-kelompok yang tersebar di sekitar panggung. Ada juga sekelompok penonton yang merapat di dekat para penari; ada juga yang hanya menonton tarian berdurasi sekitar 1,5 jam itu selama beberapa menit, sebelum pergi untuk menikmati jenis hiburan lainnya. Tapi, tak sedikit pula yang terlihat asyik menikmati gerak rampak para penari sepanjang pertunjukan. Kerajaan Demak Dari manakah tari Badui berasal? Marsudi (30), ketua rombongan Tari Badui Salawat dari daerah Selo Boyolali itu mengungkapkan asal-muasal tarian yang mereka bawakan hampir setiap Syawalan dan acara-acara keagamaan Islam lainnya itu. "Dari cerita turun-temurun di kampung saya, tari Badui berasal dari Kerajaan Demak. Kalau dirunut lagi, katanya itu tarian yang mengiringi kepergian Nabi Muhammad SAW dari Madinah ke Mekah untuk berhaji," kata Marsudi. Boleh jadi, dia benar. Paling tidak, penamaan tarian Badui mengingatkan nama suku di Arab ketika Rasulullah hidup. Lalu, apa tengara bahwa tarian itu berasal dari Kerajaan Demak? Kalau melihat busana berupa kemeja panjang berompi dalam dua warna merah dan hitam dalam bordiran warna keemasan, dipadu celana biru dengan kain yang diikat dipinggang, serta topi kubus berjurai, orang mungkin ingat tokoh ketoprak pemeran prajurit Demak. Lalu, buru-buru Marsudi mengeluarkan selembar kertas lusuh dari dompetnya. Isinya berupa catatan singkat mengenai tari Badui itu. "Ini tulisan Pak Suroto, pemimpin kelompok kami yang terpaksa tidak ikut ke sini karena sakit," katanya. Pada catatan itu, tertulis sinopsis singkat tarian. Kisahnya, Hasan (ditulis Kasan) dan Hussein (Kusen) diutus sang ayah, Sayyidina Ali untuk pergi ke tanah Jawa dengan tujuan Keraton Majapahit. Untuk apa? Meminta warisan. Sampai pada paragraf situ, catatan beralih mengenai Sunan Bonang yang diutus Sunan Ampel untuk meminta warisan pada raja Majapahit dan diberi bumi Glagah Wangi. Begitu tanah Glagah Wangi itu dibabat, di atasnya didirikan sebuah masjid untuk syiar Islam. Pada catatan terakhir, yang mengetahui sejarah pendirian Kerajaan Demak sangat mungkin telah mafhum. Tapi catatan pertama itu? Tak perlu diperpanjang, toh semua kru tari Badui Salawat itu juga tak mempersoalkan perbedaan cerita yang mereka ketahui. Yang mungkin lebih pasti, tengara tarian berasal dari Demak dibuktikan oleh puji-pujian yang dilantunkan sepanjang tarian energetik itu berlangsung. Uniknya, setiap lagu dari sembilan yang dibawakan --menurut mereka-- diciptakan masing-masing oleh wali yang tergabung dalam Wali Songo. Berdasarkan catatan pada kertas lusuh itu, selengkapnya adalah Shahibuna (Sunan Bonang), Allah Ya Nabi (Sunan Drajat), Maulidina (Sunan Giri), Tankhalubinal Ulum (Sunan Gunung Jati), Ilir-ilir (Sunan Kalijaga), Muhammaddun Basyar (Sunan Kudus), Bariklana (Maulana Malik Ibrahim), Man Amana (Sunan Muria), dan Madrasatuna (Sunan Ampel). Benar-tidaknya semua itu, mungkin menarik etnomusikolog atau pemerhati budaya lokal untuk menelitinya. Tapi yang pasti, kelompok tari Badui Salawat asal Selo, Boyolali itu terus-menerus berusaha mempertahankannya sebagai warisan budaya. Sebab, kata mereka, ada-tidaknya tanggapan, seminggu sekali mereka berlatih sembari menghibur diri.(Saroni Asikin-41) |