
| Selasa, 17 Desember 2002 | Budaya |
"Spirit on Paper"Masih Ada Tempat untuk LukisanLEBIH 40 karya lukisan dari 20-an pelukis Semarang, digelar di Galeri Sienna selama sebulan, mulai Minggu (15/12) malam. Bisa jadi, pameran "tanpa tema" yang membawa aliran dan gaya berbeda itu hanya semacam "halal bihalal" dari para perupa. Tak ada acara pembukaan, tak ada judul, katalog, dan tak semua seniman mencantumkan namanya di atas lukisan. Alhasil, di depan lukisan itu pengunjung pun sibuk mereka-reka dan menerka: Ini karya siapa? Tapi apa pun, pameran lukisan kali ini agaknya juga berbeda dari pameran-pameran sebelumnya. Paling tidak, di antara puluhan lukisan itu tak terlihat satu pun lukisan model "mangga pisang jambu", sebuah "trade mark" yang selama ini demikian melekat pada pelukis Semarang. Sebaliknya, di ruang pamer Jl Tegalsari itu justru berhamburan lukisan kontemporer, dan sebagian besar lain hadir dalam surealistik, figuratif, dekoratif, garis-garis, ekspresionis, grafis, serta sketsa. Ibnu Thalhah lewat empat karyanya; Sahur di Simpanglima, Perjamuan Tekahir, Negeri Orang-orang Mati, dan Menari di atas Kerta, misalnya, menyodorkan warna sketsa grafis dengan detil yang kuat. Menggunakan media kertas dan pensil, ilustrator cerpen di Suara Merdeka Edisi Minggu itu mencoba menawarkan lukisan-lukisan ilustratif, dengan objek lukisan tak hadir secara realis. Di luar Thalhal, perupa Kurnia AS menampilkan ekspresi garis. Pelukis asal Semarang yang kini tinggal di Bali itu, beberapa waktu lalu juga pameran di Jakarta. Juga muncul Hartono, yang memajang beberapa lukisan sketsa. Semacam Silaturahmi Beberapa "nama baru" juga muncul, mengusung lukisan dekoratif, natural, dan grafis; seperti Putut, Toto TN, Harmanto, dan Joned. Di luar mereka, muncul nama-nama lama seperti Markaban dan Aryo Sunaryo. Maka, pameran lukisan yang melibatkan pelukis Semarang, baik yang belajar di akademi maupun sanggar-sanggar, itu bisa jadi tampil beda. Kesan "mangga, pisang, jambu" atas pemeran lukisan di Semarang hilang. "Konsep pameran ini adalah menyatukan pelukis Semarang dalam satu wadah. Karena itu, pameran kali ini menampilkan banyak ragam," kata Putut, yang juga koordinator grafis Harian Suara Merdeka. Maka, pameran itu pada akhirnya memang semacam silaturahmi. Bukan sekadar mempertemukan karya, tapi sekaligus juga para pekerja seni. Sebab, menurut Putut, kelak peserta pameran akan mengarah pada satu komunitas bagi para perupa di Semarang. Bahkan, dalam sebulan masa pamer itu, mereka tak hanya memajang lukisan, tapi juga mengadakan workshop, diskusi, dan bursa. Hingga sebulan ke depan, Galeri Sienna masih menerima pelukis yang ingin memajang karyanya di tempat itu. "Kami tidak memberi batasan soal aliran dan gaya lukisan. Lukisan dari aliran apa pun, bisa dipajang di sini," jelas Putut. (Ganug Nugroho Adi-41) |