
| Senin, 25 November 2002 | Surat Pembaca |
Perkutut KaturangganSaya penggemar dan memiliki beberapa perkutut katuranggan di antaranya perkutut putih, perkutut kalung petuk dan lain-lain. Saya ingin memiliki buku tentang perkutut katurangan secara lengkap dan sudah mencari di toko-toko buku tapi tidak menemukan. Bagi pembaca yang memiliki buku tersebut mohon informasinya . Dedi *** Nasib Eks Karyawan Perum Perumnas JayaSaya bekas karyawati Perumnas Regional V Semarang yang pernah bekerja selama 8,5 tahun. Kronologi masa kerja, 11 Maret 1991 s.d 1 Juli 1996 sebagai tenaga harian lepas, 2 Juli 1996 s.d 29 Juli 1999 sebagai tenaga kontrak. Setelah masa kontrak habis tidak ada pemberitahuan/kata putus/perpanjangan dari pimpinan. Pernah saya tanyakan lewat surat sampai 3 kali, tetapi tak pernah ada jawaban/tanggapan. Padahal saya cuma ingin menanyakan nasib saya. Apakah bisa bekerja lagi/ mendapatkan pesangon. Pembaca, pantaskah seorang pimpinan di zaman reformasi ini bersikap begitu . Kepada semua pihak tolonglah saya, apakah dengan pengabdian 8,5 tahun pantas mendapatkan pesangon atau tidak. Seandainya ada yang membutuhkan karyawati tolong saya diberi informasi. Sri Handayani *** Jual BukuUntuk usaha mengembangkan kios, saya membutuhkan dana dan sebagian akan saya manfaatkan untuk kebutuhan masyarakat di lingkungan sekitar. Untuk itu maka saya menjual buku ''Di Bawah Bendera Revolusi'' jilid I oleh Ir Soekarno, cetakan ke-3 tahun 1964 dengan Rp 15 juta. Pratomo Hadinoto *** Mahkota DewaDi Suara Merdeka 2 November 2002 ada artikel yang berjudul: "Melirik Potensi Mahkota Dewa". Saya sebagai pembaca menjadi bingung, karena pada awal artikel ditulis: "... mahkota dewa (Gynura Divaricata, DC) ... ada juga yang menyebutnya Daun Dewa, Beluntas Cina (Sumatara)". Menurut Asosiasi Pengembang Tanaman Obat Indonesia (APTOI) disebutkan Mahkota Dewa mempunyai nama latin Phaleria Papuana/Phaleria Macrocarpa, atau di Jateng menyebutnya Makuta Dewa, Makuta Raja/ Ratu). Sedangkan Gynura Divaricata/Genura Segetum adalah nama latin untuk tanaman Daun Dewa/Beluntas Cina, San Qi Cao (Cina). Juga foto inzet yang ditampilkan adalah foto bunga dan tanaman Daun Dewa (Gynura Divaricata/ Gynura Segetum), padahal judul dan isi artikel tersebut menjelaskan tentang tanaman Mahkota Dewa. Bagaimana hal ini bisa terjadi. Mengapa tanaman Mahkota Dewa dicampur-baurkan dengan tanaman Daun Dewa. Padahal di Mingguan Cempaka pun pernah menerbitkan artikel yang mengatakan Mahkota Dewa sama sekali berbeda dengan Daun Dewa (fotokopi artikel terlampir). Semoga Redaksi lebih korektif dalam menampilkan artikelnya agar tidak menyesatkan para pembacanya. Saya lampirkan pula gambar tanaman Mahkota Dewa dan Daun Dewa sebagai perbandingan. Erwin Yulianto -Terima kasih koreksiannya. (Red) *** Pengerukan KaliWah, ini langkah bagus dari Pemprov melalui Proyek Swakelola Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng. Di tengah ketar-ketir-nya masyarakat khususnya daerah pantura menghadapi musim hujan, pemerintah melakukan pengerukan sungai. Di Semarang termasuk salah satu kota banjir yang sungainya dikeduk, seperti Sungai Banjir Kanalbarat dan Banjirkanal Timur agar di saat hujan deras air tidak meluap ke pemukiman penduduk. Sekarang Sungai Banjirkanal kelihatan lebar, bersih dan enak dipandang bagai tahun 60-an. Tapi sampai kapan hal ini bertahan. Adakah tindakan selanjutnya. Yang jelas sungai yang tepinya tidak diberi penguat (dinding beton), lama-lama akan menyempit lagi. Belum lagi tingkat sedimen sekarang sangat tinggi akibat banyak daerah perbukitan yang gundul. Adakah proyek pengerukan sungai ini menjiwai proyek penghijauan kota atas. Bisakah proyek dibangun dapat bertahan hingga 20-40. Bisakah sebuah proyek dibangun secara efektif, efisien dan tertata? Ismedi Yuliarso *** Hati-hati Tawaran SuvenirAkhir Oktober lalu, saya ke Mal Ciputra Semarang. Saat melewati pameran di lantai dasar, ada dua sales membujuk saya untuk mengambil suvenir di counter Aowanusa Lestari. Mulanya saya curiga tetapi sales tersebut meyakinkan. Setelah mengambil suvenir, mereka minta saya mengambil undian di toples dan saya dinyatakan memenangkan grand prize yang berupa alat-alat rumah tangga senilai Rp 15 juta. Untuk mendapatkan hariah itu saya diharuskan membeli salah satu produk mereka senilai Rp 5 juta-10 juta. Kalau tidak beli hadiahnya akan hangus. Mulanya saya tidak mau tetapi sales merecoki untuk membeli produknya. Entah mengapa saat itu saya merasa sangat bodoh dan membeli microwave seharga Rp 7,4 juta. Sampai di rumah baru sadar ketika membuka hadiah tersebut. Ternyata untuk produk sejenis, sangat mahal dibanding produk sejenis dengan merek yang lebih terkenal. Saya sih tidak menuntut mengembalikan uang saya karena saya sendiri sudah mau dibodohi dan dibohongi. Hanya saja saya merasa sangat kecewa dan jengkel dengan cara berjualan mereka. Mbok ojo terlalu gede mulut. Apalagi dengan membohongi konsumen. Semoga pengalaman saya dapat menjadi pelajaran berharga bagi pembaca Dewi *** Untuk PT TelkomSaya pernah ditawari bagian pemasangan keliling PT Telkom untuk pasang baru telepon. Tentu saja saya terima dan oleh petugas tersebut saya disuruh mengisi buku kontrak berlangganan bermaterai Rp 2.000 diberi nomor telepon tertentu. Saya tenang tinggal menunggu pelaksanaan pemasangannya. Eh, tidak tahunya setelah beberapa saat ada petugas Telkom datang ke rumah saya di Jl Dr Wahidin (Tanah Putih 115 RT 3/RW 3 Semarang) menyatakan pemasangan telepon dibatalkan. Saya kecewa andai bisa terpasang pun menurut petugas tersebut biayanya tinggi. Bagaimana kok bisa seperti ini. Ngatini *** Tukar Tempat TugasSaya paramedis di RSUD Cepu Kabupaten Blora, ingin tukar tempat tugas dengan rekan seprofesi dari di wilayah Purbalingga, Purwokerto, Banyumas dan Banjarnegara. Peminat bisa menghubungi saya Tri Mei Rahayu d/a RSUD Cepu Telp (0296) 421026, 421880. Rumah asli saya di Bandingan RT 1/RW 9 Bobotsari Purbalingga. Tri Mei Rahayu |