logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 25 November 2002 Ragam  
Line

Iodium dari Air Asosiasi Pengeboran Minyak

INDONESIA selalu tertinggal dalam pengembangan industri pengolahan bahan baku industri kimia, farmasi dan pangan. Padahal jika dikembangkan dengan basis sumber bahan baku lokal berupa sumber daya hayati dan non-hayati diperkirakan dapat mempercepat penguatan struktur industri dalam negeri.

Pengembangan pengolahan bahan baku industri kimia sangat menguntungkan karena dapat memberi nilai tambah produk dan mengurangi ketergantungan impor, sekaligus menghemat devisa negara. Selain itu proses produksi menggunakan bahan baku dan teknologi lokal secara langsung dapat memberikan rasa percaya diri pada bangsa, akan potensi dan kemampuan dalam persaingan global.

Salah satu bahan baku/senyawa kimia yang banyak digunakan untuk keperluan industri dan diproduksi dalam jumlah kecil di Indonesia adalah iodium atau yodium.

Iodium (12) banyak digunakan antara lain sebagai katalisator reaksi kimia, campuran makanan ternak, bahan tinda dan cat, stabilisator, keperluan industri farmasi (antiseptik, obat luka, sanitasi, desinfektan), fotografi, pembuatan senyawa organik dan anoganik serta campuran polimer penghantar listrik. Di Indonesia iodium terutama digunakan sebagai bahan baku pembuatan garam iodida, khususnya kalsium iodat (KI03) dan kapsul iodiol.

KI03 merupakan bahan kimia yang dicampurkan pada proses iodisasi garam sebagai salah satu cara untuk penanggulangan masalah GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium). Setiap tahun untuk keperluan iodisasi garam konsumsi beriodium sebanyak 900.000 ton diperlukan sekitar 36 ton KI03. Proses produksi iodium umumnya dilakukan melalui tiga tahap, pertama, proses isolasi yaitu pemisahan iodium dari unsur pengotornya menggunakan metode oksidasi atau pengendapan secara kimiawi.

Kedua, proses pemekatan menggunakan metode ekstraksi pelarut, penyerapan dengan karbon aktif dan resin penukar kation, lalu ketiga adalah proses pemurnian dari senyawa organik menggunakan teknik melting dan sublimasi. Bahan baku utama iodium diperoleh melalui penambangan batuan mineral berupa Chili Salt, banyak dilakukan di negara Chili, Jepang dan Amerika. Sedangkan sumber lain adalah dari rumput laut jenis Laminaria, air asosiasi sumur gas dan minyak bumi, hasil samping produksi nitrat serta air sumur artesis.

Laut juga mengandung ion iodida sebesar 0,05 bpj atau jika dilakukan eksplorasi maka cadangannya mencapai 34 juta ton iodium. Data pada taun 2000 menunjukkan total produksi iodium di dunia telah mencapai 19.000 ton/tahun, dengan produsen utama didominasi oleh tiga negara yaitu Chili, Jepang dan Amerika yang menguasai pasar hapir 95 persen produksi dunia. Negara lain yang memproduksi dalam jumlah kecil adalah Cina, Indonesia, Azerbaijan, Rusia dan Turkmenistan.

Prospek Cerah

Harga iodium mentah (crude iodine) yaitu iodium yang masih mengandung pengotor organik di pasar dunia mencapai 19-21 dolar AS/kg, sedangkan iodium murni (pure iodine), mencapai 30-35 dolar AS/kg. Peluang ekspor ke Eropa, Afrika dan Asia masih terbuka lebar, demikian pula Amerika yang juga produsen iodium cukup besar tetapi masih tetap memerlukan pasokan impor sekitar 4.000 - 5.500 ton/tahun.

Di Indonesia hingga saat ini satu-satunya produsen iodium adalah PT Kimia Farma Unit Produksi Watudakon yang berada di Mojokerto, Jawa Timur. Pabrik yang berdiri sejak zaman penjajahan ini memiliki kapasitas produksi terpasang 100-120 ton per tahun, dan sebagian besar produksinya digunakan untuk memenuhi pasar domestik. Perusahaan tersebut memproduksi iodium dari bahan baku air sumur artesis yang digali hingga kedalaman 200 meter untuk sumur dangkal dan 700 meter untuk sumur dalam. Kandungan ion iodida air sumur berkisar antara 60-130 mg/L.

Melihat potensi ekonomi dan peluang pasar ekspor iodium yang masih terbuka lebar sudah saatnya Indonesia harus menggenjot kapasitas produksinya. Peningkatan kapasitas produksi dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan program intensifikasi dilakukan PT Kimia Farma dengan menggali sumur-sumur yang baru atau perbaikan proses produksi. Kedua, dengan program ekstensifikasi, yaitu mencari sumber-sumber alternatif bahan baku iodium yang baru.

Salah satu sumber alternatif bahan baku yang belum digarap serius di Indonesia adalah air asosiasi pengeboran minyak bumi dan gas. Berdasarkan hasil survei dan penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan sebenarnya sumur-sumur tersebut mempunyai cadangan deposit iodium yang potensial. Diantaranya adalah sumur minyak bumi Lapangan Ledok dan Nglobo, yang dikelola oleh UEP III Pertamina-Cepu, masing-masing mempunyai kapasitas air total sebesar 500 m3/hari dan 700 m3/hari serta mengandung iodida sebesar 60-170 mg/L.

Sampai saat ini limbah cair itu belum dimanfaatkan dan dibuang begitu saja ke sungai atau laut. Tidak ada perbedaan teknologi proses yang digunakan dalam produksi iodium dari air asosiasi minyak ini, kecuali penambahan 1 buah unit pre-treatment. Unit tersebut berperan memisahkan sisa-sisa partikel minyak dan dapat dilakukan pemisahan secara mekanis atau adsorbsi menggunakan batuan aluminosilikat-seperti kaolin, bentonit atau zeolit.

Secara perhitungan ekonomi, jika tingkat efisiensi produksi berkisar 80 persen dan kandungan iodida dianggap rata-rata 100 mg/L minimal dapat dihasilkan 34,60 ton iodium/tahun. Adapun manfaat langsung dan tidak langsung dari program ekstensifikasi air asosiasi tersebut antara lain dapat memperkuat struktur industri kimia dasar, meningkatkan produksi iodium untuk pemenuhan pasar domestik dan ekspor, menambah dan menghemat devisa negara.

Manfaat lain yang juga penting adalah mendukung upaya penanggulangan masalah GAKI, terutama dalam penyediaan garam-garam iodida. Pengelolaannya dapat dilakukan secara terpadu dengan unit pengeboran minyak, sehingga tidak memerlukan biaya investasi untuk pengeboran lagi, selain juga menerapkan konsep ramah lingkungan (zero emission) dan penerapan teknologi bersih dalam pengolahan dan pembuangan limbah cair. (Aspek-35)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA