
| Senin, 25 November 2002 | Olahraga |
Maya Rosa Juara ITF Junior WismilakSURABAYA-Maya Rosa, petenis kelahiran Wonosobo yang satu tahun terakhir berdomisili di Surabaya, tampil sebagai juara tunggal putri turnamen tenis ITF Junior Wismilak-Widjodjo Soejono Cup XXI. Pada partai pamungkas, Minggu kemarin, dia berhasil mengalahkan petenis Cina, Shu Ai Zhang, dalam dua set, 6-2, 6-1. Di nomor tunggal pria yang terjadi all Indonesian final, Trijati Sunu Wahyu keluar sebagai juara. Berkat penampilannya yang meyakinkan, dia mengalahkan Elbert Sie juga dalam dua set langsung, 6-2, 6-4. Tetapi ketika turun di nomor ganda, Trijati gagal mengulang sukses. Dia yang berpasangan dengan Antony Tan dikalahkan Eko Putro/Jaya Ismail 2-6, 3-6. Di nomor ganda putri, juara pertama diraih pasangan Sandy Gumulya/Septi Mende yang mengalahkan Damayanti/Metriya 6-4, 6-2. Kemenangan Maya Rosa atas Shu Ai Zhang sebenarnya di luar dugaan. Terlebih pertandingan ini hanya berlangsung dalam tempo singkat. Shu sebelumnya menunjukkan ketangguhannya. Dia memiliki semangat bertanding yang sangat tinggi, terbukti dari kemampuannya menggulung Sandy Gumulya yang diunggulkan saat semifinal. Sandy yang diunggulkan di tempat kedua tak berkutik menghadapi petenis Cina ini. Zhu memenangi pertandingan yang berlangsung dalam tiga set itu dengan 7-6 (4), 4-6, 6-2. Bimbang Namun saat melawan Maya, justru Shu mengalami antiklimaks. Dia tampak kehabisan stamina, sehingga tak mampu mengatasi reli-reli panjang yang dikembangkan Maya. Bola pengembaliannya sering tak akurat sehingga mudah diantisipasi. Pada set pertama, Maya memberikan dua angka bagi Shu. Di set kedua, Shu malah hanya diberi satu angka, sebelum ditutup dengan skor 6-1. Apa komentar sang juara? "Kebetulan saja saya bermain bagus dan lawan tampil buruk," katanya usai pertandingan. Dia mengaku sejak awal turnamen tak menilai enteng lawan. Petenis berkulit sawo matang dengan rambut agak kekuning-kuningan ini menganggap semua lawannya berat, baik pemain dalam negeri maupun asing. "Yang penting kerja keras," tandasnya. Untuk PON tahun 2004 mendatang di Palembang, dia mengaku masih bimbang. Apakah akan memperkuat Jatim atau Jateng. Sebab, saat ini dia tinggal di Surabaya. "Saya berada di Surabaya setahun terakhir, sedangkan bapak dan ibu di Wonosobo. Makanya, PON nanti ikut Jatim atau Jateng, ya tergantung pada orang tua," katanya. Yang jelas, katanya, pada program pelatda jangka panjang yang dilaksanakan KONI Jateng, dia termasuk petenis muda yang tak dipanggil. Makanya dia berani mengambil keputusan pindah ke Surabaya. "Yang penting sekarang berlatih keras dulu, ikut provinsi mana dalam PON Palembang itu urusan nanti. Semuanya sih tergantung pada orang tua," tegasnya. (G14-22t) |