
| Senin, 25 November 2002 | Olahraga |
Persiba Banjarmasin Protes Kelangsungan Divisi IISEMARANG- Saling protes masih terus mewarnai kelanjutan babak ''4 besar'' kompetisi Divisi II/2002. Jika sebelumnya Persibom Bolaan Mongondow melancarkan protes terhadap Persibo Bojonegoro yang dianggap menurunkan pemain tak sah, kini giliran Persiban Banjarmasin mempermasalahkan status pemain Persibom. Ironisnya, protes Banjarmasin yang diperkuat oleh Persiku Kutai Tenggarong itu ditanggapi oleh PSSI, seperti halnya protes Persibom dan Persid Jember terhadap Persibo. Padahal, PSSI sudah menetapkan -berdasarkan protes Persibom dan Persid Jember- babak '4 besar' diubah menjadi '6 besar'. Sekarang, ada kemungkinan diubah lagi menjadi '4 besar' seperti semula. Empat besar hasil kompetisi ''resmi'' adalah Persikad Depok, PSKB Bijai, Persibo Bojonegoro, dan PS Apacinti Ungaran yang lolos sebagai runner up terbaik. Kemudian setelah protes Persibom ditanggapi, diubah menjadi '6 besar' dengan ditambah Jember dan Mongondow. ''Kami juga menerima tembusan surat protes dari Persiban, terhadap dua pemain Mongondow yang baru saja memperkuat Gorontalo. Mereka tampil di zone II Sulawesi Utara. Jadi, apa yang dilakukan Mongondow itu salah besar, mereka maling kok teriak maling,'' tutur Manajer Tim PS Apacinti, H Didi Taufik Hadiwidjaja, semalam. Pengalaman Berharga Urusan ini oleh PSSI harus dijadikan pengalaman berharga, terutama dalam menanggapi protes-protes berikutnya. Sehingga protes Persibom terhadap pemain Persibo yang dianggap tidak sah, Regi Regitia, tidak menimbulkan masalah yang berlarut-larut seperti ini. ''Sejak awal, Persibo sudah menurunkan Regi, termasuk saat tampil di Sragen. Waktu itu PSISra juga mempermasalahkan. Apacinti pernah satu grup dengan Bojonegoro, ketika main di Purwokerto. Jadi, kalau dirunut, kasus ini akan sangat panjang dan ruwet. Ada kemungkinan, dari keputusan babak 4 besar, diubah jadi 6 besar dan kembali lagi menjadi empat besar,'' jelas Taufik. Kasus ini juga sangat merugikan klub. Sudah jelas empat klub yang lolos akan mengalami kerugian besar. Kompetisi yang diundur sampai empat bulan lebih, memaksa klub merogoh kocek lebih, karena masih terus melakukan persiapan sampai ada keputusan final dari PSSI. ''Kami dapat informasi PSKB Binjai nyaris bubar akibat kesulitan dana. Selama empat bulan menunggu, mereka tombok Rp 300 juta.'' Menurut Taufik, Apacinti masih menunggu keputusan PSSI. Yang dia tahu, babak ''4 besar'' akan diputar bulan Desember, setelah Lebaran. ''Kabar resmi masih kami tunggu. Tetapi saya baru saja bertemu dengan Iswadi Idris (Ketua Bidang Kompetisi dan Turnamen PSSI-Red), dia bilang kira-kira dimulai 16 Desember. Hanya, Iswadi belum berani mengatakan empat besar atau enam besar,'' tandasnya. (Mundaru Karya-77t) |