
| Senin, 25 November 2002 | Berita Utama |
Kontrakan Imam di Solo Digeledah
SOLO - Tim gabungan Polda Jateng, Polwil Surakarta, Polresta Surakarta, dan Polres Sukoharjo, pagi kemarin melakukan penggeledahan terhadap empat rumah kontrakan yang sudah ditinggal penghuninya, di daerah Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Dicurigai, rumah-rumah itu sebelumnya sebagai tempat tinggal para pelaku kasus pengeboman Bali. Salah satu rumah itu, di Dukuh Sanggrahan, Grogol, diyakini aparat kepolisian pernah digunakan oleh tersangka utama bom Bali, Abdul Aziz alias Imam Samudera, sebelum tertangkap. Sedangkan tiga rumah lainnya yang digerebek itu adalah rumah kontrakan keluarga Abdul Gani, di Dukuh Mantung, Sanggrahan RT 1/RW 5, rumah kontrakan Nova Ariyanto alias Novel di RT 4/RW 5, dan rumah yang dihuni Herniyanto di daerah Manang RT 2/RW 2. Keempat rumah yang digeledah oleh aparat kepolisian itu masih masuk dalam satu kecamatan dengan Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, asuhan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir, di Kecamatan Grogol. Rumah-rumah ini letaknya berada dalam satu kompleks (dalam satu kampung). Keterangan yang dikumpulkan menyebutkan, keempat orang yang mengontrak rumah-rumah itu tidak pernah bergaul dengan masyarakat sekitar, meskipun mereka pendatang baru. "Mereka setiap pagi keluar rumah, terus pergi dan pulang malam hari, entah ke mana, tidak mengerti," kata mereka. Beberapa barang yang ditemukan dalam aksi penggerebekan tersebut makin memperkuat dugaan atas keterlibatan para penghuni rumah itu dalam kasus bom Bali. Misalnya, magazine dan bubuk bahan peledak serta sejumlah dokumen penting lainnya. Satu-satunya rumah yang tidak ditemukan barang bukti hanyalah rumah yang ditempati Novel. Sementara itu, fokus penggeledahan terhadap sejumlah rumah itu, tampaknya lebih ditujukan kepada rumah yang selama hampir tiga bulan terakhir ini dihuni Imam Samudera. Di rumah yang kini diberi police line itu, petugas menyita beberapa keping VCD. Di antaranya berjudul Zaitun, Interview Jazeera Syihk Usamah bin Ladin, dan Wasiat Syuhada: New York dan Washington. Pergi Mendadak Penggeledahan itu, menurut Kapolwil Surakarta Kombes Pol Drs Hasyim Irianto, merupakan tindak lanjut dari informasi masyarakat yang curiga atas kepindahan sejumlah warga kampungnya yang terjadi secara mendadak. Terlebih lagi, aparat selama ini juga melakukan pemantauan ekstraketat terhadap warga sekitar Pondok Pesantran Al Mukmin, Ngruki, selepas terjadinya kasus bom Bali serta penangkapan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir. "Informasi dari warga itu kami tindaklanjuti, terlebih lagi ada indikasi bahwa rumah-rumah itu diduga kuat dikontrak para tersangka kasus bom Bali. Karena itulah, rumah itu kami geledah. Adapun soal keterkaitan di antara mereka, masih dalam penyidikan kami,"kata Kapolwil, kemarin. Disebutkannya, anggota tim melakukan pemantauan terhadap rumah yang dicurigai itu sejak 22 November lalu, dan setelah ditunggu sekian lama penghuninya tidak juga muncul, akhirnya diambil keputusan untuk dilakukan penggeladahan. Meskipun tak menemui penghuninya, polisi tetap mendapatkan sejumlah barang bukti yang memberi petunjuk adanya keterkaitan antara para penghuni rumah itu dengan jaringan Amrozi. Misalnya, temuan 12 magazine kosong, terdiri atas 8 jenis magazine M-16 dan 4 jenis AK-47 di plafon rumah Abul Gani. Petunjuk lainnya, ditemukan residu bahan peledak di salah satu ruangnya. Tapi polisi hingga sore kemarin belum bisa memastikan tentang jenis dan unsur dari bahan peledak temuannya itu. "Abdul Gani telah pergi sejak 12 November. Dia pamitan sambil mengembalikan kunci rumah," kata pemilik rumah, Sutrisno, yang rumahnya dikontrak Abdul Gani, kemarin. Menurut dia, rumah keduanya di Dukuh Mantung, Sangrahan, itu sudah ditempati Abdul Gani sejak lima tahun silam. Tapi dia tak menyangka bila orang yang mengontrak rumahnya itu terlibat kasus pengeboman dan kini sedang dicari polisi. "Saya tidak mengenalnya secara dekat. Saya jarang bertemu muka dengannya. Dia hanya datang ke rumah saya, Cemani, saat ingin memperpanjang kontrakan saja," kata lelaki yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan TNI AU, Adisumarmo itu. Setiap kali memperpanjang kontrakan -biasanya untuk jangka dua tahun- lanjutnya, tidak banyak yang diomongkan. Di matanya, lelaki yang kini menjadi buronan polisi itu berpenampilan kalem, serta berkulit bersih. Keluarga yang memiliki empat anak itu memanfaatkan salah satu ruang di rumah kontrakannya untuk membuka toko kelontong. "Sebenarnya, kontrakan rumahnya baru akan habis Mei 2003. Tapi entah kenapa, keluarga itu sudah pamit sebelum masa kontraknya habis. Setiap 2 tahun sekali, dia membayar Rp 2,6 juta," kata Sutrisno tentang keluarga Abdul Gani. Dia mengenal keluarga Gani, setelah diperkenalkan oleh Rozid pada tahun 1997. Saat perkenalan itu, Gani mengaku berasal dari Karanganyar. "Hanya ketika itu dia tidak menyebutkan apa pekerjaannya. Dia hanya ingin membuka warung kecil-kecilan," katanya. Sejumlah tetangganya menyebutkan, kepergian keluarga Abdul Gani dan Novel tidak diketahui para tetangganya. "Mungkin saja keluarga itu pergi pada malam hari," kata Prawiro, salah seorang warga Sangrahan. Kecurigaan sejumlah tetangga kedua boron polisi itu hanya muncul ketika keluarga Abdul Gani seminggu sebelum kepergiannya melelang hampir semua barang perabot rumah tangga dan sisa dagangannya. "Barang-barang itu diborong warga. Tapi saat itu keluarga Abdul Gani tidak menyebut-nyebut akan pindah rumah," jelasnya. Benar saja, saat polisi melakukan penggerebekan, rumah kontrakan Abdul Gani dan Novel sudah kosong. Nasib yang sama juga terjadi saat tim beraksi di rumah kontrakan Imam Samudera dan Herniayanto. Diperiksa Sementara itu, dari Banten dilaporkan, Nyonya Saskia (32), istri tersangka pelaku peledakan bom Bali, Abdul Aziz alias Imam Samudera, diperiksa secara intensif dan tertutup selama sekitar lima jam oleh Polwil Banten, di Serang, Sabtu malam. Saskia yang datang tanpa pendampingan penasihat hukum dan mengenakan kerudung hitam, langsung dibawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan Polwil Banten pada pukul 20.15 WIB dan baru keluar lima jam kemudian. Hingga kini belum diketahui butir pertanyaan yang diajukan polisi ataupun tanggapan dari Saskia, karena belasan wartawan yang sejak berbuka puasa berkumpul di kantor Polwil Banten, tidak diperkenankan menemui istri Samudera itu. Sementara itu, dari Denpasar dilaporkan, Imam Samudera yang akan dipertemukan dengan tersangka lainnya, Amrozi, yang kini mendekam di ruang tahanan Polda Bali, hingga Minggu sore belum terlihat muncul di Denpasar. Sebelumnya sempat terbersit kabar, Imam yang sejak Kamis (21/11) lalu 'menghuni' Polres Cilegon, Banten, akan tiba di Denpasar, Bali, pada hari Minggu kemarin. Akibatnya, sejak matahari terbit dari ufuk timur, puluhan wartawan dalam dan luar negeri sudah 'mangkal' di markas Polda Bali di Denpasar, lengkap dengan kamera TV dan alat potret masing-masing. Namun setelah lewat tengah hari, tampaknya para wartawan mulai kesal dan merasa sia-sia menunggu kedatangan orang yang belum jelas kabar-beritanya itu. (Budi Santoso, Sri Hartanto, Joko Murdowo,ant-29t) | |||||