logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 25 November 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Ketika Mereka Mencari Air sampai Jauh...

SORE itu hujan baru saja berhenti di kawasan Gunungpati. Sumarji (50) segera menyiapkan beberapa jerigen dan motornya. Seperti hari-hari sebelumnya, bapak tiga anak itu akan ngangsu ke sendang.

"Sumur di rumah hanya cukup untuk memasak. Kebutuhan mencuci, mandi, atau isah-isah harus diambilkan air dari sendang."

Tak hanya Sumarji, hampir semua warga di Dusun Mangunsari, Pakintelan, Gunungpati itu juga melakukan hal serupa. Setiap hari entah pagi, siang, dan sore. Bahkan beberapa warga memilih mengambil air pada malam hari lantaran tidak perlu antre.

"Bila malam tidak banyak warga yang mengambil air, sehingga bisa segera ambil."

Beberapa orang terlihat melintas sambil membawa pikulan. Satu-dua perempuan baya menggedong bakul berisi pakaian kotor dan deterjen. Anak-anak telanjang dada mengikuti bapak-ibunya dari belakang.

Dari rumah Sumarji, RT 1 RW 5, Mangunsari, Pakintelan, sumber air tersebut berjarak sekitar satu kilometer. Bukan jarak yang dekat, apalagi bila harus melewati jalan menanjak juga menurun, dengan membawa beban jerigen penuh air.

Hujan sebenarnya mulai sering turun di kawasan itu. Namun ternyata hal itu tidak otomatis membuat kebutuhan warga atas air segera tercukupi. Sumur-sumur, meski tidak kering, debit airnya sangat lambat. Jika biasanya warga bisa mengambil air sumur kapan saja, pada masa sekarang tidak bisa seperti itu.

"Bila pagi diambil, malam hari baru bisa ditimba lagi. Mungkin air hujan belum sampai ke dasar tanah. Lagipula, hujannya juga belum terlalu lebat kok."

Untuk MCK

Padahal, sumur-sumur di kawasan tersebut rata-rata memiliki kedalaman sekitar 20 meter. Di luar musim kemarau, kebutuhan akan air sebenarnya bisa terpenuhi dari sumur itu.

"Mungkin karena kemarau tahun ini sangat panjang sehingga warga harus bersusah-susah mengambil air di sendang."

Kebutuhan air untuk memasak (termasuk air minum) memang tak menjadi persoalan bagi warga Mangunsasri. Sebab, kebutuhan tersebut sudah tercukupi dengan air sumur kendati hanya bisa diambil pada saat-saat tertentu.

Namun air untuk mandi cuci, dan kakus (MCK), mereka harus "berjuang". Bahkan, tidak jarang warga mengambil air sendang dalam keadaan keruh. Sesampai di rumah, air tersebut kemudian diendapkan semalam agar jernih.

"Hujan yang belakangan mulai sering turun memang mengakibatkan sendang keruh. Jadi ya serbasalah. Karena itu, agar air sendang bisa dipakai ya diendapkan dulu," papar Furi (21), warga.

Furi mengemukakan, meski semua warga membutuhkan air bersih, kondisi tersebut tidak sampai menimbulkan antrean panjang, apalagi sampai berebutan.

"Mungkin lantaran masih ada sumur-sumur yang bisa ditimba, meskipun airnya tidak seberapa." (Ganug Nugroho Adi- 45j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA