
| Senin, 25 November 2002 | Jawa Tengah - Pantura |
Titik Rawan Di-ScothliteBATANG- Kesibukan menyambut arus mudik mulai terasa di Batang. Beberapa instansi yang terlibat sudah berkegiatan terutama yang menyangkut pelayanan umum. Jalan raya pantura Alas Roban yang sering menjadi pusat kemacetan mulai dibenahi. Untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pengendara yang lewat jalur itu, Kantor Perhubungan bekerja sama dengan Satlantas Polres Batang memasang tanda scothlite pada titik di ruas jalan yang rawan kecelakaan. Jalur di sana memang mulus dan lebar. Namun di beberapa tikungan masih gelap, karena belum ada lampu penerangannya. Tanda scothlite itu berupa patok besi yang di atasnya ada lingkaran bulat berwarna kuning. Tanda itu dipasang pada median (pembatas jalan) yang mudah terlihat. ''Bila malam hari, begitu terkena sorot sinar lampu tanda scoth- lite akan menyala. Ini pertanda peringatan pengemudi harus hati-hati, lantaran lewat titik rawan kecelakaan,'' ujar Kepala Kantor Perhubungan Bambang Hindrarso SH didampingi Kasatlantas Iptu Faizal saat memimpin pemasangan scothlite pada titik-titik rawan kecelakaan lalu lintas itu. Dia mengemukakan, sebenarnya di jalur pantura 45 km mulai dari Gringsing - Batang itu sudah ada lampu penerangannya. Meski sudah ada, masih terbatas terpasang pada tempat-tempat yang ramai dan rawan kecelakaan, seperti ibu kota kecamatan, persimpangan, dan beberapa tikungan tajam. Selain itu juga pada u-turn (tempat berputar) ruas jalan terpotong yang digunakan kendaraan berputar arah juga dipasangi tanda. Di tempat itu, terpasang banyak lampu mercuri sehingga dari jarak jauh sudah kelihatan terang. Di jalur pantura Alas Roban ada lima u-turn, yaitu di Kandeman dan Sawahan, Kecamatan Tulis, Jrakahpayung, dan di rest area Jatisari, Subah serta di Sembung, Limpung. Karena itu, untuk membantu pengguna jalan yang melewati di jalur pantura pada malam hari, pada titik rawan dipasangi tanda lingkaran scothlite di median atau pembatas jalan. Pemasangan meliputi dari Kota Batang ke timur dimulai dari Jalan Raya Tegalsari - tikungan depan RM Srikandi- depan Kantor Perhubungan. Jalan Raya Jrakahpayung - Sengon Barat - Sengon Timur - Jatisari Barat - Jatisari Timur. Tikungan Ciluba Kasatlantas Iptu Faizal mengungkapkan, meski jalan raya pantura sudah dilebarkan menjadi empat lajur seperti layaknya jalan tol, pengemudi tetap harus ekstrawaspada. Karena masih ada penggalan jalan yang rawan kecelakaan. Dia menyebutkan, misalnya di Jalan Raya Sengon, Subah Km 76 Semarang - Cirebon. ''Di penggal jalan yang di kawasan hutan jati itu, jalan menanjak dan menikung. Sementara itu pandangan terhalang atau istilahnya ada tikungan ciluba. Di ruas itu juga diberi tanda scothlite, sebab lokasinya persis di hutan jati yang belum berpenerangan.'' Selanjutnya, Jalan Raya Poncowati, Gringsing Km 56 dari timur jalan menanjak yang banyak tikungan tajam. Di jalan yang dibuat Gubernur Jenderal Daendels pada zaman penjajahan Belanda tersebut, kondisinya masih sempit karena hanya untuk dua lajur. Dari timur, jalannya memang jalan baru dan menanjak. Sebaliknya, dari barat terjadi turunan yang sangat curam. Masih di Gringsing, tepatnya untuk penggal Jalan Raya Plelen Km 54 sebelah barat tanjakan Poncowati depan SPBU, jalan lurus menyempit. ''Untuk itulah, kami mengimbau pengendara apabila ingin perjalanan lancar harus jalan pelan-pelan dan jangan coba-coba main serobot,'' imbau Iptu Faizal.(ar-17j) |