logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 25 November 2002 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Ramadan di Ihsanul Fikri, Melatih Kemandirian Siswa

RAMADAN in campus sekarang bukan hanya milik perguruan tinggi. Terbukti, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ihsanul Fikri Kota Magelang yang didirikan Yayasan Ihsanul Fikri dua tahun lalu juga menggelar acara serupa di kampusnya, Jalan Gajahmada 15 Kelurahan Gelangan.

Kegiatan diikuti 72 siswanya, terdiri atas kelas I dua kelas dan kelas II satu kelas.

"SDIT baru berdiri dua tahun lalu, sehingga baru membuka kelas I dan II," jelas Kepala Sekolah Arifin Mustofa AMd.

Dia menjelaskan, Ramadan bulan suci yang dirindukan kehadirannya oleh semua umat Islam. Bahkan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi umat Islam yang bisa berjumpa lagi dengan bulan suci yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah itu.

Berbeda dari kegiatan Ramadan di kampus perguruan tinggi yang boleh dikatakan nonstop 24 jam dengan berbagai kegiatan, di Kampus SDIT Ihsanul Fikri sebagian besar kegiatan berlangsung pada jam-jam sekolah. Kegiatannya dibagi tiga tahap, yaitu sebelum Ramadan, saat Ramadan, dan setelah Ramadan.

Pawai Taaruf

Kegiatan sebelum Ramadan berupa pawai taaruf, pawai andong hias keliling Kota Magelang pada 2 November diikuti semua pelajar. Tujuannya memberitahu masyarakat untuk mempersiapkan diri baik fisik maupun mental menyambut kedatangan Ramadan.

"Dengan diberitahu, masyarakat diharapkan benar-benar siap baik mental maupun fisik. Dengan demikian, bisa menjalankan amaliah di bulan penuh berkah tersebut dengan perasaan senang dan hati ikhlas mengharap rida Allah SWT."

Selain pawai taaruf, SDIT Ihsanul Fikri juga membagi selebaran kepada wali murid dan masyarakat sekitar yang berisi ucapan selamat menjalankan ibadah puasa serta permohonan maaf dari para pengelola SDIT Ihsanul Fikri.

Langkah demikian untuk mengembalikan ajaran Islam sesungguhnya, memasuki Ramadan hendaklah manusia menyiapkan diri dengan kebersihan hati dari segala kekotoran, kesalahan, dan kekhilafan yang telah diperbuat. "Dengan begitu kita terbebas dari beban yang dapat mengura-ngi ketenangan jiwa."

Kegiatan selama Ramadan dilaksanakan dua pekan, 11-23 November, diisi berbagai kegiatan tambahan di samping proses pembelajaran seperti hari biasa. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya difokuskan pada agama, namun juga kemandirian yang diisi dengan permainan edukatif, kepemimpinan, kerja sama memacu kreati-vitas.

Mengapa tidak difokuskan pada kegiatan yang bersifat agamais? Arifin mengemukakan, karena kegiatan agamais sudah menjadi kegiatan rutin bagi siswa SDIT Ihsanul Fikri setiap hari. Seperti praktik salat zuhur berjamaah, baca tulis Alquran, hafalan Alquran dan hadis.

Bila setiap hari terus-menerus diajarkan termasuk pada Ramadan, dikhawatirkan mereka akan bosan. Karena itu, harus ada kreativitas. Antara lain siswa diberi pelajaran membuat kartu Lebaran yang dikirimkan kepada orang tua masing-masing, dan kerajinan tangan lain. Juga diberi materi tentang sirah Nabi dan para sahabat. Tujuannya agar siswa bisa mengambil ibrah (contoh) perilaku Nabi dan sahabat dalam kehidupan sehari-hari.

Puncak kegiatan di Kampus SDIT Ihsanul Fikri adalah Malam Bina Imam dan Takwa (Mabit), 23-24 November. Yaitu acara bermalam di sekolah yang diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain cerita dongeng, pemutaran film islami, dan olahraga ringan.

"Para siswa juga dibimbing melaksanakan buka puasa, makan sahur, dan salat tarawih berjamaah. Pada akhir acara, semua siswa diberi cenderamata dan bingkisan Lebaran. Setelah itu sekolah libur."(Doddy Ardjono-74j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA