
| Senin, 25 November 2002 | Jawa Tengah - Banyumas |
''Permata Hati'' Latih Anak Puasa sejak BalitaBERIBADAH di bulan Ramadan, tak cuma milik lelaki/perempuan muslim yang sudah aqil baligh (dewasa). Anak usia di bawah lima tahun (balita), bisa mulai dilatih mengerjakan ibadah itu. Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (KB/TKIT) ''Permata Hati'' mencoba menerapkan itu. Selama 4 hari (11-14 Nomvember), sebanyak 117 anak, terdiri 77 anak TK dan 40 anak KB berlatih puasa di pesantren Cilik Ramadan. Kegiatan tak di kampus KB/TKIT itu di Jl Yos Sudarso 10A Kepatihan, Kelurahan Kutabanjar, melainkan di Mesjid Al Munawwaroh. ''Kami menggunakan masjid ini (Al Munnawaroh-red) agar anak-anak itu sejak dini mulai mengenalanya,'' kata Kepala KB/TKIT ''Permata Hati'', Budiman Yulianto SS di sela kegiatan itu. Kegiatan yang diselenggarakan KB/TK di bawah Yayasan Al Ukhuwah beda dengan siswa SD-SMU. Pelajaran berpuasa diberikan secara verbal (lisan), karena anak seusia itu belum mampu membaca. Pengasuh/pengajar mengucapkan beberapa ayat pendek. Contoh, surat Al Baqarah ayat 183, niat berpuasa, doa menjelang berbuka puasa. Lalu mereka diminta menirukan bacaan/surat-surat pendek itu. ''Alangkah baiknya jika di antara mereka segera mampu menghafal bacaan-bacaan singkat itu,'' ujar Budiman. Klasikal Kegiatan dilaksanakan dua jam, pukul 08.00 -10.00 setiap hari. Mereka dibagi per kelompok. Tiap kelompok terdiri 8-10 anak. Anggota kelompok dicampur antara yang duduk di kelompok bermain maupun TK. ''Digabung agar TK dan kelompok bermain bisa saling berinteraksi,'' lanjutnya. Suasana dibuat religius dan metode yang diterapkan bersifat klasikal. Anak perempuan berbusana muslim (berkerudung). Anak lelaki berbaju koko dan berpeci. Saat pelajaran, tiap kelompok bersila mengelilingi tentor/pengasuh. Hari pertama (Senin), diajarkan pengenalan berpuasa. Hari kedua (Selasa) materi masih seputar puasa, tapi lebih dispesifikasikan keutamaan ibadah puasa Ramadan. Hari ketiga (Rabu), praktik salat berjamaah. Namun Budiman menjelaskan, yang dipraktikkan adalah salat duha karena hanya 2 rakaat. Hari terakhir (Kamis), pelajaran zakat fitrah. Sebelum kegiatan ditutup, anak-anak itu berpraktik berzakat. Bingkisan itu diberikan ke anak panti asuhan dan kaum dhuafa, sekitar sekolah itu. Ditanya, dari mana untuk latihan berzakat itu? Budiman menjelaskan, sejak masuk di KB/TK tiap anak diminta mengumpulkan uang Rp 1.000-1.200 tiap hari Jumat. Setelah uang terkumpul untuk praktik berzakat. Alumnus FS UGM Yogya itu mengatakan, pendidikan agama bagi anak seusia itu, suatu hal yang tak bisa ditawar. Mengutip pakar pendidikan, masa itu sebagai golden age (masa emas). Memberikan pendidikan agama pada anak seusia ibaratkan mengukir pada batu. ''Masa itu, otak (memori) si anak akan merekam secara cepat ribuan pengalaman dan aktifitas sehari-hari dan akan dibuka lagi ketika dewasa,'' ujarnya. KB/TK yang berdiri 18 Oktober 1998, awalnya hanya memiliki 7 murid. Tahun kedua mampu menjaring 13 anak. Tahun keempat naik sebanyak 53 Anak. ''Alhamdulillah tahun ini sudah mencapai 117 anak,'' tambahnya. Meski memiliki murid lebih dari seratus anak, lembaga pendidikan/bermain itu belum memiliki gedung. Saat ini 'kampus' untuk KB dan TK yang berada di dua lokasi terpisah, masih mengontrak. ''Gedung TK di Jl Yos Sudarso mengontrak rumah milik Pak Sapan, mantan kepala Deppen Banjarnegara,'' ujarnya. (Tjeffi Hidayat-47) |