
| Senin, 25 November 2002 | Jawa Tengah - Banyumas |
Pengumuman Seleksi CPNS Dicorat-coretPURBALINGGA- Sejumlah peserta tes CPNS mengaku kecewa dengan pengumuman yang ditampilkan. Kekecewaan itu dituangkan dalam coretan bernada sinis pada pengumuman yang dipasang di pojok Alun-alun, yang berbunyi 'Tidak Transparan'. Peserta sebetulnya sangat memahami bila harus tersisih namun mestinya nilai tes juga diumumkan secara transparan. Di pengumuman hanya tertulis: Jenis Formasi, Jumlah Formasi, dan Nomor Testing. ''Saat hendak tes tertulis, Bupati memang meminta untuk legawa kepada para peserta. Namun kalau hasil nilai tes kami saja tidak tahu, bagaimana harus bersikap legawa. Sebenarnya kami itu tidak diterima karena nilainya yang jeblok atau karena ada kebijakan lain,'' keluh sejumlah peserta yang masih melihat pengumuman itu Minggu (24/11). Peserta juga melihat kejanggalan pasca pengumuman. Kenapa dari 152 formasi yang dibutuhkan, yang diumumkan diterima tahap I langsung 152 orang. ''Buat apa pelaksanaan seleksi tahap II. Tahun-tahun lalu saja setiap ada seleksi CPNS pasti ada peserta yang gugur saat wawancara. Apakah nanti ada yang digugurkan, toh semuanya yang dibutuhkan sudah pas 152 orang,'' ujarnya. Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) Drs Mustangin menilai pelaksanaan seleksi CPNS pada era reformasi ini masih belum transparan. Mestinya, pelaksanaan seleksi ini menjadi barometer bahwa pemerintahan yang tengah berjalan benar-benar bebas dari KKN. Dia juga menilai, seleksi ini banyak mengecewakan dan terkesan sekadar formalitas. Publik Bertanya ''Seandainya Pemkab mau total memperlihatkan sikap keterbukaannya mestinya nilai tes dipaparkan kepada publik. Dengan cara ini peserta bisa puas meski sekalipun tidak diterima sebagai CPNS. Pengumuman yang ditampilkan tanpa ada rincian nilai justru membuat publik semakin bertanya-tanya, ada apa di balik ini,'' katanya Minggu (24/11). Tanpa bermaksud menuduh adanya KKN dalam pelaksanaan seleksi CPNS ini, Mustangin juga menilai bahwa pelaksanaan ujian masih terkesan formalitas belaka. Hal tersebut akan semakin dikuatkan dengan pelaksanaan seleksi tahap II berupa tes wawancara. Dari jumlah yang dibutuhkan 152 formasi, ternyata yang dipanggil juga sebanyak itu alias pada tahap pengumuman I yang diloloskan langsung 152 orang. Berbeda dengan kabupaten lain di Jawa Tengah. Pemkot Semarang yang membutuhkan sekitar 500 formasi, pada tahap I yang lolos tes tertulis 903. Dengan demikian masih ada 403 peserta yang tersisihkan. Cara ini setidaknya menghilangkan gambaran bahwa seleksi tahap II tidak sekadar formalitas. ''Kalau di Pemkab yang dibutuhkan 152 ternyata yang maju seleksi wawancara 152, berarti sama saja tidak perlu ada seleksi wawancara. Toh mereka akhirnya diterima semua,'' ujarnya. Mustangin menilai alasan panitia untuk tidak mengumumkan nilai tes karena demi menjaga rahasia negara, tidak bisa diterima. Sebab hasil seleksi adalah kebutuhan publik, bukan rahasia negara. Dokumen rahasia negara mestinya yang menyangkut keutuhan suatu negara. (F10-68) |