logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 25 November 2002 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

496 KK Cemaskan Ancaman Banjir Bandang

  • Normalisasi Sungai Terhambat

MAJENANG- Hujan yang terus mengguyur wilayah Cilacap barat kembali membuat cemas sekitar 496 lebih kepala keluarga (KK) warga Desa Tayem Timur, Karangpucung dan Sindangbarang Kecamatan Karangpucung Cilacap.

Mereka khawatir terancam banjir sungai Dermaji yang sewaktu-waktu meluap kembali. Pasalnya, upaya normalisasi sungai berupa penyudetan dan pengerukan lumpur sedimentasi pascabanjir bandang tahun lalu, sampai sekarang belum terlaksana juga. Proyek itu dijanjikan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Serayu-Citanduy Purwokerto

Saat ini tingkat sedimentasi akibat erosi hulu Sungai Dermaji dan Sungai Pangkalan di Desa Dermaji Kecamatan Lumbir Banyumas, tingginya mencapai dua meter. Endapan itu terdapat sepanjang hilir sungai dari Desa Tayem Timur hingga jembatan Karangpucung di jalur selatan Purwokerto-Bandung.

Empat lokasi penyudetan yang panjangnya sekitar 1.200 meter di Desa Tayem Timur juga masih terkatung-katung belum ada tanda-tanda pengerjaan.

Bantaran Sungai

Warga yang terancam banjir itu meliputi 196 KK warga Dusun Ciampel dan Karangayar Desa Tayem Timur, 250 KK Dusun Cijalu, Ujunggenteng dan Dusun Karangpucung Desa Karangpucung serta sekitar 50 KK warga Desa Sindangbarang khususnya yang berada di sepanjang bantaran sungai.

Kepala Desa Tayem Timur Wasbir (46) kepada Suara Merdeka Sabtu lalu menjelaskan, setelah terkena banjir beberapa kali, pihaknya telah berulang kali mengajukan permohonan normalisasi sungai ke BPSDA Purwokerto dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkab Cilacap.

Banjir bandang tahun lalu melanda sedikitnya 196 rumah, 42 ha areal persawahan, 12 lokal gedung sekolah, perkantoran, sarana ibadah serta terputusnya jalan penghubung Desa Tayem Timur dengan Desa Dermaji

Kata dia, permohonan tersebut sudah disetujui dan mestinya bulan September lalu sudah dimulai, tetapi sampai sekarang belum dilaksanakan.

Hal sama diungkapkan Kepala Desa Karangpucung Tasimin (40). Menurutnya, saat ini lumpur yang menutup sungai sedimentasinya mencapai dua meter lebih sehingga terkena banjir sedikit saja air sungai pasti meluap.

Terlalu Rendah

Ditambahkan, pilar jembatan Karangpucung posisinya juga terlalu rendah sehingga bisa terancam putus dan menghambat arus air.

''Lihat saja di bawah jembatan sebelah barat lumpurnya hampir mendekati pilar jembatan. Kalau tidak segera di keruk bisa menyebabkan banjir. Karena sungai menjadi dangkal, sehingga airnya idak dapat mengalir normal.''

Warga menuturkan, mereka mengaku trauma atas bencana banjir yang sering menimpanya. Karena berbagai upaya seperti membentengi tanggul sungai dengan krosok batu sudah dilakukan. Namun upaya itu juga sia-sia sebab setiap kali musim hujan pasti sungai Dermaji meluap.

Camat Karangpucung, Supriyadi SSos mengatakan, masalah pendangkalan sungai Dermaji salah satunya diakibatkan adanya penggundulan hutan di sepanjang daerah hulu maupun alih tanam oleh Perhutani dari hutan jati menjadi hutan pinus. Sedangkan mengenai usulan tiga desa tersebut pihaknya juga telah menyampaikan permohonan ke Pemkab Cilacap. (yud-47)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA