
| Senin, 25 November 2002 | Jawa Tengah - Pantura |
Didatangi Dewan, 200 Pelacur SembunyiSLAWI- Imbauan dari berbagai pihak yang menginginkan selama Ramadan tempat-tempat yang digunakan berbuat maksiat ditutup ternyata tak semua dipatuhi. Hal itu terlihat di lokalisasi Dukuh Peleman, Kecamatan Suradadi. Sabtu (23/11) lalu, saat rombongan Komisi E DPRD Kabupaten Tegal melakukan kunjungan kerja, justru sebagian besar penghuni menutup pintu rumah rapat-rapat. Warga menuturkan, para pelacur kebanyakan pergi keluar, sebagian lain mengunci diri di dalam rumah. ''Begitu mendengar ada kunjungan, semua penghuni pergi. Mungkin masih ada satu-dua yang bertugas menjaga rumah. Mereka kebanyakan trauma jika digaruk polisi,'' ungkap salah satu ketua kelompok, Taswadi (55). Dia mengungkapkan, selama Ramadan aktivitas pelacur dalam melayani tamu memang berkurang. Mereka dapat melayani sekitar pukul 21.00-24.00. Melihat kondisi demikian, Ketua komisi E H Maskuri BA tampak heran. Meski Ramadan, masih saja ada kesempatan untuk berpraktik mesum. ''Kami memang tidak dapat menutup mata. Sesuai dengan peraturan, adanya lokalisasi tidak bisa dibenarkan. Namun kami pun harus bertanggung jawab mencari solusi yang tepat.'' Maskuri mengemukakan, tujuan anggota Dewan mendatangi lokalisasi Peleman lantaran ingin mengetahui sejuah mana pelaksanaan imbauan selama Ramadan agar ditutup itu ditaati. ''Jika bisa ditutup selamanya. Namun banyak faktor yang menjadi kendala.'' Sementara itu, ujar Camat Suradadi Hasan Munawar, kebanyakan para pelacur di Peleman itu dari luar daerah. Dan, 90 rumah di sana kebanyakan dikontrakkan kepada mucikari. ''Sebagian pemilik rumah tidak di sini. Biasanya itu dikontrakkan dan kemudian dihuni beberapa wanita.''(G12-17j) |