
| Senin, 25 November 2002 | Jawa Tengah - Pantura |
''Syamsul Seharusnya Menuntut Saya''BREBES- ''Syamsul (maksudnya Syamsul Bayan SH MH-Red) seharusnya menuntut saya. Bukan kepada Ketua Dewan Sarei Abdul Rosyid SIP,'' tandas Royani Anwarun, kemarin (24/11). Mengapa Syamsul harus menuntutnya? Sekretaris PAC PDI-P Brebes itu mengemukakan, karena dialah yang mengantarkan Syamsul Bayan hingga menjadi salah seorang bakal calon wakil bupati yang dipasangkan dengan Indra Kusuma BcKn. Dia mengungkapkan, perannya dalam memfasilitasi Syamsul relatif besar. Karena waktu itu, yang mengenalkan dengan orang-orang PDI-P adalah dia. Sayang dalam perjalanan babak berikut, kapten AU (Purn) dari Tonjong, Brebes itu kandas, lantaran namanya tak muncul dalam bursa calon tetap yang diusulkan fraksi-fraksi. Royani mengatakan, gugatan perdata Syamsul lewat Pengadilan Negeri Brebes yang ditujukan kepada Ketua DPRD Sarei Abdul Rosyid adalah hak Syamsul untuk menggugat. ''Sarei siap meladeni gugatan tersebut. Bahkan dia menilai, apa yang dilakukan Syamsul cenderung mengada-ada.'' Seseorang yang terlibat dalam proses pencalonan bupati atau wakil bupati, ucap Royani, sangat tidak mungkin untuk tidak mengeluarkan uang. ''Maksud saya, uang itu bukan untuk money politic. Artinya, orang yang mengadakan hajat besar (mencalonkan sebagai wakil bupati-Red), tidak mungkin tanpa menyediakan sesuatu (uang). Itu sebuah konsekuensi yang harus ditanggung.'' Dalam kaca mata lelaki yang pernah menduduki peringkat kedua dalam rakercabsus PDI-P itu, siapa pun boleh saja mengajukan gugatan pilkada. Namun hal itu tidak dapat menghentikan proses politik yang dilakukan Dewan yang klimaksnya pada 28 November, ditandai dengan pelantikan pasangan terpilih Indra Kusuma BcKn dan Achmad Faris Sulchaq SH SpN. Berbicara kilas balik carut-marut pilkada lalu, ujar Royani, harus dipahami sebagai biaya politik yang sangat mahal. Setelah segalanya berlalu, semua pihak harus berpikir bahwa pilkada lalu menyebabkan warga capai menunggu. Ketika kini sudah ada keputusan, memang tidak bisa memuaskan semua pihak. ''Perbedaan-perbedaan yang muncul selama pilkada hendaknya diambil hikmah. Lupakan apa yang sudah terjadi. Mari kita duduk satu meja untuk bersama-sama membangun Kabupaten Brebes.''(wh-17j) |