logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 25 November 2002 Budaya  
Line

Mengkaji Sajak Sufistik Wali Eropa

DIIRINGI musik zipin serta penguasaan teknik deklamasi yang mumpuni, penyair Hamid Jabbar dengan kidmat melantunkan sajak Penari sembari menari dan menyanyi.

Selama 15 menit lebih, audience yang memadati ruang perpustakaan British Council, Gedung S Widjojo Centre Lantai 1 Jl Jend Sudirman Kav 71 Jakarta Pusat, itu seolah terbius, diam terpaku. Begitu syair terakhir sajak karya Dr Martin Lings itu disudahi, meledaklah tepuk tangan penonton.

Selanjutnya, dengan bersahaja -tanpa alunan musik zipin- Duta Besar Inggris untuk Indonesia Richard Gozney membacakan sajak Burung-burung dalam versi aslinya The Birds. Kemudian, tampil pemain sinetron Rieke Diah Pitaloka yang mengusung dengan manis sajak Taman. Sayang, pada akhir pembacaannya Rieke "melukai"pembacaannya sendiri dengan melafalkan kata "cinta" dengan "cina".

Seterusnya, berurut-turut tampil dengan datar pesohor dan aktivis HIV Baby Jim Aditya. Ia membawakan sajak Pertanyaan. Acara baca sajak itu, dipamungkasi dengan apik oleh penampilan pengacara papan atas Todung Mulya Lubis melalui sajak Kesediaan.

Pembacaan puisi sufistik karya Dr Martin Lings -seorang intelektual Islam dan penyair sufi modern dari Inggris- yang telah dialihbahasakan dengan kandungan sastra yang baik oleh Abdul Hadi WM tersebut, diselenggarakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan.

Acara yang terselenggara atas kerja bareng British Council dan Pusat Studi Islam Paramadina, Jumat (22/11) malam lalu, itu mengambil tema "Ekspresi Kerohaniaan dan Estetika Sufi Melalui Puisi-Puisi Martin Lings".

Wali Modern

Acara yang dilanjutkan dengan pembahasan puisi tersebut oleh penerjemahnya, Abdul Hadi WM, itu berlangsung dengan gayeng. Betapa tidak. Abdul Hadi dengan detil menarasikan kesejarahan perjalanan kepenyairan Lings. Penyair kelahiran Burnage, Lancashire Inggris 1909 itu, belajar sastra Arab dan Inggris di Oxford University dan London University. Setamat dari dua universitas itu, ia mengajar sastra Inggris di Universitas Kaunas, Lithuania pada 1935.

Selanjutnya, pada 1939 hingga 1952 Lings mengajar sastra Inggris kajian Shakespeare di Universitas Cairo Mesir. Ia juga pernah menjadi konsultan untuk The World of Islam Festival Trust dan menjadi anggota The Art Council Committee untuk sebuah pameran The Art of Islam.

Lings yang dikenal sebagai pelopor pendekatan filsafat parenial (tasawuf) dalam bidang studi agama itu, dalam sajaknya -sebagaimana kebanyakan para sufi pada umumnya- menjadikan puisi sebagai media ekspresi keindahan kerohanian terdalam untuk menyampaikan pesan.

Ungkapan-ungkapan puisi religius dalam sajak Lings, memang terasa asing bagi pembaca puisi kontemporer, yang terbiasa menempatkan kerinduan kepada Tuhan sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Lebih-lebih dalam persajakan Inggris. Jika Tuhan muncul juga dalam sajak-sajak mutakhir, ia adalah Tuhan yang diragukan keberadaannya dan absurd.

Dalam pembahasan lebih lanjut, intelektual Islam yang juga Rektor Universitas Paramadina Prof Dr Nurcholish Madjid mengutarakan, kekuatan Lings dalam persajakan maupun tulisan ilmiahnya adalah buah hasil dari kemampuannya melakukan pengembaraan (adventure) untuk mempelajari semua agama yang ada di muka bumi ini.

Melalui sinkritisme, ia menghadirkan seluruh kitab suci sebagai guru inabsentia; dan pada akhirnya Lings memeluk Islam serta mengganti namanya menjadi Abu Bakr Siraj ad-Din). Ia berikhtiar membawa agama Islam untuk menjawab tantangan kemodernan.

Dalam konteks itulah, jasa besar Martin Lings; menjelaskan Islam dalam konteks modern kepada masyarakat Eropa melalui khasanah intektual yang tertulis lewat sajak dan buku-buku ilmiahnya.

Tidak salah, jika Nurcholish Madjid menyejajarkan Lings dengan para sufi Eropa lainnya, seperti Titus Burckhardt, Rene Guenon, dan Fritjhof Schuon, sebagai Wali Eropa masa kini.(Benny Benke-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA