logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 18 November 2002 Tajuk Rencana  
Line

Hu Jintao di Tengah Masa Transisi Cina

- Seperti sudah banyak diduga, akhirnya Hu Jintao diangkat sebagai Sekjen Partai Komunis Cina, partai berkuasa dan satu-satunya partai politik di negara tersebut. Berarti dia menjadi pemimpin baru di negara berpenduduk 1,3 miliar itu menggantikan Jiang Zemin. Suksesi di Cina begitu mulus dan nyaris tanpa gejolak seperti di masa-masa sebelumnya. Ketika Jiang muncul sebagai pemimpin tahun 1989 terjadi peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Tragedi Tiananmen. Kala itu terjadi gerakan demo mahasiswa besar-besaran yang akhirnya dilawan dengan kekuatan militer. Kali ini suksesi benar-benar mulus, karena tak lepas dari peran Jiang dalam mengaturnya. Kendati Hu Jintao yang kini menjabat wakil presiden akan diangkat sebagai presiden Maret tahun depan, namun pengaruh politik Jiang masih akan cukup kuat.

- Inilah yang disebut dengan masa-masa transisi itu. Bukan berarti tak ada keberanian untuk melakukan perubahan secara radikal dan drastis, melainkan itulah salah satu pola yang dipakai. Yaitu pemimpin baru disiapkan oleh yang lama dan tidak langsung dilepas penuh. Hal itu mirip dengan yang terjadi di Singapura, tetapi berbeda dari kebanyakan negara di dunia. Biasanya perubahan kepemimpinan nasional juga dibarengi oleh perebutan kekuasaan dan akhirnya pemerintahan baru bersikap disasosiatif terhadap rezim sebelumnya. Cina tak ingin ada gejolak yang terlalu besar dalam panggung politik, meskipun bukan berarti tak ada perubahan apa-apa. Tampilnya pengusaha dalam panggung politik adalah bagian dari perubahan itu. Mereka menyadari selama ini justru pengusahalah yang banyak berperan memajukan negerinya.

- Proses transisi yang bertahap terlihat dari mundurnya seorang pemimpin yang sudah berkuasa lebih 12 tahun, yakni Jiang Zemin. Sampai dengan terpilihnya Hu Jintao, dia masih berperan banyak di belakang layar. Besarnya pengaruh Jiang Zemin terlihat jelas dalam penentuan anggota Komite Tetap Polit Biro di PKC. Hanya satu dari sembilan orang yang tidak mempunyai kedekatan atau tidak disiapkan oleh tokoh yang akan menjadi legenda baru Cina setelah Mao Zedong dan Deng Xiaoping itu. Pun Jiang masih menjabat Komisi Militer Sentral yang amat strategis. Apakah dengan demikian suksesi menjadi terhambat? Tidak juga. Lebih tepat dikatakan, perlunya masa transisi dalam peralihan kepemimpinan agar tidak menimbulkan konflik dan krisis. Dan rupanya Hu Jintao menyadari pula hal itu.

- Ini bukan soal perebutan pengaruh atau kekuasaan. Apalagi memang tak ada konflik internal di partai tersebut. Konsep atau teori Tiga Perwakilan yang digagas Jiang Zemin telah diterima dalam Kongres PKC, sehingga lebih akan menjadi amanat yang harus dilaksanakan. Teori baru itu makin mengukuhkan sistem ekonomi pasar yang akan dianut dan menjadi bagian vital dari reformasi ekonomi dan politik yang bakal terus dilakukan. Terobosan penting dalam teori tiga perwakilan adalah masuknya kelompok pengusaha dalam panggung politik dan sistem kekuasaan. Bagi kelompok bisnis di negara itu, dengan lebih banyak pengusaha yang aktif di politik, akan dapat diserap dan diperjuangkan aspirasi mereka. Salah satu prinsip demokrasi adalah keterwakilan. Tidak salah bila pengusaha yang telah begitu banyak peran diberikan tempat.

- Walaupun masih dalam bayang-bayang Jiang Zemin, tidaklah berarti Hu Jintao hanyalah akan menjadi boneka. Para pengamat memberikan pujian khusus kepada Hu Jintao yang dinilai akan lebih liberal. Dengan sikap seperti itu bisa diharapkan percepatan dalam transformasi Cina menuju demokrasi. Dia banyak memakai sistem pegawai pemerintah gaya Barat termasuk dalam perekrutan pejabat publik. Hu juga dianggap mampu melakukan perombakan dan modernisasi dalam menata organisasi partainya. Tetapi tokoh ini pun tak akan pernah melakukannya dengan terlampau cepat. Dia masih akan cukup sabar dengan proses transisi yang harus dijalani sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan politik. Sampai betul-betul berkuasa penuh, baru akan dilakukan berbagai perubahan sesuai dengan prinsip dan pemikiran sendiri.

- Yang jelas masa depan Cina begitu cerah sekaligus juga menghadapi banyak masalah di dalam negeri. Problem pengangguran masih akan menjadi prioritas program, kendati kemajuan dan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut sangatlah spektakuler. Maklumlah, jumlah penduduk yang demikian besar akan menjadi tekanan bagi ketenagakerjaan. Di samping itu, Cina masih harus terus menata sistem perbankannya yang belum baik. Terlepas dari persoalan dalam negeri, dalam kancah global negara itu akan makin memainkan peran kunci baik secara ekonomi, politik, maupun militer. Kemulusan suksesi di negara itu sebenarnya bisa menjadi barometer tentang prospek negeri tirai bambu itu di masa depan. Ia akan cukup membuat repot triad power ekonomi selama ini, yakni Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA