
| Senin, 18 November 2002 | Tajuk Rencana |
Imbauan Chozin dan Harapan Kita- HM Khozin, salah seorang kakak Amrozi, pada hari Kamis menyampaikan imbauan yang sangat menyentuh. Ia minta Ali Imron, adik Amrozi yang berarti juga adik Chozin, menyerah saja kepada polisi. Ia berharap penyerahannya akan membantu pemecahan masalah lebih cepat oleh polisi. Ali yang menghilang dari rumahnya di Solokuro dan sekarang entah ada di mana, oleh Amrozi disebut sebagai anggota keluarga yang lain yang terlibat dalam pengeboman di Kuta, Bali. Amrozi sebelumnya juga telah berkirim pesan kepada keluarganya yang meninggalkan rumah agar kembali saja. Ia mengatakan, yang terlibat dalam bom Kuta hanya ia dan adiknya. Kita tidak tahu latar belakang kemunculan pesan-pesan itu. Tetapi andaikata Ali Imron menyerah, memang sangat besar artinya. - Setidak-tidaknya ada dua hal yang terkait dengan adik Amrozi itu. Pertama, berbeda dari Amrozi yang ketika bom meledak sudah kembali ke kampung, Ali justru disebut-sebut sebagai salah se-orang pelaku di lapangan. Karena itu, ia memiliki keterangan lengkap tentang proses pengeboman dan pelaku lainnya. Kedua, ia juga disebut-sebut sebagai orang yang paling tahu proses penyembunyian sejumlah senjata dan amunisi yang ditemukan di hutan Dadapan, tak jauh dari rumah tempat tinggal mereka di Solokuro. Penemuan senjata dan amunisi itu memunculkan teka-teki besar. Misalnya tentang hubungan antara para tersangka pelaku pengeboman Bali dan senjata-senjata itu. Juga tentang dari mana bahan-bahan itu diperoleh, apa hubungannya dengan aktivitas mereka. - Minggu kemarin di Denpasar tim gabungan penyelidik bom di Bali mengungkapkan salah satu hasil penelitian hingga tahap sekarang. Tersangka pelaku pengeboman itu ada tujuh orang. Yaitu Amrozi, Ali Imron, Imam Samudra, Idris, Umar, Mu-khlas, dan Martin. Selain Amrozi, mereka diyakini masih ada di dalam negeri. Ali bahkan diduga masih ada di sekitar Lamongan. Karena itulah polisi beberapa kali melakukan penggeledahan di Desa Solokuro. Dari keterangan sebelumnya sudah diperoleh informasi tentang peran enam orang tersebut dalam pengeboman. Imam Samudra alias Khudama dan Idris, diduga sebagai pemegang peran utama. Khudama sebagai perencana serta perakit bom dan Idris menyerahkan biaya operasional kepada Amrozi. Lainnya para pelaku dan pembantu. - Keterangan Ali Imron bisa diharapkan akan memperkuat atau sebaliknya membuyarkan pengakuan Amrozi. Hingga kini masih banyak yang belum percaya bahwa Amrozi pelaku pengeboman di Kuta. Bahkan ada yang menduga penangkapan itu hanya sebagai rekayasa Polri. Mereka mengingatkan kasus Iwik dan Udin. Mantan Kabakin ZA Maulani dan mantan anggota intelijen TNI Suripto masih yakin bahwa AS ada di balik peristiwa bom Bali. Maulani tidak percaya Amrozi mampu merakit bom sedahsyat itu, karena di dalam negeri tidak ada bahan-bahannya. Kecuali itu, "kepolosan" Amrozi tampaknya telah memperkuat keraguan itu. Meskipun harus dicatat pula, rekayasa di sana sebenarnya sesuatu yang lebih riskan karena tim peneliti juga termasuk petugas-petugas asing. - Pengakuan Amrozi bisa dinilai sebagai sikap jantan, bisa sebagai rekayasa Polri, bisa pula karena ia memang sudah sangat terpojok. Berbagai barang bukti di sekitar dirinya memperkuat dugaan bahwa ia salah seorang pelaku penting. Misalnya ditemukannya sekitar 100 kg bahan peledak di rumahnya, tiket pesawat Surabaya-Manado-Mindanao yang diduga akan segera digunakan, liku-liku Colt L 300 yang dijadikan mobil bom, temuan senjata di hutan Dadapan, dan lain-lain. Sikap Amrozi boleh saja diperbandingkan dengan sikap Ustaz Abu Bakar Ba'asyir yang justru tidak kooperatif dengan polisi. Memilih tidak berbicara. Keduanya berhak mencari cara sendiri-sendiri. Pada hemat kita sikap kooperatif akan membantu mempercepat pemecahan masalah. Tidak malah menimbulkan kecurigaan. - Orang bebas berpendapat dan mengomentari kasus tersebut. Namun, akan lebih baik kiranya jika pendapat dan komentar berguna untuk membongkar kasus besar itu secepatnya. Bukan malah mempertentangkan atau berkomentar dari itu ke itu saja yang tidak membantu usaha menyelesaikan persoalan pokok. Ada anggota tim peneliti yang heran mendengar komentar yang ngalor-ngidul itu. Tim peneliti itu, yang seharusnya sangat tepercaya karena selain dari Indonesia berperan pula ahli dari berbagai negara, telah mengungkapkan enam tersangka pelaku. Sebaiknyalah kita menanti kelanjutan dari temuan itu. Penyebaran foto tersangka mengharapkan peranserta masyarakat luas untuk memberi informasi. Kita semua berkepentingan dengan kecepatan proses agar masyarakat segera terbebas dari keraguan dan saling curiga. |