
| Senin, 18 November 2002 | Berita Utama |
''Pernah Dimuat Sekali, tapi Surat Pembaca''UNGKAPAN kekecewaan di atas merupakan sebagian ''protes'' dari 200 santri peserta Sarasehan Jurnalistik Pesantren yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Sabtu (16/11). Mereka protes, karena merasa sudah berpuluh kali mengirim tulisan ke berbagai media massa cetak, termasuk Suara Merdeka, tetapi tidak pernah dimuat. ''Apa hanya karena tulisan orang pondok, lantas dikruwes begitu saja,'' tanya Abdul Azis. Sarasehan Jurnalistik Pesantren yang digelar kerja sama harian Suara Merdeka dengan PT Indofood Sukses Makmur, Kanwil Depag, dan Pemprov Jawa Tengah itu berlangsung meriah. Sedikitnya 200 santriawan dan santriwati dari 50 pondok di Banyumas dan Cilacap mengikuti kegiatan langka itu. Bahkan, puluhan pelajar yang gandrung dunia jurnalistik datang ke sarasehan. Seperti Fitrohatun, utusan IPPNU Banyumas, mempertanyakan apakah media massa di Indonesia tidak punya kiat untuk menyiasati black issue tentang Indonesia yang dibuat puluhan media luar negeri. Dia tampaknya terpancing oleh ''umpan'' Drs Sutrisna, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka. Dia malah balik menuduh, ''Atau justru media di Indonesia ikut membesar-besarkan isu-isu yang belum tentu benar itu?'' Sedikitnya dua belas pertanyaan para santri dilontarkan. Meski waktu yang disediakan hanya dua jam untuk tiga narasumber, karena acara pembukaan molor satu jam, toh itu bisa terjawab semua. Narasumber dalam sarasehan itu adalah Drs H Sutrisna (Pemred Suara Merdeka), H Sudarto SAg (Redaktur Pelaksana), dan H Thobari HR (Sekretaris Redaksi), dan dimoderatori H Agus Fathuddin Yusuf (Redaktur Nasional).. Sutrisna menjelaskan, berita-berita yang ditulis di koran sebagian didominasi oleh sumber media asing. Terutama foto-foto yang begitu mudah dan cepat didapat oleh media asing. Koran di Indonesia pun, mau nggak mau memanfaatkan kemajuan teknologi mereka. ''Seolah-olah negara ini sudah menjadi objek media asing. Sementara kita, apalagi umat Islam, masih lemah, tidak punya tameng untuk itu,'' jelasnya. Tidak selamanya bangsa Indonesia dijadikan objek media asing tersebut. Karena itu, kata Sutrisna, melalui kegiatan sarasehan jurnalistik pesantren ini, dicoba dicari bibit-bibit penulis andal dari Pondok yang mau membangun dan memperbaiki citra bangsa Indonesia. Tantangan bangsa Indonesia sekarang makin besar, sebab kemajuan komunikasi dunia Barat telah makin maju. Dia menjelaskan, walau media asing mendominasi berita-berita koran di Indonesia, khusus Suara Merdeka, masih membandingkan dengan sumber berita dalam negeri. Sudarto SAg menambahkan, bangsa Indonesia masih tertinggal dalam dunia informasi. Untuk membangunnya dapat dimulai dari yang kecil-kecil. Salah satunya bagaimana masyarakat Indonesia, terutama umat Islam, mampu menjadi pelaku/penulis dengan mengirim ke penerbitan setempat. ''Syukur para santri di pondok pesantren dapat memulainya dengan membentuk penerbitan lokal untuk mengasah kemampuan menulis,'' jelasnya. Dimulai dengan usaha-usaha seperti itu, kelak tidak ada perasaan minder kalau tulisan para santri dinomorsekiankan. Tulisan para santri tidak melulu dimuat di rubrik surat pembaca. Bagaimana untuk mengasahnya? Menurut H Thobari HR, untuk menjadi penulis, insting jurnalistik harus diasah. ''Wartawan atau calon penulis tidak boleh acuh tak acuh. Rasa ingin tahu dan memberi tahu informasi kepada masyarakat harus dikembangkan.'' Di samping menguasai teknik-teknik jurnalistik, novelis Ahmad Thohari yang melakukan ''intervensi'' pada acara itu, dengan mengamini petuah Gus Dur, menambahkan, para santri harus selalu mempertahankan sikap prihatin. ''Dengan menambah bacaan apa saja merupakan salah satu bentuk keprihatinan itu. Gus Dur dan Gus Mus kenapa mereka mampu menulis puluhan buku, karena lebih suka membaca,'' terangnya. Sedangkan Pemimpin Pondok Al-Falah KH Mohammad Sobri mengingatkan, tantangan dari dunia luar makin luar biasa. Karena itu, para santri kalau ingin menjadi penulis harus membekali dengan kejujuran dan tabayun, sehingga sesuai dengan kenyataan. Demikian pula Kepala Depag Banyumas Drs Ahya Ulumudin yang mewakili Bupati Banyumas mengatakan, dengan kegiatan ini diharapkan muncul ilmu-ilmu baru di kalangan santri. Pandangan mereka tidak sempit, sehingga mampu menulis berita apa adanya, bukan ada apa-apanya. (Jamaludin Al-Ashari-64t) |