
| Senin, 18 November 2002 | Berita Utama |
Buron Bom Bali Diduga di Solo
SOLO-Aparat kepolisian terus mengejar beberapa nama yang diduga terkait kasus bom Bali. Meski saat ini belum ada tanda-tanda yang mengindikasikan keberadaan para buron, tapi Kapolwil Surakarta menegaskan ada dugaan buron itu kini bersembunyi di wilayah hukumnya. ''Dengan kedatangan tim gabungan investigasi kasus Bali ke wilayah kami, maka ada dugaan para buron itu bersembunyi di sini. Tetapi ini baru sebatas dugaan, jadi kami belum bisa menyebutkan tempat-tempat yang dicurigai itu,'' papar Kapolwil Surakarta Kombes Pol Hasyim Irianto, di Mapolwil Surakarta, Minggu petang. Tim yang sudah datang ke Solo beberapa hari lalu itu, lanjut Hasyim, dimungkinkan masih berada di wilayah hukum Surakarta untuk melakukan tugas pemantauan dan mengawasi tempat-tempat yang dimungkinkan dipakai para buron bersembunyi. ''Kami kurang tahu keberadaan tim itu, tapi yang jelas hingga saat ini mereka belum melapor pada kami bahwa telah meninggalkan Surakarta,'' kata Hasyim yang tetap mengelak menyebutkan tempat-tempat yang diduga menjadi persembunyian para buron kasus bom Bali, terutama Imam Samudera dan Umar alias Patek. Ketua tim investigasi Kasus Bom Bali Irjen Pol I Made Mangku Pastika menyebutkan, Umar alias Patek sebagai salah satu tersangka dalam peledakan bom yang menewaskan lebih dari 180 orang itu. Umar disebut-sebut beralamatkan di Solo, Pemalang, dan Yogyakarta. Sedangkan Imam Samudera yang diduga sebagai otak aksi itu, disebutkan masih berada di Indonesia dan bersembunyi di suatu tempat yang sensitif. ''Kami tidak tahu keberadaan buron mereka dan untuk menjelaskan masalah itu juga bukan wewenang saya, melainkan wewenang tim yang dibentuk Mabes. Tapi memang ada dugaan buron bersembunyi di Solo dan sekitarnya. Hal itu dapat dilihat dari tim yang dikirim ke sini,'' tegas Kapolwil Surakarta. Bebaskan Ba'asyir Sementara itu, di Solo kemarin terjadi unjuk rasa yang menuntut pembenahan berbagai kebijakan pemerintah, seperti pemberlakuan Perpu Antiterorisme dan pengambilan paksa Ustaz Abu Bakar Ba'asyir dari RS PKU Muhammadiyah Solo. Berbagai kebijakan itu, kemarin petang mendapat kecaman ribuan elemen Islam yang tergabung dalam Solidaritas Pemuda Islam Surakarta (SPIS). Untuk memprotes kebijakan pemerintah itu, lebih dari seribu anggota SPIS yang terdiri atas FKAM, FPIS, HAMMAS, MMI, Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Asssalam, Mujahidin, Al-Kahfi, Fosikom, Al-Islah, Teratai Mas, El Sam, Brigade Hizbullah, dan lainnya, mendatangi Mapolwil Surakarta. Sambil memampang puluhan poster, para pengunjuk rasa menyampaikan orasi yang intinya memprotes kesewenang-wenangan pemerintah dalam menangani aksi-aksi terorisme di Indonesia. Dalam aksi itu, Achmad Fathoni selaku koordinator lapangan dengan tegas mengatakan, penangkapan terhadap Abu Bakar Ba'asyir yang dilakukan polisi jelas-jelas melanggar HAM dan tidak manusiawi. ''Amirul Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu hanya salah satu korban fitnah dengan dalih terorisme,'' tandasnya. Menurut dia, tuduhan Ba'asyir sebagai dalang serangkaian peledakan bom di Indonesia, jelas-jelas tuduhan dan fitnah untuk menangkapi para tokoh Islam. ''Karena itu, SPIS menuntut pemerintah membebaskan Ustaz Abu yang kini berstatus tahanan polisi di Jakarta,'' tegasnya. Menurut dia, isu-isu terorisme yang diembuskan Amerika Serikat dan kaki tangannya di Indonesia, kian memojokkan posisi umat Islam. ''Islam telah menjadi korban fitnah dari kaum kuffar,'' ucap dia. Senada yang disampaikan Achmad Fathoni, sejumlah tokoh dari berbagai elemen Islam juga berorasi di tengah para pengunjuk rasa yang memadati pintu gerbong Mapolwil Surakarta di Jl Slamet Riyadi. Teriakan Allahu Akbar yang dikumandangkan para orator disambut teriakan yang lebih keras ribuan laskar Islam yang memadati jalan di depan Mapolwil. Dari berbagai orasi itu, selain meminta pembebasan Ustaz Abu, SPIS juga menyatakan sikap menolak intervensi asing, menolak Perpu Antiterorisme dan menolak ''kelatahan'' polisi dalam menangkapi tokoh Islam yang dicurigai sebagai pelaku teror. ''Jika pemerintah terlalu latah menangkap setiap muslim yang disebut sebagai teroris, sebentar lagi penjara-penjara Indonesia akan dipenuhi umat Islam,'' urai salah seorang peserta aksi yang menyampaikan orasinya di atas mobil. Sementara itu, perihal aksi yang digelar santri Al-Mukmin Ngruki dan laskar-laskar Islam, Minggu Sore, yang diwarnai perusakan pagar dan lampu pagar Mapolwil, Hasyim menyatakan penyesalannya. Menurut dia, jika memang tujuannya menyampaikan pendapat tak sepantasnya diikuti dengan perusakan. ''Kami sudah melayani mereka dengan baik sesuai dengan pemberitahuan yang disampaikan. Kami pikir mereka juga akan melakukan aksi secara damai, ternyata melakukan perusakan seperti ini. Kami sangat menyayangkan tindakan mereka itu,'' katanya.(G11,dtc-64t) | |||||