
| Senin, 18 November 2002 | Berita Utama |
Enam Tersangka Baru Diburu
DENPASAR- Tim Investigasi Peledakan Bom Bali, Minggu (17/11) kemarin, mengumumkan sketsa enam tersangka baru kasus peledakan bom di Legian, Kuta, Bali, pada 12 Oktober lalu. Termasuk di antara sketsa yang diumumkan tersebut adalah Imam Samudra alias Kudama (35), yang diyakini sebagai otak di balik aksi teror yang menewaskan 180 jiwa lebih tersebut. Lima nama lainnya adalah Umar alias Patek (35), Dulmatin alias Amar Usman alias Muktamar alias Djoko Supriyanto (32), Muhammad Ali Imron alias Alif (30 tahun), Umar alias Wayan (35), dan Idris alias Jhoni Indrawan alias Gembrot. Nama yang disebut terakhir ini telah terpampang dalam sketsa pertama yang memuat tiga wajah, salah satunya Amrozi yang kini mendekam di tahanan Polda Bali. Ketua Tim Investigasi Peledakan Bom Bali Irjen Pol I Made Mangku Pastika mengungkapkan, keenam sketsa itu dibuat berdasarkan informasi yang dikumpulkan polisi, antara lain keterangan saksi-saksi yang berada di Australia. Karena itu, penyusunan sketsa dilakukan atas kerja sama dengan Australian Federal Police (AFP). Dia menjelaskan, polisi kini terus memburu dan menelusuri keberadaan keenam tersangka tersebut. Pastika menyatakan keyakinannya bahwa mereka masih berada di Indonesia. ''Mudah-mudahan cepat tertangkap. Tapi perlu diingat, tidak gampang menangkap mereka, karena Indonesia kan sangat luas. Tinggal siapa nanti yang beruntung, polisi atau tersangka,'' kata Pastika, dalam jumpa pers di Hard Rock Hotel, Kuta, Bali, kemarin. Dia didampingi Ketua Tim Investigasi AFP Graham Aston dan Juru Bicara Tim Investigasi Brigjen Pol Edward Aritonang. Berdasarkan keterangan Amrozi dan para saksi, Pastika secara terperinci mengungkap peran masing-masing tersangka. Imam Samudra alias Kudama yang juga memiliki nama samaran Al Fatih atau Fatih atau Fath, Abdul Azis, Abu Umar, dan Heri diduga kuat sebagai dalang di balik pengeboman itu. Dia berperan sebagai pemimpin di lapangan, perencana, dan penentu sasaran. Berdasarkan hasil penyelidikan, pria berkumis yang selalu membawa tas laptop ini diperkirakan juga terlibat dalam sejumlah aksi pengeboman pada malam Natal 2000 di Riau, Jakarta, Bandung, dan Batam. Adapun Umar alias Patek dikenal oleh saksi sebagai orang yang meletakkan sepeda motor di dekat Musala Al Ghuroba, beberapa saat setelah ledakan. Dia mendapat tugas khusus dari Imam. Dulmatin alias Amar Usman alias Muktamar alias Djoko Supriyanto berperan membantu pembuatan bom dengan alat elektronik. Pria yang sehari-harinya berjualan mobil ini dikenal pintar merakit alat-alat elektronik. Sementara Muhammad Ali Imron alias Alif yang merupakan adik Amrozi bertugas sebagai kurir dan penggambar sketsa sasaran. Ali Imron juga menguasai keahlian senjata api dan amunisi, serta pernah merantau ke daerah konflik di Ambon. Umar alias Wayan yang diperkirakan berasal dari Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah eksekutor pengeboman. Dia juga membantu merakit bom dan diperkirakan membawa bom yang meledak di Paddys Bar. Kuat dugaan dia sudah lama tinggal di Bali, karena punya nama panggilan Wayan. Tersangka keenam, Idris alias Jhoni Indrawan alias Gembrot, merupakan wakil Imam Samudra. Pria bertubuh gemuk dengan pipi tembem ini salah satu yang mengikuti perencanaan awal di Solo hingga pelaksanaan peledakan, serta menyediakan akomodasi bagi pelaku lain. Berdasarkan KTP yang tertinggal dan ditemukan di tempat penginapan, dia diketahui tinggal di Taman Pinang Indah Blok H-23, Sidoarjo. Belajar di Afghanistan Tersangka utama, Imam Samudra, diketahui pernah beberapa kali mengunjungi Afghanistan untuk belajar cara membuat dan merakit bom. Dia dicurigai sebagai anggota kelompok Jamaah Islamiyah yang mempunyai hubungan dengan jaringan Al Qaedah. Pastika secara tersirat menyatakan, pihaknya telah mencium lokasi persembunyian Imam Samudra. ''Dia masih di Indonesia, di tempat yang sangat sensitif,'' ujarnya tanpa bersedia menjelaskan lebih terperinci dengan alasan kepentingan penyelidikan. Pada kesempatan tersebut, untuk kali kesekian Pastika membantah tudingan bahwa polisi melakukan rekayasa dalam pengusutan kasus bom Bali. Polisi tidak mungkin merekayasa, apalagi pengusutan dilakukan bersama negara-negara lain, terutama Australia. ''Semua sudah melalui prosedur,'' tandasnya. Pernyataan tersebut didukung Ketua Tim Investigasi AFP, Graham Aston. Pihaknya juga meyakini fakta-fakta tersebut dan keterangan-keterangan Amrozi. Aston menandaskan, pihaknya selalu siap bekerja sama dengan Polri guna mengungkap secara tuntas kasus yang juga menelan korban puluhan warga Australia itu. Kepada masyarakat, Pastika meminta untuk cepat menyampaikan informasi bila mengetahui keberadaan 6 tersangka tersebut. Informasi sekecil apa pun menyangkut keberadaan mereka, hendaknya segera dilaporkan ke kantor polisi terdekat. Jati Diri Tersangka Dua dari enam tersangka yang sketsanya diumumkan Tim Investigasi Peledakan Bom Bali, kemarin, diketahui merupakan warga atau setidak-tidaknya pernah tinggal di Solo dan Pemalang. Mereka adalah Umar alias Patek dan Dulmatin. Berikut ciri-ciri dan peran tersangka secara terperinci, sesuai dengan keterangan resmi Ketua Tim Investigasi Irjen Pol I Made Mangku Pastika. 1. Umar alias Patek (35). Agama Islam, suku bangsa Jawa-Arab. Alamat Solo, Yogyakarta, dan Pemalang. Tinggi badan 166 cm, berat 60 kg. Warna kulit sawo matang, berbahasa Jawa halus. Mendapat tugas khusus dari Imam Samudra, dan dilihat beberapa saksi ketika meletakkan sepeda motor di dekat Musala Al Ghuroba beberapa saat setelah ledakan. 2. Dulmatin alias Amar Usman alias Muktamar alias Djoko Supriyanto (32). Agama Islam, suku Jawa-Arab. Alamat Jalan Pemali, Pemalang, Jateng. Tinggi 172 cm, berat 70 kg, kulit sawo matang. Sewaktu SMP dikenal genius, pintar merakit alat elektronik. Perannya membantu pembuatan bom dengan alat elektronik. 3. Muhammad Ali Imron alias Alif (30). Adik Amrozi. Agama Islam, suku bangsa Jawa. Guru Pondok Pesantren Al Islam Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Jatim. Kulit sawo matang. Badan kecil, namun kuat dan lincah. Perannya sebagai kurir dan penggambar sketsa sasaran. Ahli senjata api dan amunisi. 4. Imam Samudra alias Al Fatih alias Fatih alias Fath alias Kudama alias Abdul Azis alias Abu Umar alias Heri (35). Pimpinan, perencana, dan pelaksana bom Bali. Nama asli Abdul Aziz. Agama Islam, suku Sunda. Tinggi 170 cm, berat 70 kg. Kulit sawo matang. Berkumis tipis, memakai topi dan selalu membawa tas laptop. Turut berperan dalam pengeboman di malam Natal 2000 di Riau, Jakarta, Jabar, dan Batam. 5. Umar alias Wayan (35). Agama Islam. Diperkirakan berasal dari Flores, NTT. Alamat persis tidak diketahui. Tinggi badan 168 cm, berat 70 kg. Kulit sawo matang. Bisa berbahasa Jawa tapi kaku. Mendapat tugas khusus dari Imam Samudra dan mampu merakit bom. 6. Idris alias Jhoni Indrawan alis Gembrot (35). Agama Islam, suku Minang/ Melayu. Pekerjaan wiraswasta. Alamat Taman Pinang Indah Blok H-23, Sidoarjo. Tinggi 165 cm, berat 75 kg. Warna kulit sawo matang bersih. Gemuk, perut agak buncit, pipi tembem. Berbicara dalam dialek Sumatera. Perannya sebagai wakil pimpinan, penyandang dana, penyedia akomodasi. Ikut sejak awal perencanaan peledakan di Solo sampai pelaksanaan. Pernah terpampang di sketsa pertama. (G3-29t) |