logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 18 November 2002 Ekonomi  
Line

Bisnis Mebel Melesu

Akibat Bergantung pada Tembakau Temanggung

KELIK Yuliantoro (42) terharu ketika menyaksikan para pekerjanya masih tampak bergairah. Ada yang memelitur lemari, ada pula yang tengah memberi jok kursi.

Beberapa bulan hingga Ramadan, permintaan mebel di kiosnya menurun drastis. Padahal pasokan barang dari para perajin tetap datang. Itu berbeda dengan tahun-tahun lalu ketika puasa datang. Lebih-lebih ketika Lebaran tinggal beberapa hari.

Namun kelesuan permintaan mebel tidak dia alami sendiri. Sekitar 60 pedagang di Pasar Mebel Bibis Solo mengeluhkan hal serupa. ''Kemarau panjang dan kegagalan panen tembakau di Temanggunglah penyebabnya. Selama ini kami menggantungkan penjualan barang dari mereka,'' kata Kelik, warga Gilingan itu sedih.

Pemilik kios lainnya, Hadi Sutikno (51), yang telah berdagang mebel sejak tahun 1971 mengungkapkan hal serupa. ''Di sini memang mebel untuk pasaran lokal. Tapi mebel Bibis jadi alternatif mebel Jepara. Banyak orang yang fanatik pada mebel kayu jati lebih banyak mengambil di sini. Sebab, harga mebel jati di Jepara jauh lebih mahal,'' tutur kakek 4 cucu asal Gatak, Sukoharjo itu saat dijumpai di depan kiosnya.

Booming

Dia menambahkan, selain kayu jati bahan mebel di situ sebagian besar berasal dari kayu bellina, pinus, dan damar.

Paling tidak tahun lalu para pedagang masih menikmati booming permintaan mebel dari beberapa daerah Jateng dan sebagian Jatim. Petani tembakau Temanggung tercatat paling besar. ''Ibaratnya, Temanggung panen tembakau pasaran mebel di sini seperti berjualan tempe goreng,'' tutur Hadi sambil tertawa.

Dia menambahkan rata-rata dalam seminggu jumlah penjualan bisa mencapai 4 truk pada saat-saat seperti itu.

Hadi dan Kelik mengakui ramai atau sepi pasar mebel di Bibis bersifat musiman. Bulan Ramadan adalah saat para pedagang menangguk keuntungan besar karena jumlah penjualan sangat tinggi.

Ramadan kali ini pasaran mebel begitu lesu, sehingga membuat para pedagang bertanya-tanya. Namun sebenarnya, menurut Ketua Paguyuban Pasar Mebel (P2M) Sidik Budi Santoso, kelesuan itu sudah terjadi begitu memasuki tahun 2002.

Dia mengakui kegagalan panen tembakau di Temanggung membuat keadaan menjadi lebih parah. (Saroni Asikin-53)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA