
| Senin, 18 November 2002 | Ekonomi |
Citibank Terapkan Strategi LokalSEMARANG-Dalam pengembangan bisnisnya Citibank menerapkan strategi lokal, baik dalam mengeluarkan produk maupun menjaring nasabah di sebuah wilayah. Termasuk dalam pengembangan usaha di Semarang yang mencakup wilayah Jateng dan DIY. "Itu kami lakukan, karena ingin menjadi bank global. Sebagai bukti, di Kantor Cabang Semarang sebagian besar staf dan pimpinan adalah orang asli Semarang," kata Barry Lesmana, Country Business Manager Consumer Citibank saat berkunjung ke Kantor Suara Merdeka Jalan Pandanaran 30, Sabtu lalu. Dia diterima oleh Pemimpin Umum /Pemimpin Perusahaan Suara Merdeka Ir Budi Santoso didampingi Wapemred Sasongko Tedjo dan Manajer iklan Harry Afandi. Barry didampingi Batara Sianturi (Vice President Retail Bank Director), Th Wiryawan (Marketing Communications Director), Riko Abdurrahman (Vice President Marketing Public Relations), Ditta Amahorseya (Corporate Affairs Head), dan Linawaty Noor Shandra (Branch Manager Semarang). Barry mengemukakan, strategi lokal juga diterapkan di beberapa wilayah atau cabang bank yang berpusat di New York itu. Sebab, dengan menyesuaikan kultur dan budaya setempat akan terjadi kedekatan antara nasabah dan bank yang pada akhirnya saling menguntungkan. "Meski demikian sejumlah kebiasaan yang diterapkan oleh kantor pusat Citibank juga tetap harus diterapkan di semua cabang, termasuk Semarang, terutama dalam pelayanan," jelasnya. Consumer Kehadiran Citibank di Semarang, lanjut dia, akan memfokuskan pada sektor consumer. Pihaknya kini banyak mengembangkan produk-produk layanan untuk nasabah, misalnya reksadana, ekuitas, dan produk retail sejenis. Mengenai potensi pengembangan kartu kredit terutama di daerah, dia menilai sangat menggembirakan karena tumbuh sekitar 30% setiap tahun. Misalnya, jumlah kartu kredit yang dikeluarkan Citibank secara nasional mencapai 1,4 juta, sedangkan di Jateng sekitar 100.000. Dia mengakui, meski kartu kredit telah menjadi cara pembayaran alternatif bagi sebagian masyarakat Indonesia, masih banyak pula yang saat ini beranggapan keliru mengenai fungsi kartu kredit. Salah satu asumsi atau mitos yang keliru tersebut, kartu kredit hanya membuat seseorang menjadi konsumtif. "Mitos itu menyebabkan ketidakinginan banyak orang untuk memiliki kartu kredit. Kalaupun telah memiliki kartu kredit, mereka berusaha membatasi penggunaannya," ujarnya. Barry mengistilahkan kartu kredit sebagai pisau tajam bermata dua. Artinya, pada satu sisi jika tidak dapat dimanfaatkan secara baik justru merugikan pemegang, tetapi di sisi lain jika pemilik dapat memfungsikan secara benar akan mendapat manfaat lebih besar. "Tanpa memiliki kartu kredit pun sebenarnya seseorang tetap bisa sangat konsumtif. Tidak disiplin pada diri sendiri merupakan alasan utama seseorang menjadi konsumtif," tegasnya. Dia menggarisbawahi, dalam penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran pemakai bukan lagi melihat sebagai sumber pengeluaran. Saat melakukan transaksi atas barang atau jasa yang dibeli kartu kredit berfungsi menggantikan uang tunai. Terkait dengan pengembangan karu kredit, pihaknya menggandeng 5 bank, antara lain Bank Lippo, Bank Niaga, dan BCA. Dalam waktu dekat akan dilakukan kerja sama dengan Bank Danamon.(G2-53k) |