
| Senin, 18 November 2002 | Jawa Tengah - Banyumas |
Penjual Bibit SengonBerbisnis Sambil Melestarikan LingkunganTIDAK semua kelompok masyarakat harus disalahkan telah melakukan penggundulan hutan. Hanya masyarakat yang berpikiran sempit, tetap nekat melakukan tindakan yang merugikan orang banyak itu. Memang, ribuan hektare hutan ada yang telah gundul. Hutan itu membentuk seperti ''kue donat'', hutan gundul di tengahnya namun dipinggir melingkar hutan lebat. Pemandangan itu ada dimana-mana seperti di Banyumas dan Cilacap pada musim kemarau yang baru berlalu. Kenyataan itu menandakan bagaimana pintarnya sebagian masyarakat merusak alam. Gundulnya hutan itu membuat cemas akan datangnya banjir dan longsor pada musim hujan ini. Akan tetapi, begitu melihat penjual pohon sengon di sepanjang jalan antara Pasar Cilongok dan SPBU Cilongok, ternyata masih ada kelompok masyarakat yang peduli dengan lingkungan. Meski yang demikian itu dibisniskan oleh mereka, yaitu dengan menjual bibit sengon di sepanjang Purwokerto-Tegal itu. ''Saya sengaja jauh-jauh dari Kertayasa Kecamatan Sumbang untuk membeli bibit sengon ini,'' kata Marto seorang pembeli di depan Pasar Cilongok. Menurutnya, sengon-sengon itu akan ditanamnya di kebun yang pepohonannya mati akibat kemarau panjang kemarin. Di samping itu, untuk menahan banjir dan memperkuat tanah di sekitarnya agar tidak longsor. Niat tulus yang dimiliki Marto sepertinya perlu ditiru oleh masyarakat lain. Menjaga lingkungan sejak dini di sekitarnya agar tidak terjadi bencana di kemudian hari. Tidak hanya itu, lanjut dia, menanam pohon sengon ini juga berinvestasi untuk masa depan. ''Kalau sudah waktunya dapat ditebang dan kayunya dijual. Dan itu diikuti peremajaan lagi,'' tambahnya. Kenyataan itu dibenarkan oleh Mustarjo, salah satu penjual bibit sengon di depan Pasar Cilongok. Banyak pembeli pohon sengon yang niatnya ingin menabung dengan menanam pohon itu. ''Dalam lima tahun saja pohonnya sudah besar-besar, dan itu laku dijual,'' kata dia. Menurutnya, tiap awal musim hujan atau tiap tahunnya banyak penjual bibit pohon sengon. Rata-rata pohon tersebut telah berumur tiga bulan. Setelah itu baru dijual ke pasaran. Pengakuannya, benih pohon itu didatangkan dari Kutoarjo Purworejo kemudian dikembangkan sekitar Cilongok. Pohon sengon itu dijual dengan per ikat. Setiap ikat rata-rata berisi 20 batang pohon. ''Kami menjualnya Rp 5.000 untuk setiap ikat,'' ujar pria asal Kedungmeong Ajibarang ini. Teman-temannya pun menjual dengan harga yang sama. Dijelaskan, dalam sehari pohon sengon yang dijualnya bisa laku 2000 batang. Dari pantauan SMdi lokasi, tidak hanya pembeli lokal saja yang datang ke Cilongok. (Jamaludin Al Ashari-47) |