logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 18 November 2002 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Tugu Perbatasan Jateng-Jabar

Tempat Ngububurit di Bulan Ramadan

SETIAP sore selama bulan Ramadan ini monumnen Pangeran Diponegoro yang berada di dekat tugu perbatasan Provinsi Jawa Tengah dengan Jawa Barat di Desa Panulisan Barat Kecamatan Dayeuhluhur Cilacap, tak pernah sepi dari anak-anak muda melepas waktu menanti buka Puasa.

Mereka datang dari berbagai desa di sekitar wilayah ke dua provinsi itu. Diantaranya dari Panulisan Barat, Mergosari, Panulisan Timur dan Madusari (Kecmatan Dayeuhluhur) serta Banjarpatoman Kabupaten Ciamis Jabar.

dI Bulan Ramadan ini, tempat tersebut sebagai sarana untuk nongkrong menghabiskan waktu hingga buka Puasa tiba. Dari atas bukit tempat monumen berada, bisa menikmati hamparan persawahan yang mulai ditananami padi dan perbukitan yang masih hijau.

Di bawah monumen dua pasang anak muda tengah asyik ngobrol dengan logat Sunda. Bergantian, mereka mengekpresikan suasana cuaca sore yang sejuk serta Puasa yang mereka jalani.

''Ih asyik pisan euy, cuacana cerah. Enteu siga biasa Puasa poe ie teu karaos lapar''(Asyik banget cuacanya cerah. Tidak seperti biasanya Puasa hari tidak terasa lapar), terdengar dari salah satu remaja yang mereka panggilan Nita.

''Maklum aya nu kasep di belah nu geulis,''(maklum ada yang cakep di sebelah yang cantik), timpal si cowok bercanda.

Minim Fasilitas

Keberadaan monumen maupun tugu perbatasan sepintas memang tampak tak ada yang istimewa, hanya sebuah bangunan indentitas Provinsi Jawa Tengah. Bentuk tugu perbatasan menyerupai rumah joglo, rumah adat Jateng. Sekaligus tanda mulai memasuki wilayah Jawa Tengah.. Begitu pula patung Pangeran Diponegoro beserta kudanya sebagai simbol salah satu pahlawan masyarakat Jateng.

Para petugas polisi yang berjaga di Pos Aju Polres Cilacap, beberapa meter dari tempat tersebut mengatakan, sudah biasa setiap bulan Ramadan anak-anak perbatasan, biasa memanfaatkan lokasi itu untuk ngabuburit. Tidak itu saja, seusai sahur banyak juga yang jalan-jalan menghirup udara pagi pegunungan.

Bila dibandingkan dengan keadaan di kota sangat berbeda. Tempat itu tidak ada sarana fasilitas lain seperti arena permainan maupun tempat untuk ajang trek-trekan anak muda di jalan-jalan kota yang menjadi tontonan gratis dan membahayakan. Paling kendaraan yang melintas di jalur tersebut. (Agus Wahyudi-47)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA