logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 18 November 2002 Budaya  
Line

Potter Diganggu Rekaman Ilegal

PENYIHIR cilik asal Inggris, Harry Potter, Jumat (15/11) lalu kembali mengunjungi gedung-gedung bioskop di Amerika Serikat (AS). Kehadiran tokoh itu, setelah setahun berlalu, tampak lebih matang dan bijaksana. Ia kembali masuk ke gedung bioskop semata-mata untuk menguji kekuatan sihirnya: Bisakah merajai box office seperti tahun lalu, ketika berhasil mencetak prestasi sebagai film terlaris kedua sepanjang masa setelah Titanic.

Pada hari Jumat itu, anak-anak di AS meninggalkan sekolahnya atas izin orang tua mereka. Tentu, itu untuk memastikan mereka tak ketinggalan menyaksikan pemutaran hari pertama Harry Potter and the Chamber of Secrets di bioskop. Mereka mengenakan mantel, menenteng tongkat pendek, dan memakai topi, layaknya penampilan para murid sekolah sihir Hogwarts.

Sayang, antusiasme para Potter-mania itu sebelumnya telah "dikacaukan" oleh kemunculan rekaman ilegal film Harry Potter and the Chamber of Secrets. Rekaman ilegal itu, muncul di internet, meski film Potter itu sendiri belum diputar di bioskop. Warner Bros, studio yang memproduksi dan mendistribusikan film tersebut, Rabu kemarin (13/11) lalu mengungkapkan hal tersebut dengan menyebutkan bahwa versi bajakan film Harry Potter terbaru itu ditemukan di situs yang memang sering menayangkan film-film baru secara ilegal.

"Pengkopian dan pengedaran film itu secara ilegal, sama dengan pencurian," ujar Warner Bros dalam pernyataan yang dikeluarkan Selasa malam. Warner Bros menganggap pembajakan lewat internet ini sebagai tindakan serius, dan akan mengambil tindakan hukum terhadap mereka yang mengopi dan mengedarkannya lewat internet.

Lebih Baik

Sementara itu, sebuah situs penjualan tiket online melaporkan, pihaknya telah menjual 69 persen dari total penjualan tiket Potter pada Kamis dan Jumat. "Tampaknya, ini akan sebaik atau lebih baik dari Harry Potter I tahun lalu," ujar petinggi situs tersebut, seperti dikutip Reuters di Los Angeles.

Pada tahun lalu, film pertama Potter, Harry Potter and the Sorcerer's Stone, di Amerika dan Kanada berhasil mengeruk 90,3 juta dolar AS pada pekan pertama pemutarannya. Jumlah itu belum termasuk angka penjualan di Inggris, yang mencapai 23,7 juta dolar AS.

Sekuel kedua kali ini, yang diangkat dari buku kedua Harry Potter karya penulis Inggris JK Rowling, tampil lebih gelap daripada yang pertama. Yaitu dengan lebih banyak lagi menampilkan sosok jahat yang se-ram. Mereka menyerbu Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry, tempat Harry Potter (Daniel Radcliff) dan dua temannya Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson) memperdalam ilmu sihir.

"Sesungguhnya, setiap orang menyukai hal-hal yang gelap," ujar Radcliff. Menurutnya, sesuatu yang bagus memperlihatkan sisi gelap Harry, menunjukkan bahwa dia (Potter) tidak sempurna.

Film Harry Potter and the Chamber of Secrets juga tampil dengan alur yang terasa lebih cepat dibandingkan dengan Harry Potter and the Sorcerer's Stone; tanpa banyak karakter dan adegan-adegan penjelas seperti film pertama. "Saya mencoba membuat film sepanjang dua setengah jam, tapi terasa hanya berjalan 30 menit," ujar sutradara, Chris Columbus.

Dalam Harry Potter and the Chamber of Secrets, Harry kembali ke Hogwarts untuk melewatkan tahun kedua masa pendidikannya. Suatu ketika, ia menemukan sebuah kamar rahasia yang tersembunyi. Ketika kamar itu terbuka, muncullah kekuatan-kekuatan jahat, seperti ular naga, yang siap memangsa siapa saja.

Itulah, kesempatan para Potter-Mania untuk kembali menyaksikan tokoh-tokoh favorit mereka, seperti Hagrid dan Profesor Dumbledore (diperankan oleh Richard Harris yang meninggal bulan lalu), McGonagall dan Snape. Selain itu, tampil pula tokoh-tokoh baru, yakni jin yang misterius bernama Dobby dan Profesor Gilderoy Lockhart yang pesolek.

Kualitas Jelek

Mengenai rekaman ilegal film tersebut, sebenarnya kualitas kopi film yang ditemukan di internet tidak terlalu bagus. Ada bagian yang kabur dan terputus-putus, karena diyakini direkam menggunakan kamera yang tidak terlalu canggih dan dilakukan secara diam-diam. Namun demikian, karena keingintahuan orang, tak urung juga membuat film bajakan itu banyak dicari para pengakses.

Biasanya, versi kopi awal yang tidak begitu bagus itu akan segera diganti dengan yang lebih baik setelah pembajak memperoleh versi lainnya. Hal itu, umumnya terjadi pada awal-awal pemutaran film tersebut, ketika pembajak merekamnya lewat bioskop dengan peralatan lebih canggih. Versi lain yang lebih baik, biasanya dicuri dari rumah produksi, tempat produk jadi sebuah film siap untuk diedarkan ke bioskop-bioskop.

Kejadian yang menimpa Harry Potter itu, bukanlah kali pertama sebuah film dibajak dan ditayangkan di internet sebelum diputar di bioskop. Sebelumnya, film Spiderman dan Star Wars: Attack of the Clones mengalami nasib serupa.

Sebelumnya Harry Potter and the Chamber of Secrets memang dipertunjukkan ke publik dalam suatu acara sneak preview khusus, akhir minggu lalu di New York, serta di London pada awal November ini. Hal itulah, yang ditengarai menjadi penyebab film tersebut sampai bisa dikopi secara ilegal.(C29-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA