logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 16 November 2002 Sala  
Line

Kiblat Condong 45 % Menghadap ke Utara

  • Masjid Cipto Mulyo Didirikan PB X

MASJID tidak hanya sekadar untuk mempertebal imam dan taqwa kepada Sang Maha Pencipta, lebih dari itu keberadaannya sangat ampuh untuk meluruskan perbuatan yang tidak benar menjadi bijak, dari yang tidak percaya kepada Tuhan menjadi percaya, atau dari orang abangan menjadi santri.

Masjid Cipto Mulyo yang berdiri di sekitar objek wisata Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali menjadi saksi dari orang yang tidak pernah salat menjadi salat atau dari yang tidak mengenal masjid menjadi orang yang bersahabat dengan masjid.

''Sebelum masjid didirikan, sebagian warga di sini anggota PKI. Mereka tidak mengenal masjid. Namun setelah berdiri masjid, mereka mngrubah pandangan dan gaya hidup untuk memeluk agama Islam. Masjid ini menjadi saksi dan mempunyai sejarah tersendiri,'' papar Ketua Takmir Masjid Cipto Mulyo Ali Muhson kepada wartawan, kemarin.

Dakwah agama atau mengajak menjalankan tuntunan agama Islam terus digalakkan. Saat dipercaya sebagai Ketua Takmir pada 1980-an, kondisi di sekitar masjid masih relatif rawan. Sebagian warga belum salat dan tidak mengenal masjid.

Akan tetapi Ali Muhson terus berdakwah, sehingga sebagian besar masyarakat mengenal masjid dan memeluk agama Islam.

Masjid yang didirikan oleh PB X itu juga memiliki keunikan tersendiri arah klibatnya. Sejak didirikan sekitar 1905, posisinya lebih banyak menghadap ke arah utara 45%. Sampai sekarang belum ada jawaban pasti kenapa lebih banyak miring ke utara.

Berbagai pihak menduga, karena dibangun atas bantuan arsitek Belanda yang kurang mengenal kiblat. Pendapat lain lantaran terpengaruh oleh jalan di sekitar yang lebih mengarah ke utara.

Bermimpi

Ali Muhson mengungkapkan, karena posisi kiblat tidak sebagaimana lazimnya pengurus masjid pernah membicarakan dengan keraton. Maksudnya, arah kiblat dibenarkan atau diluruskan paling tidak ke-miringannya dari 45% menjadi 22,5% ke arah kiblat. Namun keraton lebih menyukai bangunan semula. Artinya, tetap membiarkan arah semula.

Karena keraton tidak mengubah, sampai sekarang posisinya tetap seperti semula. Selanjutnya Ali Muhson dan pengurus masjid berkonsultasi dengan para kiai yang rata-rata berpandangan sama, tetap dibiarkan. Selain itu, suatu saat dia bermimpi antara lain mendengar suara, ''Enek apa ndadak diowahi (Ada apa kok diubah-Red).''

''Dari konsultasi dengan kiai dan mimpi saya, arah masjid itu sampai sekarang dalam posisi semula,'' jelas mantan anggota DPRD dari fraksi Partai Golkar itu.

Keistimewaan lain, masjid itu mempunyai beduk besar. Mungkin satu-satunya beduk terbesar di Boyolali. Sayang, Ali Muhson tidak menjelaskan ukuran atau diameter beduk itu.

Masjid yang kini masih kukuh itu memang bernuansakan Jawa. Pada teras depan terpampang huruf Jawa yang menerangkan tahun pendirian masjid dan nama masjid.(Suti Harjoyo-14j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA