
| Sabtu, 16 November 2002 | Ragam |
TASAWUF INTERAKTIF Doa adalah Hak TuhanT: 1. Apakah doa setiap habis salat cukup dibaca Arabnya saja atau dengan terjemahannya? 2. Saya biasa menghafalkan doa-doa yang tertulis dalam buku-buku yang saya baca, apakah saya masih memerlukan teman untuk membetulkan bacaan saya atau tidak? Nuryani di tempat
J: Berdoa, pada dasarnya adalah memenuhi hak Tuhan atas hamba-Nya. Sebagai seorang hamba yang beriman, sudah selayaknya kita memohon pertolongan atas segala kesusahan yang kita hadapi kepada-Nya. Meski demikian, kita wajib menyerahkan apa pun kepada ketentuan Allah. Jadi, doa bukan berarti mendikte Tuhan untuk menentukan takdir-Nya sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Namun, doa merupakan wujud dari penghambaan diri kita kepada Allah, atau dengan kata lain, memenuhi kewajiban kita sebagai hamba untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Selanjutnya, kita harus menyerahkan segala ketentuan pada-Nya. Dengan keyakinan bahwa Dia akan memberikan yang terbaik kepada kita, karena Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi diri kita. Sebagaimana disabdakan Nabi dalam sebuah hadits, doa adalah ruh ibadah, maka lebih baik melakukan anjuran ibadah daripada meninggalkannya. Doa adalah ungkapan lahiriah atas kebutuhan akan penghambaan, dan hak Tuhan juga untuk mengabulkan atau tidak mengabulkannya. Oleh karenanya, yang terpenting bagi seorang hamba adalah memenuhi hak Tuhan. Dalam hal ini, seorang ahli tasawuf Abu Hazim al-A'raj berkata, ''Dihalangi berdoa adalah lebih menyedihkan hatiku dari terhalangi untuk tidak dikabulkan.'' Karena berdoa adalah memenuhi hak Tuhan, dan kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada-Nya, maka doa apa yang kita panjatkan, kita harus serahkan semuanya kepada Allah. Dengan demikian maka berdoa bisa dilakukan dengan menggunakan bahasa apa pun, termasuk bahasa Arab, tanpa harus menerjemahkan ke dalam bahasa kita. Hanya saja, seharusnya kita mengerti apa maksud dari doa yang kita baca. Karena jika tidak demikian, akan sulit bagi kita untuk berdoa secara khusyuk. Sementara, kekhusyukan harus diawali dengan penghayatan, dan penghayatan tidak mungkin akan terjadi tanpa pemahaman. Jika kita merasa ragu akan kefasihan bacaan kita, maka sebaiknya kita meminta bantuan teman atau guru yang kita anggap lebih fasih. Dan jika kita ragu atau sulit untuk bisa memahami doa yang kita baca, maka akan lebih baik berdoa dengan menggunakan bahasa lain yang lebih kita pahami. Hal ini tidak akan mengurangi keutamaan dan nilai dari doa yang kita baca. Hal terpenting yang juga harus kita tanamkan dalam diri kita adalah semangat dan kreativitas untuk meraih apa yang kita pintakan dalam doa. Karena jika tidak demikian, menunjukkan bahwa kita tidak sungguh-sungguh dalam berdoa. Doa yang baik adalah doa yang mendorong semangat dan kreativitas kita untuk meraih apa yang kita cita-citakan. Para ahli tasawuf menyatakan, baik dan tidaknya berdoa adalah tergantung situasi dan kondisi. Dalam kondisi tertentu, seseorang lebih baik berdoa dan pada kondisi yang lain lebih baik diam. Sebagaimana ungkapan seorang ahli tasawuf, Imam Alqusyairi dalam kitabnya Risalah Alqusyairiyah. ''Ketika seseorang menganggap dengan berdoa dia mendapat kemudahan dan kelapangan serta menambah kreativitasnya, maka sebaiknya dia meneruskan doanya. Namun, jika seseorang mendapati dirinya menjadi tidak mendapat kelapangan dan semakin menjadikan dirinya tidak kreatif dan produktif ketika berdoa, maka sebaiknya dia menghentikan doanya.'' Untuk itu, yang lebih tahu situasi dan kondisinya adalah diri sendiri orang yang mengalami. Insya Allah, jika Anda berdoa dengan khusyuk dan penuh penghayatan, disertai semangat dan kreativitas tinggi untuk meraihnya, Allah akan memberikan kemudahan pada diri Anda. Yakinlah, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi setiap hamba-Nya yang memohon dengan penuh kesungguhan. Wallahu a'lam.(35) |