
| Sabtu, 16 November 2002 | Berita Utama |
Kepedihan Itu Masih MembekasDUA pilar bulat berwarna merah itu tampak menjulang tinggi. Sepintas kelihatan kukuh, kalau saja bangunan yang disangganya tak hancur di sana-sini. Bangunan itu, Paddys Club, yang dulu mewah dan penuh keramaian, kini hanya sekumpulan onggok beton penuh noda menghitam bekas ledakan dahsyat. Di dekat salah satu pilar, dua perempuan, satu di antaranya bule, tampak mematung memandangi beberapa lembar kertas yang tepinya bekas terbakar, tergeletak di ujung meja yang tinggal separo. Beberapa deret ketikan di kertas itu berisi nama-nama orang Bali, karyawan tempat hiburan itu. Di belakangnya tertoreh angka-angka jumlah bonus bulanan mereka. ''Apakah mereka selamat?'' tanya seorang di antaranya yang berambut pirang dengan nada terpatah-patah. Temannya menggelengkan kepala, pelan. Dua gadis itu tak banyak bicara ketika menyusuri bekas bangunan Paddys, usai ritual Karya Pemarisudha Karipubhaya dan Tawur Agung di Jalan Legian. Begitu pula ribuan lainnya yang bergantian memasuki reruntuhan gedung itu. Ketika menyusuri puing bangunan itu, memang serasa ada hawa lain yang melingkupi orang-orang yang memasukinya. Barangkali, itu karena bayang-bayang kematian puluhan orang akibat ledakan 12 Oktober masih begitu lekat di sana. Kepedihan masih terasa membekas kuat. ''Di tempat ini, banyak orang meninggal,'' kata pemilik Paddys, I Gde Wiratha, yang siang itu berkali-kali menerima ucapan belasungkawa dari ratusan orang. Lelaki itu tampak tegar, meski mengaku masih merasa trauma atas teror sebulan lalu itu. Di seberang Paddys, depan Sari Club, orang-orang menyulut dupa dan bersujud di dekat lubang ledakan berukuran 3x3 meter. Mereka bersembahyang dengan hening, memanjatkan doa bagi 180 lebih manusia yang meninggal dalam musibah itu. Hanya doa? Di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang khusyuk itu, muncul dua pria warga Australia tampil beda. Seolah-olah sedang berunjuk rasa, mereka mengusung sebuah poster berisi kecaman terhadap pelaku peledakan bom. ''Fuck Terrorist'', demikian tulisan warna merah di kaos putih mereka menunjukkan betapa mereka membenci aksi kekerasan itu. Kini, setelah upacara penyucian itu selesai, mereka berharap tak ada lagi angkara murka yang melanda Bali. Bagi orang Bali, Pemarisudha Karipubhaya yang berarti penyucian atas bencana dan rasa takut, akan menjadi momentum bagi lahirnya kembali keharmonisan dan kehidupan yang lebih cerah. Sebab, semua hawa jahat telah disingkirkan. Secara riil, itu berarti kembali datangnya wisatawan, terutama dari luar negeri, yang berimbas membaiknya dunia pariwisata di Bali. Dunia sudah menyaksikan bahwa masyarakat Bali sangat cinta damai, dan berusaha keras mencegah terulangnya kekerasan serupa. Pemarisudha Karipubhaya membawa secercah harapan baru bagi semua. (Petrus Heru Subono-29t) |