
| Sabtu, 16 November 2002 | Berita Utama |
''Bali Harus Segera Bangkit''
DENPASAR - Masyarakat Bali diajak untuk kembali bangkit dari keterpurukan akibat tragedi peledakan bom 12 Oktober lalu. Bali, sebagai pusat pariwisata Indonesia, harus menunjukkan lagi keindahan, keamanan, dan kenyamanan yang dimilikinya, sehingga mata dunia akan memandang kembali Pulau Dewata ini sebagai daerah tujuan wisata utama. Ajakan itu dikemukakan Menko Kesra Jusuf Kalla mewakili Presiden Megawati, ketika menguraikan kata pengantarnya dalam Upacara Karya Pemarisudha Karipubhaya dan Tawur Agung yang dirangkaikan dengan doa bersama dan hening nasional di Jalan Legian, Kuta, Bali, kemarin. Seperti diperkirakan semula, ribuan orang hadir dalam upacara mengenang korban tragedi 12 Oktober, sekaligus penyucian lokasi bekas ledakan dari aura-aura negatif. Tampak hadir antara lain suami Presiden Megawati, Taufik Kiemas, Gubernur Bali Drs I Made Dewa Beratha, sejumlah duta besar negara sahabat, serta keluarga korban yang berasal dari Australia, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Jepang, dan beberapa negara lain. Pada kesempatan itu, Jusuf Kalla menyampaikan salam dan rasa belasungkawa yang mendalam dari Presiden Megawati kepada keluarga korban ledakan. Dia mengatakan, tragedi 12 Oktober telah mendatangkan luka luar biasa bagi nurani warga Bali dan Indonesia. Selain itu, juga menimbulkan dampak sosial yang luas. Salah satu akibatnya yang paling tampak adalah hilangnya mata pencaharian banyak orang, tak hanya di Bali, tapi juga daerah-daerah lain yang mempunyai keterkaitan hubungan ekonomi dengan provinsi ini. Dikatakannya, pemerintah akan memberi prioritas dalam upaya membangun kembali kehidupan perekonomian dan pariwisata Bali. Bangunan-bangunan yang hancur, fasilitas publik yang porak-poranda, serta prasarana lain yang rusak akan segera diperbaiki. Dia mengajak seluruh masyarakat ikut bersama-sama dalam upaya tersebut. ''Bali harus segera bangkit, agar tidak terus diselimuti kegelapan,''ujar Kalla. Ekstra Ketat Rangkaian upacara Karya Pemarisudha Karipubhaya dan Tawur Agung yang dipusatkan di lokasi ledakan, depan bekas gedung Sari Club dan Paddys, Legian, itu berjalan lancar dan aman. Pada saat bersamaan, di Pura Segara digelar upacara Tawur Labuh Gentuh. Sejak pagi, ribuan orang menyemut menuju tempat upacara. Mereka tak hanya warga Bali, tapi juga warga asing dari berbagai negara. Sesuai dengan adat Bali, mereka mengenakan pakaian adat kamen (sarung rangkap dua) dan udang (ikat kepala). Kecuali petugas keamanan, semua yang hendak memasuki tempat ritual di sepanjang Jalan Legian diwajibkan mengenakannya. Upacara yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wita ini mendapat penjagaan ekstra ketat dari aparat keamanan. Tak kurang 4.000 polisi mengamankan lokasi upacara, belum termasuk tenaga sipil seperti pecalang (aparat desa) serta satgas sipil sekitar 500 orang. Mereka mengawasi ketat setiap pengunjung yang masuk dari berbagai jalan, gang, dan lorong-lorong yang menuju Jalan Legian. Seluruh yang hadir digeledah satu per satu. Tas dan barang bawaan diperiksa secara teliti. Untuk menyukseskan pelaksanaan karya tersebut, Jalan Legian dan beberapa jalan yang memiliki akses langsung ke lokasi ditutup total. Sementara itu, seluruh toko di kawasan Kuta tutup. Begitu juga pedagang di sepanjang pantai Kuta yang berjumlah 1.000 orang lebih diliburkan, karena sebagian besar areal Pantai Kuta dimanfaatkan untuk pelaksanaan upacara.
Hampir dua jam, upacara itu diisi dengan ritual penyucian menurut tata cara Hindu. Termasuk dengan menyembelih beberapa jenis binatang sebagai simbol penyucian seperti kijang, menjangan, kera hitam, kerbau, kambing, sapi, penyu, angsa, anjing, dan babi. Upacara di Jalan Legian usai sekitar pukul 12.30 Wita. Dengan acara ini, menurut ajaran Hindu, tempat ledakan bom itu sudah dicuci dan dibersihkan dari unsur-unsur kejahatan.
Acara dilanjutkan di pinggir Pantai Kuta untuk melarung bekas-bekas ledakan bom serta hewan-hewan yang dikorbankan untuk simbol penyucian tersebut. (G3-29t) | |||||