
| Sabtu, 16 November 2002 | Berita Utama |
Polisi Gerebek Tiga Rumah
LAMONGAN - Bukan perkara mudah bagi polisi menemukan jejak Ali Imron, adik Amrozi, tersangka kasus peledakan bom Bali. Ali Imron yang diduga mengetahui secara pasti lokasi penyimpanan senjata api dan amunisi milik Amrozi itu sejak beberapa hari lalu menjadi buron polisi. Tapi, sampai Jumat kemarin, polisi belum berhasil menciduknya. Tim pemburu yang terdiri atas petugas Polda Bali, Polda Jatim, dan Polres Lamongan melakukan penggerebekan tiga rumah warga Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Ketiga rumah yang digerebek itu adalah rumah Daeri, Mustofa, dan HM Khozin (kakak Amrozi dan Ali Imron).
Bagaimana hasilnya? Nihil. Polisi tak menemukan Ali Imron dan jejaknya. Polisi juga tak menyita barang-barang di ketiga rumah tersebut. Cuma polisi mengingatkan kepada sang pemilik rumah untuk segera menginformasikan kepada petugas jika menemukan Ali Imron. Atau jika ketiga warga tersebut terbukti membantu persembunyian Ali Imron, mereka akan menanggung risiko hukum sangat berat. "Jika nanti terbukti di kemudian hari membantu persembunyian Ali Imron, kami akan tindak tegas," ujar seorang petugas ketika menggerebek rumah HM Khozin. Penggerebekan pertama berlangsung di rumah Daeri. Rumah terbuat dari kayu jati bercat cokelat itu digerebek sekitar enam petugas pada pukul 14.00. Tiga petugas langsung masuk ke rumah Daeri, sedangkan tiga lainnya berjaga-jaga di luar, baik di bagian samping, depan, maupun belakang rumah. Tujuannya, agar mereka bisa memantau keadaan bila ada orang yang mereka cari melarikan diri ketika rumah tersebut digerebek. Tak Tahu Saat digerebek, Daeri tak ada di rumah. Dia berada di tegalan. Petugas ditemui istrinya, Uswatun. Wanita berumur sekitar 55 tahun itu berkali-kali menyatakan kepada petugas bahwa dia tak tahu keberadaan Ali Imron dan tak menyembunyikan yang bersangkutan. "Benar Pak, saya tak menyembunyikan Ali Imron. Silakan cari di dalam rumah ini," katanya dengan mimik gemetaran. Petugas tak begitu percaya omongan Uswatun. Dengan langkah sigap, mereka memeriksa apa saja yang ada di dalam rumah tersebut. Hasilnya, nihil. Ali Imron tak ada di rumah Daeri yang lokasinya di belakang rumah HM Khozin. "Ali Imron tak pernah main ke sini. Memang Bapak pernah bekerja di Malaysia, tapi itu beberapa tahun lalu. Kami tak pernah berhubungan dengan Ali Imron. Kami cuma dengar namanya saja," katanya kepada wartawan usai penggerebekan. Berdasarkan keterangan HM Khozin, Ali Imron memang pernah bekerja di Malaysia beberapa tahun lalu. Tapi, di negeri jiran tersebut, adiknya tak lama di sana. Setelah kembali ke Tenggulun, dia bekerja membantu Amrozi menyervis sepeda motor di bengkel Jilbab Motor Plus (JMP). Bengkel ini berada di samping kiri rumah Haji Nur Hasyim, ayah Amrozi. Kolong Tempat Tidur Gagal mendapatkan Ali Imron di rumah Daeri, sekitar pukul 14.25 petugas ganti menggerebek rumah HM Khozin. Rumah kakak lelaki tertua Amrozi yang juga Ketua Yayasan Al-Islam ini digeledah petugas selama 20 menit. Apa yang didapatkan petugas? Juga nihil. Ali Imron tak ada di sana. "Ya biar polisi yang menggeledah, nanti saya dikatakan menyembunyikan adik saya. Polisi sampai mencari ke kolong tempat tidur. Hasilnya, memang tak ada Ali Imron," ujar Khozin. Dia menambahkan, sejak Amrozi ditangkap polisi hari 5 November lalu, dia tak pernah melihat Ali Imron lagi. Adiknya itu jika bepergian tak pernah pamit kepadanya. Pada pukul 14.45, dengan mempergunakan dua sepeda motor dan sebuah mobil Toyota Kijang, petugas ganti menggerebek rumah Haji Mustofa (Suwono), suami dari Musar. Istri Haji Mustofa ini masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Amrozi. Saat itu, baik Haji Mustofa maupun istrinya, berada di rumah. Rumah yang terbuat dari kayu jati bercat hijau itu digeledah petugas sekitar 15 menit. Rumah Haji Mustofa ini relatif panjang. Ada tiga bangunan rumah yang berdiri memanjang ke belakang. Sehingga, keenam petugas ada yang masuk dari depan, tengah, dan belakang rumah. "Benar Pak, kami tak menyembunyikan Ali Imron. Kami tak tahu di mana Ali Imron berada," tegas Ny Musar yang tampak sangat kaget dan keluar keringat dingin itu. Pernyataan senada disampaikan Haji Mustofa. Katanya, "Kendati istri saya masih ada hubungan keluarga dengan Amrozi, tapi kami tak ikut-ikutan persoalan itu. Kami tak tahu apa-apa, Mas."
Kades Ingatkan Warganya Pada salat Jumat di Masjid Al Mubarok di Desa Tenggulun, Kades Maskhun bertindak sebagai khotib. Setelah salat Jumat di masjid yang luasnya sekitar 300 meter itu, Kades Maskhun menyampaikan pemberitahuan kepada warganya. Apa isinya? Tak lain dan tak bukan adalah kondisi desanya sejak Amrozi tertangkap dan menjadi tersangka dalam kasus peledakan bom di Bali. Mengenakan baju takwa putih, sarung putih garis-garis hijau, berjas hitam, dan berkopiah hitam, Kades Tenggulun yang mengaku beberapa hari terakhir ini sering menerima teror lewat telepon itu, mengingatkan warganya untuk tak menyalahkan dirinya sebagai kades dalam persoalan ini. "Yang salah itu yang membuat gara-gara dan ngebom turis di Bali," katanya. Dia mengaku risau karena kini Tenggulun terkenal di seantero dunia. "Tapi terkenalnya itu karena ada warganya yang jadi teroris," tambahnya. Selama kasus ini mencuat, katanya, di buku tamu desa di rumahnya tercatat banyak wartawan dari 60 negara yang mengkover berita ini. "Jadi, ini bukan lagi kasus nasional, tapi internasional," tandasnya. Kades Maskhun yang di kalangan warganya dikenal berseberangan dengan keluarga besar Amrozi dan pengasuh Pondok Al-Islam ini, mengingatkan warganya untuk bersikap terbuka dalam menyampaikan informasi mengenai keberadaan Ali Imron atau buronan lain yang terkait kasus Amrozi. "Kalau diam saja, itu namanya orang bisu," tambahnya. Selain itu, dia menyerukan warganya yang diburu polisi, seperti Ali Imron, Sumarno, dan lainnya untuk segera menyerahkan diri. Sebab, katanya, selama keduanya belum tertangkap petugas, maka kondisi warga Desa Tenggulun tetap tak tenang, karena petugas terus mencari tahu keberadaan persembunyian mereka. "Jika tak segera ketemu, ya mbulet saja seperti sekarang. Masak sampai Lebaran nanti kayak gini, kita kan tak mau," katanya. Menurut Kades Maskhun, Jumat (15/11) sekitar pukul 02.00 terdengar suara tembakan senjata api dari arah belakang rumahnya. Mendengar suara senjata api, polisi yang kebetulan ngepam (berjaga) di rumahnya langsung mencari lokasi suara tembakan. Hasilnya, tak bisa ditemukan orang atau barang bukti lain seperti senjata api. Memang, di kawasan Desa Tenggulun, terutama di tegalan warga, berdiri banyak gubuk. Tujuannya, untuk tempat istirahat sang pemilik tegalan. Sehubungan dengan kasus Amrozi, petugas juga mengintai dan menyisir gubuk-gubuk di tegalan warga. Sebab, tak tertutup kemungkinan gubuk di tengah tegalan itu dimanfaatkan buronan polisi untuk tempat bersembunyi. Kemarin di kalangan wartawan yang meliput penggerebekan di Desa Tenggulun sempat berembus kabar bahwa Ali Imron dan Ali Fawzi, keduanya adik Amrozi, telah melarikan diri keluar dari Tenggulun. Tujuannya, sebuah pondok di Solo, Jateng. Sampai seberapa benar informasi tersebut, Suara Merdeka tak berhasil mendapatkan konfirmasi dari petugas di lapangan. Yang jelas, sampai pukul 16.00, saat Suara Merdeka meninggalkan Desa Tenggulun, tempat persembunyian kedua orang yang selama beberapa hari ini menjadi TO (target operasi) polisi pascapenangkapan Amrozi, belum bisa diendus polisi. Dan kemarin kondisi Desa Tenggulun lebih tenang, karena jumlah petugas yang berseliweran di jalan-jalan desa tersebut tak sebanyak dan seintensif hari-hari sebelumnya. Suasana desa tampak sepi, dan seolah-olah tak terjadi apa-apa. (ro-29t) |