logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 16 November 2002 Ekonomi  
Line

Petani Butuh Proteksi Menghadapi Pasar Bebas

PERDAGANGAN bebas ASEAN atau Asean Free Trade Area (AFTA) 2003 sangat berat bagi sektor pertanian. Bahkan, saat ini pun Jateng telah dibanjiri komoditas pertanian impor dengan kualitas dan harga bersaing.

Itulah yang diingatkan oleh Gubernur H Mardiyanto pada sarasehan dengan Kontak Tani Nasional Andalan (KTNA) Jateng di Balai Pemberdayaan Sumber Daya Pertanian (BPSP) Soropadan, Temanggung, Selasa lalu.

Menurut dia, awal era AFTA sebenarnya sudah dimulai di Jateng yang ditandai oleh kedatangan beras dan gula impor.

"Gula petani kita masih kalah bersaing dengan gula impor. Penanganan gula impor cukup kompleks. Upaya paling mendasar agar tak terulang di masa mendatang perlu dilakukan," kata Gubernur.

Antara lain meningkatkan kualitas SDM petani tebu, serta kreativitas produksi tebu dan produksi gula lokal, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Gubernur mengusulkan ke pemerintah pusat untuk menerapkan proteksi berupa penerapan tarif bea masuk atas gula impor.

"Kedengarannya aneh, tetapi bila kita menerapkan teori ekonomi murni justru sulit," kata dia didampingi Ir Gayatri Indah Cahyani, Kasubdin Pengembangan SDM dan Usaha Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jateng.

Perlindungan bagi petani lokal dalam bentuk proteksi pernah disampaikan kepada Presiden (waktu itu) BJ Habibie, pada 10 Oktober 1999. Saat itu Presiden diminta menghapus PPN 10% untuk pakan ternak.

Beberapa negara lain, misalnya di kawasan Amerika Tengah, sudah menerapkan tarif bea masuk gula impor lebih tinggi dari Indonesia.

Saat menghadapi AFTA 2003 tanpa proteksi jelas tidak mungkin. Proteksi bertujuan memberikan kesejahteraan hidup dan peningkatan pendapatan bagi petani dan nelayan.

"Namun mereka perlu mengimbangi lewat kerja keras, sehingga produk pertanian dan hortikultura mampu bersaing dengan produk luar," tegas Gubernur.

Menghemat

Terkait dengan hal itu, dia meminta kepada dinas pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan untuk berusaha menghemat anggaran operasional yang dinilai tidak perlu.

Dalam sarasehan banyak persoalan mengemuka. Ambar, peserta dari Magelang, tertarik pada kebijakan agrowisata yang dicanangkan Gubernur di kawasan Solo-Selo-Borobudur (SSB).

Pihaknya meminta lahan di kawasan itu untuk pengembangan hortikultura guna dipasok ke toko swalayan. kelompoknya sudah menjalin kerja sama dengan sebuah toko swalayan untuk memasok hortikultura, khususnya sayuran.

"Kami juga berminat uji coba kobis batu dan buah-buahan dari Jabar untuk dikembangkan di Jateng," tambahnya.

Sementara itu, Bambang (Wonogiri) mempertanyakan hortikultura Thailand yang kini menguasai pasar di Jateng. Dia iri terhadap Negeri Gajah Putih yang berhasil mengembangkan buah-buahan lokal.

Dia mengimbau perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan instansi terkait untuk memperbanyak penelitian.

"Saya melihat penelitian yang dilakukan di sini hanya tersimpan di laci. Mestinya hasil penelitian itu disosialisasikan ke kelompok petani, agar mereka tahu," tutur dia.

Menurut dia, subsidi Pemerintah Thailand untuk kegiatan penelitian, pengembangan, dan promosi produk hortikultura sangat besar. Tersedia 60%-70% dari anggaran untuk kegiatan itu.

Hasilnya pun benar-benar nyata, sehingga pihaknya meminta Gubernur memperbesar subsidi dalam kegiatan penelitian dan promosi.

Seorang peserta dari Boyolali menyoroti soal susu sapi. Harga susu di daerah itu berkisar Rp 1.460-Rp 1.700/l, sedangkan produksi kini mencapai 140.000 l/hari.

"Produksi yang cukup besar itu membuat Boyolali dikenal sebagai pemasok susu sapi terbesar di Jateng," jelasnya.

Untuk menaikkan harga susu menjadi Rp 2.000-Rp 2.200/l sulit, karena berbagai faktor. Jateng dinilai sudah saatnya mendirikan pabrik susu karena dapat memberikan sumbangan bagi daerah di era otonomi.

Keberadaan pabrik pengolahan susu itu, lanjut dia, akan dapat mendongkrak harga susu setelah dikurangi biaya transportasi serta menyerap tenaga kerja cukup banyak.

"Beberapa waktu lalu PT Prima Yudha Mandiri Jaya, pabrik tekstil yang beroperasi di Boyolali, berniat mendirikan pabrik keju di Boyolali. Tapi itu baru sebatas rencana dan belum terealisasi hingga saat ini," ungkapnya. (Arwan Pursidi-53t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA