
| Sabtu, 16 November 2002 | Ekonomi |
Pakaian Murah di Alun-alun KidulADA kesibukan luar biasa di seputar gapura Alun-alun Kidul, Keraton Surakarta, begitu bulan puasa tiba. Puluhan orang yang berjubel di sana membolak-balik tumpukan pakaian yang digelar di tanah beralas plastik. Lokasi itu memang telah lama dikenal sebagai pusat penjualan pakaian bekas. Seiring dengan banyak pakaian bekas yang diimpor dari berbagai negara, tempat tersebut makin banyak didatangi orang. "Aneka pakaian harga supermurah bisa didapat di sini. Cukup dengan Rp 15.000 saya dapat bergaya," kata seorang gadis tomboy sambil memegang sebuah jaket warna krem berlapis putih. Wanita pekerja pabrik asal Karanganyar itu mengaku tak malu membeli pakaian bekas, karena tidak mampu membeli yang baru. Siti Sundari salah seorang pedagang pakaian bekas mengatakan karena harga barang yang dijual murah sekali dengan kondisi masih lumayan, banyak orang datang membeli. "Konsumen saya bukan hanya dari Solo dan Sukoharjo, tetapi banyak juga yang datang dari Boyolali," tambahnya. Naik Pembeli dari luar kota itu umumnya membeli dalam jumlah banyak. Setelah laku keras harga kulakan pun naik. Semula satu bal pakaian bekas Rp 1.600.000, tetapi saat ini menjadi Rp 1.750.000. Namun kenaikan harga itu tampak tidak begitu memberatkan, karena omzet penjualan pada bulan puasa juga meningkat. Yusuf, penjual pakaian bekas yang lain mengatakan pada hari-hari biasa keuntungannya sekitar Rp 100.000/hari. Namun pada bulan puasa bisa naik tiga kali lipat. Menjelang Lebaran omzet dipastikan meningkat tajam. Barang-barang yang didatangkan dari Surabaya itu sampai di Solo ada yang dijual dengan cara grosir dan ada pula yang eceran. "Sangat murah sehingga disukai banyak orang. Sebuah celana training yang sobek sedikit saya jual Rp 1.000, sedangkan kaos Rp 3.000," tambah Sundari sambil menunjukkan sebuah kaos oblong yang masih bagus. Di balik keuntungan cukup besar yang diperoleh setiap hari dari berjualan pakaian bekas itui, Sundari tampak memendam kekhawatiran pada kelangsungan bisnisnya. "Katanya, impor pakaian bekas akan disetop. Wah repot kalau disetop. Banyak orang tidak bisa beli pakaian baru, mengapa disetop ? Bisnis ini juga menampung banyak tenaga kerja," kata dia sambil menunjuk sejumlah pelanggan dari luar kota yang membeli dalam jumlah banyak untuk dijual lagi. (Subakti A Sidik-53) |