logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 15 November 2002 Tajuk Rencana  
Line

Isyarat Bencana Alam Sudah Nyata

- Penyelamatan KA Dwipangga dari bencana tanah longsor Rabu dini hari mengingatkan kita pada peristiwa serupa sebelumnya. Pada tahun 70-an, seorang pria penduduk Bumiayu berhasil menyelamatkan KA malam yang meluncur ke arah Kali Keruh yang jembatannya runtuh. KA tersebut dapat dihentikan oleh pria itu yang pada tengah malam berlarian memapak KA sambil melambai-lambaikan tangan. Tak terbayangkan betapa dahsyat bencana yang menimpa KA sarat penumpang dari Jakarta itu andaikata terjerumus ke kali yang jembatannya runtuh diterjang banjir. Tak terbayangkan pula betapa hebat bencana yang menimpa KA Dwipangga dengan 400 penumpang andaikata menabrak gundukan lumpur dan batu yang membenamkan rel dan jembatan KA di Pekuncen.

- Tanah longsor di Pekuncen, Banyumas, itu sekaligus mengingatkan kita pada beberapa peringatan sebelumnya. Yaitu, peringatan tentang kemungkinan bencana alam di berbagai daerah di provinsi ini pada musim hujan tahun ini yang sudah turun. Yaitu, bencana banjir dan tanah longsor. Ada isyarat kuat terhadap kemungkinan itu. Yaitu, musim kemarau panjang tahun ini. Kemarau panjang menyebabkan ikatan tanah rapuh akibat terlalu lama kering. Banyak terjadi retakan panjang, terutama di pebukitan dan terlebih lagi di daerah yang gundul akibat penjarahan hutan oleh penduduk. Hujan yang turun bisa menyebabkan lereng-lereng bukit yang rapuh longsor. Apalagi di daerah seperti Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Purworejo yang memang rawan longsor.

- Gubernur Mardiyanto dalam sebuah dialog lewat radio awal pekan ini juga mengingatkan hal itu. Dari enam daerah eks karesidenan di provinsi ini, hanya Kedu yang tidak disebutkan rawan tanah longsor dan banjir. Beberapa kabupaten dan kota di lima wilayah eks karesidenan lain termasuk dalam peta daerah yang rawan bencana alam, terutama banjir. Daerah yang rawan banjir 199.427 ha yang terhampar di kawasan pantai utara dan selatan. Tujuh belas kabupaten dan satu kota, yaitu Semarang, termasuk daerah rawan bencana tanah longsor. Namun Kedu bukan berarti bebas bencana alam sepenuhnya. Kabupaten Purworejo dan Kebumen memiliki daerah rendah sangat luas yang setiap tahun menjadi pelanggan banjir sangat parah.

- Beberapa daerah Jateng malah sudah lebih dapat ''kiriman'' bencana alam yang lain. Yaitu, bencana angin ribut yang menghancurkan rumah-rumah dan bangunan lain. Blora, Magelang, Kudus, Klaten, dan Kota Semarang adalah beberapa daerah yang sudah ditimpa bencana angin ribut. Di Blora, sejumlah penduduk Kecamatan Kunduran, Kota, dan Sambong menderita rugi akibat angin puyuh yang merobohkan rumah, sebagian lagi rusak parah, termasuk rontok gentingnya. Sejumlah penduduk di daerah Borobudur dan Mendut mengalami penderitaan serupa. Genting banyak rumah dan kios rontok diguncang angin puyuh. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Semarang pernah meramalkan angin ribut itu terjadi sampai pertengahan November ini.

- Pada pengujung tahun ini Jateng dihadapkan pada persoalan-persoalan cukup berat. Berbagai jenis bencana alam boleh dikatakan kejadian yang tidak bisa dielakkan. Banjir, tanah longsor, dan angin ribut bisa terjadi setiap saat. Sebagai contoh tanah longsor di Pekuncen, Banyumas, yang mengadang KA Dwipangga, terjadi pada tengah malam saat kebanyakan penduduk sudah tidur. Persis seperti runtuhnya jembatan Kali Keruh lebih dari seperempat abad lalu, yang juga terjadi pada tengah malam. Tanpa kesiagaan penduduk, bencana lebih besar bisa terjadi. Yaitu, KA yang melintas terguling. KA itu selamat berkat peran penduduk. Di sana kita melihat ketajaman penduduk menangkap isarat-isyarat tentang bahaya telah menyelamatkan banyak orang.

- Masalah lain kemungkinan masa paceklik lebih panjang. Akibat kemarau panjang tanam padi di berbagai daerah mundur. Misalnya di Tegal, Cilacap, dan Banyumas jika cuaca normal musim tanam padi biasanya mulai sekitar Oktober. Tahun ini tanam padi diperkirakan baru bisa dimulai November ini. Bahkan ada yang lebih mundur lagi karena hingga sekarang hujan belum turun. Hal itu dihadapi petani Wonogiri. Musim tanam mundur berarti mundur pula musim panen. Ada upaya mengatasi dengan menyediakan bibit padi yang berumur lebih pendek. Selain itu, petani biasanya menanam tanaman sela, terutama jagung, untuk mengatasi paceklik. Itulah gambaran masalah yang dihadapi. Untuk mengatasi tak akan lepas dari peran serta masyarakat.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA