logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 15 November 2002 Sala  
Line

Rehat

Menikmati Sate Khas Sri Aji Jayabaya

SUDAH biasa bagi perantau bernostalgia dengan menyicipi masakan khas daerah asal untuk mengobati rasa kangen. Itu pula yang menyebabkan aneka restoran atau warung yang menyajikan menu khusus khas daerah berdiri di mana-mana.

Makanan khas berbagai daerah pun saat ini tak sulit dicari di Solo. Coto makassar, bubur manado, empek-empek palembang, atau masakan padang bisa dijumpai di mana-mana.

Namun ada tak begitu gampang ditemukan di Solo. Barangkali cuma ada di tiga atau empat tempat. Makanan itu adalah sate ponorogo.

Di Ponorogo, warung sate terkenal berada di depan lokasi makam Sri Aji Jayabaya, Raja Kediri, yang dikenal dengan Jangka Jayabaya yang termasyhur.

Barangkali selama ini sate sate ayam yang dikenal adalah sate madura.

Dan, penjual sate madura tak terbilang lagi. Mereka gampang ditemukan nyaris di sembarang tempat.

Warung sate ponorogo yang sudah memasyarakat barangkali cuma di Jalan Monginsidi atau pojok Proliman menuju ke Stasiun Balapan. Penjual sate itu mudah dicari karena sudah mangkal puluhan tahun di kawasan itu.

Sate ponorogo Proliman kali pertama buka sekitar 25 tahun lalu. Sang penjual, Mangun Sibun, asli Ponorogo.

''Ciri khasnya ada pada bumbu dan cara membakar daging,'' kata Hanan, anak Mangun Sibun yang meneruskan usaha sang ayah.

Mangun hanya sesekali datang ke warung karena sudah tua. Dia lebih banyak di rumah. Semua urusan warung diserahkan ke anaknya itu.

Berbeda

Hanan yang dibantu saudara sepupunya, Amirnada, menuturkan perbedaan sate ponorogo dan madura ada pada bumbu sambal.

Bumbu seperti kunir, asam, bawang merah, dan bawang putih ditumbuk menjadi satu, sama dengan bumbu sate madura.

Yang membedakan, kacang sebagai bumbu utama sate tidak ditumbuk bersamaan dengan bumbu lain. ''Sate lain, bumbu kacang langsung dicampuri bahan lain dan ditumbuk menjadi satu agar bisa berkembang lebih banyak. Sate ponorogo tidak. Kacang ditumbuk sendiri, bumbu ditumbuk sendiri. Setelah lembut dicampur,'' tutur dia.

Daging ayam pun tak sekadar dibakar, tetapi harus diolesi cairan yang diberi bumbu seperti bumbu yang dicampur dengan kacang. ''Saat sate dibakar harus diangkat berkali-kali dan dicelupkan ke cairan bumbu. Kalau bumbu sudah meresap, tinggal pematangan. Hasilnya, sate ponorogo jauh lebih gurih ketimbang sate lain,'' kata Hanan.

Ciri khas lain adalah uritan (jerohan telur yang belum jadi) asli, tidak direkayasa seperti penjual sate lain yang kadang menggunakan uritan telur asli tapi palsu. Yaitu, kuning telur dikocok, direbus, dan dibungkus kulit tipis menjadi telur kecil-kecil.

Dia mengakui pada hari-hari biasa menyembelih paling tidak 35 ekor ayam kampung. Namun pendapatan pada Ramadan kali menurun, karena dia hanya menyembelih sekitar 20 ekor ayam.

Kelebihan sate ponorogo Proliman, kelezatan dfan adonan bumbu tak akan rusak bila dijadikan bekal makan ke luar kota atau dimakan di tengah perjalanan. ''Bumbu yang disertakan masih kering. Saat makan bisa diramu dengan dituangi air secukupnya. Ditanggung masih lezat,'' kata dia.

Hanan dan Amirnada mengaku tak menerapkan aji mumpung dalam penentuan harga. Harga tetap stabil dan terjangkau. ''Sepuluh tusuk sate campur telur atau daging murni hanya Rp 6.000 plus lontong. Meski berbagai kebutuhan terus naik, kami tetap menjual dengan harga rakyat.''

Karena harga terjangkau itulah warung sate ponorogo di Proliman bertahan puluhan tahun hingga kini dan tetap lebih gurih.(Bambang Seto-42g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA