logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 15 November 2002 Sala  
Line

Serambi

Pendidikan Makin Maju Peran Dongeng Melemah

DONGENG sebagai media ekspresi semakin tergusur dengan kehadiran televisi. Dengan visualisasi, televisi membuat dongeng menjadi jauh dari perhatian anak-anak.

''Selain media elektronik, dongeng semakin melemah saat dunia pendidikan semakin maju,'' ujar seniman dan budayawan Solo ST Wiyono SKar. Berikut perbincangan dengannya.

Bagaimana dongeng sebagai media ekspresi?

Dahulu dongeng untuk pengantar tidur anak-anak. Pendongeng mengungkapkan cerita yang menarik perhatian anak-anak. Seperti cerita si Kancil yang melegenda di Jawa, terutama di Jawa Tengah. Dan di Indonesia, banyak cerita atau legenda yang bisa dijadikan bahan dongeng.

Keberadaan dongeng dewasa ini?

Semakin tergusur. Banyak faktor yang mengakibatkan dongeng tersisih dari kehidupan anak-anak. Masuknya media televisi yang menampilkan cerita dengan visualisasi menarik perhatian anak-anak, juga mengakibatkan banyak dongeng divisualisasi lewat gambar.

Di samping itu, semakin langka lembaga pendidikan menjadikan dongeng sebagai media pendidikan. Karena dongeng dapat dijadikan sarana penanaman nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, dan tingkah laku.

Mungkin dongeng masih subur di pelosok-pelosok jauh dari jangkauan pendidikan dan media massa.

Mengapa demikian?

Saya pernah membaca sebuah penelitian tentang dongeng oleh Lembaga Lentera Alam di taman kanak-kanak (TK). Hasilnya, banyak TK mengurangi jam untuk mendongeng. Bila dahulu setiap hari guru selalu menyampaikan dongeng sebagai media pendidikan, sekarang hanya dua atau tiga hari setiap minggu.

Alasannya?

Tuntutan kurikulum dan keberadaan sekolah. Dongeng sudah tidak lagi dianggap bentuk media pendidikan budi pekerti, nilai-nilai kehidupan dan perilaku.

Kurikulum mewajibkan sekolah TK harus mengajarkan siswanya bisa membaca, menulis, dan berhitung. Apalagi di beberapa sekolah justru mengajarkan anak berbahasa Inggris dan mengoperasikan komputer.

Dongeng nyaris hilang dari peredaran. Meski diakui, dongeng memang sekadar media ekspresi lisan.

Apa upaya agar dongeng menarik?

Pendongeng baik memang harus mampu memvisualisasi cerita. Pendongeng harus sekaligus aktor dan dalang seperti dalam sebuah pergelaran wayang kulit. Kemampuan demikian akan membuat dongeng menarik.(Sri Wahjoedi-51j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA