
| Jumat, 15 November 2002 | Sala |
Sirap Pendapa Sasana Sewaka Sudah BocorKERATON- Usia bangunan Pendapa Sasana Sewaka Keraton Surakarta baru sekitar 15 tahun. Namun banyak genting sirap lapuk sehingga bocor saat hujan tiba. Bangunan itu didirikan kembali tahun 1987 setelah habis terbakar pada 1985. Semua konstruksi berbahan baku kayu jati dari hutan lindung Danalaya, Wonogiri. ''Ternyata baru sekitar 15 tahun sudah banyak yang keropos. Padahal, sebelum terbakar bahan yang sama pada konstruksi semua bagian sudah berusia ratusan tahun. Itu menandakan ada kelemahan serius dalam pengolahan bahan baku kayu yang perlu diperhatikan,'' kata Pengageng Parentah Keraton Surakarta Drs GPH Dipokusumo. Salah seorang putra dalem Sri Susuhunan Paku Buwono XII itu belum bisa menginventarisasi berapa titik kerusakan di bangunan induk Sasana Sewaka dan sayap-sayapnya, termasuk Bangsal Maligi, Paningrat, dan Prabasuyasa. Kini evaluasi dan inventarisasi dilakukan dengan melihat titik kebocoran selama hujan turun akhir-akhir ini. Dia menyatakan sekalipun keaslian bangunan Sasana Sewaka dikembalikan dengan bahan kayu jati, ternyata sisi ketahanan belum terjamin. Padahal, kayu jati dari hutan sengkeran keraton di Danalaya termasuk kayu pilihan berusia puluhan hingga ratusan tahun. Berdasar pengamatan dia, kelemahan daya tahan kayu baru itu terdapat pada proses pengawetan. Pengambilan kayu jati pada masa lalu di hutan yang sama dilakukan melalui proses alami dalam kurun masa yang panjang, sedangkan untuk pembangunan kembali Sasana Sewaka 1987 hanya dengan proses mekanis dalam waktu relatif singkat. ''Ternyata dengan pengawetan secara alami, misalnya dideres dan didiamkan beberapa waktu, lalu direndam cukup lama, jauh lebih awet, tahan hama dan cuaca. Ini juga untuk pengambilan keputusan ke depan, mana yang bisa diganti dengan besi dan mana yang dipandang perlu tetap dipertahankan dengan kayu.'' Lebih Realistis Secara terpisah pemimpin Badan Pengelola Keraton Surakarta KP Edy Wirabhumi SH menyatakan perbandingan yang diungkapkan Gusti Dipo (panggilan akrab Drs GPH Dipokusumo-Red) bisa membuat kita lebih realistis dan berpikir rasional untuk merenovasi dan merevitalisasi keraton. Tidak semua bangunan di keraton memenuhi syarat dikembalikan persis sesuai dengan yang asli. Apalagi bila terbentur pada keterbatasan dana dan harus tergantung pada pihak lain. Namun, kata suami Dra GRAy Koes Moertiyah itu, idealnya ada evaluasi rutin, minimal setiap lima tahun, terhadap semua bangunan keraton.(won-51g) |