
| Jumat, 15 November 2002 | Berita Utama |
Khozin Minta Adiknya Menyerah
LAMONGAN-Tekanan fisik dan mental yang terus mendera keluarga besar Haji Nur Hasyim-Hajjah Tariyem, orang tua Amrozi, tersangka kasus peledakan bom di Bali, dari hari ke hari makin berat. HM Khozin, salah seorang kakak Amrozi, meminta adiknya, Ali Imron, yang juga kini sedang diburu polisi, segera menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib. Sebab, berdasarkan pengakuan Amrozi di hadapan Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar di Denpasar kemarin, dari kalangan keluarganya hanya Ali Imron yang terlibat rencana peledakan bom di Bali. Sedangkan anggota keluarga lain tak tahu-menahu mengenai aksi pengeboman yang mengakibatkan 185 jiwa melayang. "Karena itu, hendaknya Ali Imron segera menyerahkan diri kepada polisi," kata HM Khozin kepada wartawan di rumahnya Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Kamis. Selain Khozin, seruan serupa disampaikan Pemimpin Pondok Al-Islam Ustaz Zakaria. Dia mengingatkan Ali Imron untuk mengambil sikap serupa yang dilakoni Amrozi. Yakni secara jantan menyerahkan diri kepada polisi dan mengungkapkan secara jujur apa yang sudah diperbuat terkait aksi peledakan bom di Bali. "Ya biar keadaannya bisa tenang dan polisi bisa bekerja untuk kepentingan lain, tak sekadar persoalan ini. Langkah kayak Amrozi itu jauh lebih baik, jantan, dan bertanggung jawab," tuturnya. Ali Imron merupakan saudara kandung Amrozi yang kini menjadi buron polisi, karena diduga tahu rencana aksi pengeboman yang dilakukan Amrozi. Selain itu, dia diperkirakan mengerti senjata api dan amunisi apa saja yang dimiliki Amrozi serta disimpan di mana saja. "Kan lebih baik menyerah daripada keberadaannya terganggu intelijen kiri-kanan. Pokoknya, tirulah langkah Amrozi, itu jauh lebih baik," tambah Ustaz Zakaria yang juga alumnus Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Sukohardjo, Solo, Jateng ini. Khozin juga mengingatkan anggota keluarga yang tak terkait kasus Amrozi dan kini melarikan diri keluar dari Tenggulun untuk segera kembali ke rumahnya. Sebab, kalau memang mereka tak bersalah, karena tak ikut-ikutan dalam aksi yang dilakoni Amrozi, tentu polisi tak akan menyeretnya. Sampai sekarang, lanjut dia, keluarganya belum terpikirkan untuk membezuk Amrozi yang ditahan di Polda Bali. "Belum, karena kondisinya belum memungkinkan. Rasanya getaran jiwa dan shock-nya keluarga saya atas terjadinya peristiwa ini belum hilang," katanya. Mengenai kepergian Ali Imron sejak Amrozi ditangkap Selasa (5/11) lalu, Khozin menyatakan yang bersangkutan tak pamit pada salah satu anggota keluarganya. Hal senada dikemukakan Ustaz Zakaria. Orang pertama di Pondok Al-Islam ini mengatakan, pada Selasa (5/11) pagi dia melihat Ali Imron masih di lingkungan pondok. Namun setelah Amrozi ditangkap Selasa siang, yang bersangkutan langsung menghilang dan tak kembali lagi ke pondok.
Mengenai Peralon Ditanya mengenai masalah peralon yang ditemukan di pondok itu, Zakaria mengakui, mungkin saja dirinya kecolongan. "Bisa saja kami kecolongan. Apalagi di pondok kami tak ada alat deteksi dan sensor. Amerika Serikat saja yang memiliki alat deteksi canggih bisa kecolongan. Buktinya, gedung WTC roboh diserang teroris," katanya. Namun dia menegaskan, tak selayaknya pihak lain mengaitkan pondoknya dengan aksi kaum teroris di Indonesia dan negara lain. "Apabila ada orang mengatakan pondok kami dikaitkan teroris, itu hak dia, tapi kan tak ada bukti. Selain itu, jangan klasifikasikan pondok kami dengan Islam garis keras. Tak ada Islam garis keras, Islam itu lembut dan lunak," katanya. Kemarin juga sempat berembus isu Departemen Agama (Depag) Lamongan akan meneliti ulang perizinan Pondok Al-Islam. HM Khozin selaku Ketua Yayasan Al-Islam menyatakan, silakan Depag meneliti keberadaan dan perizinan Pondok Al-Islam. "Kami memiliki surat izin dari Depag," katanya. Pada tahun 2000 Yayasan mengajukan proposal kepada Depag untuk meminta izin operasional pondok ini. Namun sampai sekarang proposal itu belum dijawab. Yang jelas, Pondok Al-Islam secara ideologi tak bertentangan dari pemerintah dan pendiriannya tak ditujukan untuk merongrong kekuasaan dan kewibawaan pemerintah. Karena itu, adalah fitnah jika ada pihak lain yang menyatakan Pondok Al-Islam berseberangan dengan pemerintah. Digeledah Sekitar pukul 14.00, sebanyak 8 polisi menggeledah rumah Alimah, saudara tua Amrozi. Targetnya untuk mencari Sumarno, anak Alimah yang juga paman Amrozi. Sebab, yang bersangkutan dinilai tahu dan mengerti rencana aksi peledakan bom Bali yang dilakukan Amrozi. Penggeledahan yang berlangsung sekitar 45 menit itu membuat Alimah gemetaran dan ketakutan. Berdasarkan suara dari dalam rumah Alimah selama penggeledahan berlangsung, ibu berumur sekitar 60 tahun itu dibentak-bentak petugas agar menyebutkan di mana Sumarno dan anggota keluarga lain yang dicari polisi berada. "Saya ini takut Mas, karena setiap hari terus didatangi polisi dan dibentak. Saya nggak mengerti apa-apa, Mas," ujar Alimah yang tampak keluar keringat dingin sambil menggendong cucunya berumur sekitar setahun. Kakak sulung Amrozi yang mulai tampak menua itu menambahkan, dari penggeledahan yang dilakukan polisi di rumahnya, mereka membawa 5 foto Sumarno. Paman Amrozi yang juga menjadi staf pengajar Pondok Al-Islam ini, kata Alimah, sejak 4 hari lalu tak berada di rumah, keluar entah ke mana tujuannya. "Benar, saya nggak tahu ke mana Marno pergi, saya takut," jelasnya. Selama ini, Alimah bertempat tinggal di rumah No 373 di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan. Rumah bercat putih yang kusennya bercat biru dan pintu terbuat dari tripleks warna cokelat itu secara fisik sangat sederhana. Kendati sebagian besar bangunannya terbuat dari batu bata, tapi kondisi fisik rumah Alimah tak begitu bagus. Rumahnya biasa-biasa saja. Alimah selain sebagai ibu rumah tangga, juga membuka kios kecil di depan rumahnya. Kios bercat merah dan hijau itu menjual barang kebutuhan sehari-hari. Barang lain yang dijual adalah pakaian jadi, seperti baju batik Solo, baju takwa, mukenah, dan kerudung. Dari keterangan pada kertas yang menempel di warungnya, sistem penjualan baju siap pakai itu secara kontan atau membayar di belakang dengan tempo paling lama sebulan. Sementara itu, ada dua anggota Tim Pencari Fakta (TPF) Aliansi Solidaritas untuk Muslim (ASM) mulai kemarin terjun ke Desa Tenggulun. Kedua anggota TPF ASM itu adalah KR Agus Joyo SW dan Ustaz Munasikin. Menurut Agus Joyo, TPF ini bertujuan mencari data yang benar, valid, dan jujur mengenai keterlibatan Amrozi dalam kasus peledakan bom Bali dan dikaitkannya Pondok Al-Islam dalam kasus tersebut. "Jadi, kalau nanti berdasar temuan kami, Amrozi memang bersalah dalam kasus itu, ya kami katakan bersalah," ujarnya kepada wartawan di Pondok Al-Islam. Fokus kerja TPF ASM adalah Pondok Al-Islam dan keluarga Amrozi. Selain itu, tentu lokasi-lokasi yang terkait dengan kasus Amrozi. Misalnya, lokasi penemuan bom di hutan jati Dadapan. "Keberadaan kami sifatnya tak terbatas, bisa satu, dua minggu, atau lebih dari itu," ujarnya. Agus Joyo yang asli Jember Jatim ini menegaskan, hasil kerja TPF ASM ini nanti juga akan diberikan kepada tim TPM yang membantu kasus Amrozi dan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir, yang di dalamnya melibatkan pengacara kondang Adnan Buyung Nasution dan Moh Assegaf. "Kemarin (Rabu) Bang Buyung dan Pak Assegaf menelepon kami untuk meminta data. Tapi, karena kami belum terjun ke lapangan, ya kami belum bisa beri," jelasnya. Sebelum terjun ke Tenggulun, tim TPF ASM sempat bergerak di Bali. Mereka berada di sana selama 2 hari. Sayangnya, saat di Pulau Dewata itu, mereka tak sempat bertemu dengan Amrozi yang ditahan di Polda Bali. "Kami ingin data yang sejujur-jujurnya. Misalnya, mengenai penemuan amunisi dan senjata api, belum tentu kedua barang berbahaya itu milik Amrozi. Sebab, Amrozi belum pernah mengakui secara langsung yang didampingi pengacaranya bahwa barang berbahaya tersebut miliknya," tegas Agus Joyo. Minta Kurma Sementra itu, juru bicara Tim Investigasi Bom Bali Brigjen Pol Edward Aritonang kepada wartawan dalam jumpa pers di Mapolda Bali, Denpasar, Kamis, mengatakan, aneh-aneh saja Amrozi. "Meski diancam hukuman mati, dia tampak santai. Bahkan, kepada polisi dia tak segan-segan meminta sesuatu. Setelah minta agar istrinya datang ke Bali, kini dia minta buah kurma." Atas permintaan itu, polisi pun segera membelikannya. "Amrozi ingin bertemu pihak keluarga dan minta buah kurma. Untuk buah kurma, sudah kami sanggupi dan sudah diberikan kemarin malam," jelasnya yang disambut senyum oleh para wartawan. Pada saat yang sama, Kapolda Bali Irjen Pol Budi Setyawan menyatakan, sudah menyiapkan personelnya untuk acara Pemarisudha Karipubhaya Tawur Agung, Tawur Gentuh, dan Pakelen di Legian, Kuta, yang akan digelar Jumat ini. Acara ini akan disiarkan secara langsung oleh semua stasiun televisi. Dalam rangka ini, 800 personel Brimob akan dikerahkan untuk menetralisasi tempat upacara. Selain itu, 100 personel Brimob akan disiagakan untuk melakukan pengamanan upacara di Ring 1. Sebanyak 800 personel Brimob juga disiagakan untuk menjaga tempat parkir. Tidak hanya itu, Kapolda Bali juga sudah memerintahkan anggotanya menjaga keamanan secara khusus para duta besar yang hadir dalam acara itu. Untuk menjaga dubes dan tamu asing, Polda Bali mengerahkan 300 anggota Brimob. Sementara itu, pemberitaan Amrozi sedang tertawa dan bergurau dengan Kapolri kemarin, membuat Menlu Australia Alexander Downer naik pitam. "Itu buruk dan mengerikan," kecam Downer. Downer mengatakan, dirinya merasa seperti halnya keluarga korban bom Bali saat melihat Amrozi bertingkah seperti itu dalam sebuah siaran televisi, Kamis pagi. "Saya pikir itu citra yang buruk," kata Downer saat diwawancarai di Canberra, seperti dikutip Sydney Morning Herald (SMH) edisi Kamis. "Saya melihatnya di televisi, tertawa, bercanda, dan melambaikan tangan." (ro-64t) | |||||