logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 15 November 2002 Karangan Khas  
Line

Puasa dan Rekreasi Spiritual

Oleh: Jabir Al Faruqi

SETIAP bulan Ramadan datang, penulis teringat pada seorang figur nyentrik. Dia adalah seorang spiritualis kelas tinggi. Orang awam menyebutnya maqamnya makrifat. Rasa ingat saya padanya begitu kuat karena perilakunya yang selalu nyleneh.

Dia tidak terlihat salat jamaah, tidak mau salat tarawih secara beramai-ramai. Dia juga tidak tertarik mengikuti ceramah keagamaan baik di televisi, musala, masjid atau di rumah penduduk. Perilakunya itu seringkali saya tentang, karena untuk ukuran umum tidak bisa menerima.

Sudah menjadi kebiasaan para spiritualis. Dia menjawab dengan enteng semua protes itu. Bagi saya, kata dia, bukannya tidak mau jamaah atau tarawih beramai-ramai. Yang menjadikan dia tidak mau adalah karena yang berbaris di saf-saf jamaah di masjid, musala atau kantor-kantor yang ditempati tarawih bersama hanyalah jasad atau badannya saja.

Pikiran, perasaan, hati nuraninya tidak ada di sana. Banyak mereka yang salat jamaah tetapi pikirannya tidak di masjid dan musala. Ada pula waktu mengerjakan salat hati dan pikirannya tertuju untuk mencuri sandal.

Ada yang bolak-balik pikirannya berputar bagaimana mencelakakan orang lain, mengalahkan orang lain, cepat kaya dengan mudah, dan bahkan ada pula yang selalu membayangkan perempuan lain yang dianggap memiliki kecantikan berlebih dari istrinya.

Masih menurutnya, para ahli agama kelihatannya menggebu-gebu memberikan pengajian di tempat-tempat manusia berkumpul tetapi tidak ada sedikit pun di hati para dai itu ingat akan akhirat pada saat berceramah.

Mereka kebanyakan diliputi oleh motif duniawi saat memberikan pengajian. Mereka sering memberikan pengajian pada orang lain tetapi sesering itu pula melupakan tanggung jawab pada keluarganya.

Mereka meminta orang lain semua berubah tetapi tidak mampu memberikan contoh kalau dirinya sudah mengalami perubahan menuju kebaikan. Para politikus, pejabat dan akademisi selalu memberikan solusi yang terbaik untuk mengatasi nasib bangsa ini di depan pengajian Ramadan, tetapi mereka lupa pula keruwetan bangsa ini tidak terlepas dari ulah mereka pula.

Lalu bagaimana dia bisa menerima wejangan spiritual kalau lingkungannya, pesertanya, yang memberikan pengajian tidak memiliki ingatan yang kuat tentang Tuhan dan akhirat?

Bagaimana dia akan mengikuti ceramah keagamaan kalau yang memberikan ceramah itu adalah orang yang bermasalah di negeri ini? Bagaimana harus berjamaah dengan jasad-jasad yang tanpa hati nurani dan pikiran itu?

Rasa jengkel penulis kemudian berubah menjadi rasa ingin tahu dan meneruskan dalam bentuk diskusi sengit. Pikiranku terpancing untuk bertanya dan berdebat. Bukankah agama membutuhkan siar. Agama membutuhkan kebersamaan, kemeriahan, semangat baru dan hal-hal yang memiliki daya tarik untuk publik?

Apakah mungkin agama akan berkembang dengan baik kalau orang-orang yang mengetahui agama beperilaku seperti Anda. Bersembunyi dan lari dari kenyataan.

Dia masih belum juga terpancing untuk marah. Jawabnya masih datar. Memang betul apa yang saudara kemukakan itu, sambungnya. "Tetapi saya melihat semangat keberagamaan setiap bulan Ramadan itu hanya semangat rekreatif. Itu hanya rekreasi spiritual saja. "

Dia katakan hanya rekreasi spiritual karena keindahan, keistimewaan, ketaatan, keteraturan, kedermawanan, kedisiplinan bekerja dan menegakkan aturan beragama itu hanya ada di bulan Ramadan. Setelah itu tidak ada lagi.

Musala, masjid, kajian-kajian keagamaan menjadi sepi. Kedermawanan, kedisiplinan, ketaatan kepada hukum semakin mengendur. Korupsi dilakukan hampir semua pejabat negara. Padahal mereka banyak yang muslim. Mereka salat tarawih di bulan Ramadan dan selalu berkata ingin membela rakyat.

Ini seperti orang yang berekreasi ke tempat-tempat yang indah. Kita sebut saja rekreasi ke Bali misalnya. Manusia hanya bisa merasakan keindahan pada waktu dia ada di sana dan setelah pulang atau berpindah tempat dia tidak mampu menciptakan dan merasakan keindahan itu lagi.

Penulis tidak tahu, dari mana dia memperoleh informasi berbagai kegiatan yang dilakukan manusia awam pada umumnya. Setahu penulis di rumahnya tidak ada televisi. Membaca koran juga tidak pernah. Rumahnya berada di tengah kebun dan diterangi dengan lampu minyak (teplok). Suara radio pun tidak pernah kedengaran. Namun yang jelas, pandangannya semakin lama semakin tajam dalam mengkritisi suasana.

Diskusi pun menjadi gayeng. Dia memberikan analisis (bahasanya orang akademik), sekarang ini kegiatan spiritual cenderung bersifat hiburan, serba wah dan serba promosi. Banyak pemilik tempat mewah menawarkan jasa untuk bisa tarawih di tempatnya dengan harapan agar dia dianggap tekun dan peduli terhadap kegiatan keagamaan. Setempel bahwa dia adalah orang saleh inilah sebenarnya yang dibutuhkan.

Kekhusukan membaca Alquran hanya ada di televisi dan kaset-kaset yang disiarkan lewat masjid. Rumah-rumah manusia menjadi sepi dari sinaran bacaan Alquran. Hati mereka gelap meskipun di sana-sini terdengar kemerduan suara orang membaca kitab suci. Mereka hanya mendengarkan sekenanya sambil lalu saja. Tidak ada kekhusukan hati dan kejernihan batin untuk benar-benar bisa mengatamkan bacaan Alquran dengan usaha sendiri. Manusia sekarang lebih suka menjadi penikmat daripada penggali kedalaman isi kitab sucinya.

Kegiatan-kegiatan pengajian di televisi pun harus dibungkus dengan artis-artis. Apakah yang menarik itu artisnya atau pengajiannya itu sendiri menjadi tidak jelas. Masih belum puas harus pakai kuis berhadiah pula.

Lalu di mana semangat tholabul ilmi-nya? Haruskah pengajian agama mesti dibarengi dengan kemeriahan duniawi seperti itu? Jangan-jangan yang diingat dan terpatri dalam kenangan manusia adalah para artis yang cantik dan seksi itu dan bukan isi pengajiannya.

Saudara yang katanya orang intelek cobalah diteliti, apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat?

Krisis sudah berjalan selama kurang-lebih empat tahun. Setiap tahun ada bulan Ramadan. Setiap bulan Ramadan disampaikan kiat-kiat jitu oleh orang-orang katanya otaknya encer-encer bagaimana bangsa ini agar cepat keluar dari krisis. Namun setiap tahun pula kita melihat peningkatan krisis semakin tidak tertolong.

Kalau tahun-tahun kemarin kita dikatakan negara yang banyak utang, SDM-nya rendah, kejahatannya tinggi dan anarkisme terjadi di mana-mana, kini tambah lagi sebutan bagi bangsa Indonesia yaitu bangsa teroris dan bangsa yang tidak memiliki integritas. Lalu di mana signifikansi kemeriahan acara Ramadan yang selalu anda banggakan tadi?

"Kalau aku boleh bertanya, fenomena apa yang terjadi sekarang ini, di mana manusia suka beramal kalau dilihat banyak orang, diberitakan di koran dan televisi. Apakah Allah sekarang ini semakin berkurang daya lihatnya sehingga manusia untuk beramal saja mesti harus disaksikan dan ditulis besar-besar di koran?" katanya.

Semua pertanyaan yang disebutkan oleh teman penulis di atas menjadikan saya harus berpikir ulang. Mungkin ada benarnya pikiran teman penulis tersebut. Sebab kalau kita amati selama ini gebyar Ramadan memang luar biasa.

Media massa sebagai tempatnya manusia modern berkomunikasi terutama televisi berusaha dan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dalam melayani masyarakat. Segala pernik-pernik yang melingkupi kehidupan manusia ini ingin dipotret secara sempurna lalu disuguhkan dengan sempurna pula.

Namun begitu selesai Ramadan seakan-akan semua ikhtiar manusia ini menjadi tak berbekas. Oleh karena itu di bulan Ramadan ini kita perlu mengadakan mujahadah kepada Allah dan melakukan muhasabah pada diri sendiri.

Apakah kita sudah bisa berpuasa, salat dan ibadah lainnya di bulan Ramadan dengan jiwa raga dan penuh keikhlasan atau belum. Semua yang bisa menjawab adalah diri kita masing-masing. (18)

- Jabir Al Faruqi Direktur Lembaga Studi Agama dan Pembangunan (LSAP).


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA